● online
Keris Brojol Pamor Kendit Cirebon Sepuh
Rp 3.000.000| Kode | F194 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Brojol, Keris |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Brojol |
| Pamor | : Kendit |
| Tangguh | : Cirebon |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Kayu Trembalo Iras |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Trembalo |
| Mendak | : Parijata Bahan Kuningan |
| Pendok | : Blewah, Bahan Kuningan |
Keris Brojol Pamor Kendit Cirebon Sepuh
Dhapur Brojol
Secara dhapur, pusaka ini tampak sederhana. Ia berdhapur Brojol — bilahnya lurus, polos, tanpa banyak ricikan. Hanya terdapat pejetan sederhana dengan gandhik yang lugas, tanpa hiasan sekar kacang, ganan, atau ornamen lainnya. Namun justru di situlah letak kejujurannya. Ia tampil apa adanya, tegas, lugas, dan jernih dalam makna.
Dhapur Brojol memang termasuk salah satu bentuk yang paling sering dijumpai. Pada masa lampau, dhapur ini banyak dibuat untuk kalangan rakyat, atau sebagai pusaka awal bagi mereka yang baru menapaki jalan kedewasaan spiritual. Tapi jangan salah — kesederhanaan bukan berarti tanpa makna. Setiap keris selalu membawa pesan dan nilai yang khas. Bila tidak pada bentuk dhapurnya, bisa jadi pada pamor, tangguh, atau garapnya. Karena dalam dunia tosan aji, tak ada keris yang benar-benar “tidak bernilai.” Yang ada hanyalah mata yang belum cukup peka untuk membacanya.
Pamor Kendit
Pamor Kendit adalah pamor yang tampak seperti garis atau sabuk yang melingkari bilah keris, sering dianggap sebagai pamor tiban—pamor yang muncul secara alami tanpa rekayasa empu. Kehadirannya dipercaya membawa daya perlindungan, menolak bala, serta menghadirkan rasa tenteram bagi pemiliknya. Dalam maknanya yang lebih dalam, bentuk Kendit melambangkan pengendalian diri, yaitu kemampuan menahan amarah, nafsu, dan ucapan agar seseorang tidak mudah goyah oleh keadaan. Pamor ini juga menjadi simbol kedewasaan batin, karena seseorang baru dianggap matang ketika mampu menimbang setiap langkah dengan tenang, tidak tergesa dalam mengambil keputusan, dan tetap teguh meski berada dalam situasi sulit. Selain itu, garis melingkar Kendit mengajarkan tentang batas, bahwa hidup harus dijalani dengan tidak berlebihan—cukup seperlunya, selaras dengan keadaan, dan sewajarnya agar hati tetap jernih. Keseluruhan makna ini menjadikan pamor Kendit bukan hanya sebagai penolak gangguan dan penguat kewibawaan, tetapi juga sebagai pengingat halus bahwa kekuatan sejati terletak pada sikap yang tertata, hati yang terjaga, dan laku hidup yang penuh pengendalian.
Tangguh Cirebon
Kalau kita menyebut Cirebon, banyak orang sekarang mungkin langsung teringat pada hal-hal yang berbau mistis.
Padahal, di masa lalu Cirebon adalah kota pelabuhan besar dan kerajaan pesisir yang termasyhur, tempat bertemunya berbagai kebudayaan besar — Jawa, Sunda, Arab, Tionghoa, hingga Eropa.
Namun seiring waktu, kejayaannya seolah terkubur oleh kisah-kisah gaib dan legenda yang berkembang di masyarakat.
Berbagai cerita tentang pusaka-pusaka keraton pun kerap dibumbui oleh hal-hal yang sulit diverifikasi.
Menariknya, dalam sejarahnya, para Raja Kesultanan Cirebon tidak pernah menyebut secara jelas apa saja pusaka yang mereka miliki.
Dalam catatan keraton, hanya disebut secara umum bahwa peninggalan leluhur mereka berupa keris, tombak, dan kujang.
Beda dengan keraton lain seperti Yogyakarta yang punya Keris Kyai Joko Piturun sebagai simbol legitimasi kekuasaan,
di Cirebon, suksesi kekuasaan tidak pernah menggunakan pusaka sebagai tanda sah naiknya seorang raja.
Meski begitu, tetap ada pusaka inti yang disakralkan dan tidak diperlihatkan kepada publik,
serta pusaka umum yang kini sebagian disimpan di museum keraton.
Maka bisa dibilang, sebuah keberuntungan besar bila kita masih bisa menemukan jejak-jejak kejayaan masa lampau yang tersisa.
Keraton Kacirebonan, misalnya, tidak memiliki banyak pusaka yang tersimpan utuh di lingkungan keraton.
Sebagian besar justru bertebaran di masyarakat.
Hal ini tak lepas dari peristiwa tahun 1960, saat diberlakukannya Undang-Undang Swapraja.
Kala itu pihak keraton sempat mengira bahwa sistem kerajaan akan dibubarkan,
sehingga untuk mengantisipasi, dilakukan pembagian warisan — termasuk tanah-tanah sultan ground dan pusaka-pusaka keraton kepada para ahli waris.
Dan dari situlah, sebagian pusaka Cirebon akhirnya tersebar,
menjadi saksi bisu perjalanan panjang sebuah peradaban besar di pesisir utara Jawa yang kini tinggal jejaknya,
namun tetap menyisakan aura kebesaran dan wibawa sejarah yang sulit dilupakan.
F194
Keris Brojol Pamor Kendit Cirebon Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 3.066 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Brojol Pamor Wengkon Isen Raja Kamkam Keris ini memiliki dhapur Brojol, salah satu dhapur keris lurus yang erat dengan filosofi kelahiran dan awal kehidupan. Nama Brojol menggambarkan proses lahirnya manusia ke dunia, sehingga menjadi pengingat tentang kerendahan hati, kepasrahan, dan kesadaran akan asal kehidupan. Brojol juga dimaknai sebagai harapan agar setiap urusan dapat mbrojol,… selengkapnya
Rp 4.500.000DHAPUR TILAM UPIH Tilam Upih secara harfiah berkaitan dengan tilam atau alas untuk beristirahat dan upih, yaitu pelepah pinang. Secara filosofi, nama ini dapat dimaknai sebagai landasan, ketenteraman, dan kesederhanaan. Manusia diingatkan untuk memiliki pijakan yang baik agar dapat menjalani kehidupan dengan tenang dan tidak berlebihan. PAMOR TEJO KINURUNG Tejo Kinurung dapat dimaknai sebagai cahaya… selengkapnya
Rp 5.500.000Dhapur Tilam Sari Menurut cerita pitutur lisan, salah satu wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih kemudian pasangannya adalah Tilam Sari. Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka, disaat prihatin dan… selengkapnya
Rp 3.300.000Keris Gumbeng Tangguh Tuban Sepuh Gumbeng adalah salah satu dapur Keris yang sangat sederhana. Memiliki ricikan seperti Kebo Lajer, tetapi bilahnya lebih lebar. Gandik panjang dan umumnya berasal dari tangguh sepuh seperti era Pajajaran atau Tuban. Istilah Gumbeng, selain untuk menyebut dapur Keris, juga merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional masyarakat Jogjakarta, terutama di wilayah… selengkapnya
Rp 4.500.000Keris Megantara Kinatah Emas Pusaka yang betul-betul istimewa. Saya, dengan prejengan remukan karak seperti ini, merasa sangat beruntung dapat menanting dan merawatnya hingga hari ini. Jika kita amati bersama, pusaka ini tampil dengan pasikutan yang prigel, memiliki aura wingit, serta bentuk yang proporsional. Ornamen kinatah yang terukir hampir di seluruh bilahnya menjadi keistimewaan tersendiri. Hal… selengkapnya
Rp 65.000.000Keris Pusaka Sengkelat: Simbol Kesatria dan Peralihan Zaman Kepopuleran keris Sengkelat tidak dapat dilepaskan dari latar sejarah politik masa lalu, terutama ketika kejayaan Majapahit mulai meredup. Dalam berbagai babad, terdapat dua versi mengenai asal-usulnya. Versi pertama menyebut bahwa keris ini dipesan oleh Sunan Ampel kepada Mpu Supo, sementara versi lainnya mengatakan bahwa pemesannya adalah Sunan… selengkapnya
Rp 70.000.000Keris Singa Barong Luk 11 Kinatah Emas Keris Singo Barong memiliki ciri khas yaitu gandhiknya diukir hiasan singa dengan kelamin yang tegang sebagai simbol kejantanan. Motif singa pada gandhik Keris Singo Barong tampak mirip dengan kilin, yaitu arca binatang mitologi penunggu gerbang dalam budaya China yang banyak terdapat di klenteng. Artinya, hal itu menunjukkan adanya… selengkapnya
Rp 55.000.000Dhapur Brojol Dalam masyarakat yang memandang keris dari sisi esoteri, dhapur keris Brojol sering dikaitkan dengan tuah yang dipercaya dapat “memperlancar kelahiran jabang bayi.” Karena itu, sebagian orang menganggap keris ini hanya cocok bagi mereka yang berprofesi sebagai dukun bayi. Benar atau tidaknya kepercayaan itu tentu hanya Tuhan yang mengetahui. Namun kenyataannya, banyak pula masyarakat… selengkapnya
Rp 4.000.000DHAPUR SEMPANER Sempaner merupakan salah satu nama dhapur dalam tradisi perkerisan Jawa. Secara filosofis, nama ini dapat dimaknai sebagai simbol keteguhan, kesungguhan, dan kemampuan menjaga pendirian. Piwulangnya mengingatkan agar manusia tetap memiliki arah dan prinsip dalam menjalani kehidupan. PAMOR WOS WUTAH Wos Wutah secara harfiah berarti beras yang tumpah. Beras merupakan simbol pangan dan kecukupan… selengkapnya
Rp 2.500.000


















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.