● online
Keris Waluring Luk 15 Kalawijan
Rp 10.000.000| Kode | P203 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Kalawijan, Keris, Waluring |
| Jenis | : Keris Luk 15 |
| Dhapur | : Waluring |
| Pamor | : Keleng |
| Tangguh | : Mataram Amangkurat |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Kayu Trembalo Aceh |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang |
| Mendak | : Widengan Bahan Kuningan |
| Pendok | : Blewah, Bahan Mamas |
Keris Waluring Luk 15 Kalawijan
Keris Waluring Luk 15 Kalawijan
Pusaka ini hadir dengan busana Gayaman gagrak Surakarta yang dibuat dari kayu trembalo Aceh lawasan. Meski berusia tua, kondisinya masih sangat terjaga. Serat trembalo tampak tegas, nginden, dan memberi kesan estetis yang kuat pada keseluruhan wadag pusaka. Gaya busananya semakin lengkap dengan pendok mamas model blewah Surakarta yang menjadi penutup gandarnya. Jika diamati, busana ini tampil sangat wangun, mriyayeni, serta memiliki daya pesona yang ndudut ati.
Pusaka ini merupakan dhapur Kalawijan Waluring, berluk 15—salah satu varian luk yang sangat jarang ditemukan. Bilahnya berpenampilan keleng, dengan kategori tangguh Mataram Amangkurat.
Kelangkaan Dapur Waluring
Dapur Waluring termasuk dhapur yang sangat jarang dijumpai, baik secara fisik maupun dalam penelusuran referensi klasik. Upaya riset yang dilakukan melalui serat-serat lama hingga buku-buku modern tentang keris menunjukkan bahwa pembahasan mengenai Waluring umumnya sebatas pada ricikan teknis, tanpa penjelasan komprehensif mengenai makna dan konteks sejarahnya.
Dalam buku Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar karya Haryono Haryoguritno, Waluring disebutkan memiliki ricikan sekar kacang, jalen, pejetan, dan sogokan rangkap. Disebut pula bahwa bentuk luk-nya antara 11, 13, hingga yang paling langka: luk 15, sebagaimana pada pusaka ini.
Salah satu hal unik dari Waluring adalah tidak adanya lambe gajah pada bagian gandik. Padahal, keris dengan ricikan sekar kacang pada umumnya hampir selalu memilikinya. Gandik yang polos memberi kekhasan tersendiri—menjadikan pusaka ini berbeda dari pola umum dan sangat menarik secara struktur ricikan.
Makna Nama Waluring dan Jejak Historis Caluring
Secara etimologis, kata waluring dalam bahasa Jawa mengarah pada pengertian lapisan luar, kulit pelindung, atau bagian penutup terluar. Namun menariknya, sebagian masyarakat menyebut dhapur ini dengan istilah Caluring.
Nama Caluring mengingatkan pada tokoh rakyat Jawa kuno—seorang pencuri cerdik yang mengambil harta dari golongan kaya atau pejabat kolonial untuk dibagikan kepada rakyat miskin. Sosok ini dianggap licik oleh penguasa, tetapi pahlawan bagi rakyat kecil. Ia memiliki kecerdikan, strategi halus, dan ketepatan bertindak.
Kisah Caluring bahkan kerap dikaitkan dengan masa muda Raden Said—yang kelak dikenal sebagai Sunan Kalijaga. Dalam beberapa literatur, termasuk penelitian modern, beliau disebut pernah dijuluki Maling Caluring. Pilihan “jalan pencurian” tersebut bukan karena tabiat buruk, tetapi sebagai bentuk protes sosial terhadap ketidakadilan pada masa Majapahit. Pertemuan Raden Said dengan Sunan Bonang menjadi titik baliknya—mengubah strategi pemberontakan menjadi jalan spiritual dan penyebaran ilmu.
Dari konteks ini, dhapur Waluring atau Caluring menyimpan nilai simbolik:
- kecerdikan yang terarah
- strategi yang halus
- kemampuan bertindak tepat tanpa menonjolkan diri
- perlindungan terhadap yang lemah
- keberanian menentang ketidakadilan
Sehingga nama Waluring bukan sekadar sebutan struktural, tetapi menjadi harapan—bahwa pemilik pusaka ini membawa kualitas kecerdikan yang bijak, menempatkan diri secara tepat, dan mampu menjadi pelindung dalam lingkungannya.
Pamor Keleng – Pemantapan Batin dan Kedalaman Garap
Bilah pusaka ini berpenampilan hitam mengilap tanpa pola pamor yang tampak, yang dikenal sebagai pamor keleng. Meski tampak polos, bilah tetap terbentuk dari material besi, baja, dan pamor yang ditempa melalui proses penggabungan lapisan-lapisan halus dalam takaran tinggi.
Pamor keleng kerap disamakan dengan pengawak waja, tetapi sejatinya berbeda.
Pamor keleng tetap memakai bahan pamor, hanya saja motifnya “disembunyikan”.
Pengawak waja dibuat tanpa pamor sama sekali dan mengandalkan kualitas baja murni.
Pada bilah sepuh seperti ini, pamor keleng merupakan ciri kesempurnaan tempa dan garap sang Empu. Ketebalan rasa estetiknya tampak pada kegarapan ricikan, kejernihan bilah, hingga proporsinya.
Dalam tradisi esoteri Jawa, pusaka berpenampilan keleng dipandang memiliki makna batin yang dalam. Warna hitamnya menandakan pengendapan rasa, kejernihan pikir, dan kematangan spiritual sang Empu.
Ada dua ajaran yang dapat dibaca dari pamor keleng:
1. Tuah yang tidak mudah dibaca
Hal ini menggambarkan bahwa pesan yang terkandung dalam pusaka tidak diperlihatkan kepada sembarang mata. Hanya mereka yang telah menep atau mengolah batinnya yang mampu memahaminya.
2. Tuah yang bersifat menyeluruh dan adaptif
Layaknya warna hitam yang serasi dengan warna apa saja, pamor keleng merepresentasikan keluwesan dalam bersikap, kemampuan menyesuaikan diri dalam ragam situasi, namun tetap menjaga keteguhan prinsip.
Maka pamor keleng dapat dibaca sebagai simbol perjalanan batin seseorang:
mengendapkan diri, menajamkan kesadaran, bertindak secara jernih, dan menjadi pandita bagi dirinya serta lingkungannya.
Keris dhapur Waluring luk 15 dengan pamor keleng ini bukan hanya langka dalam bentuk fisiknya, tetapi memuat lapisan makna yang luas. Ia hadir sebagai karya empu yang matang, memiliki ricikan unik, dan membawa simbol kecerdikan yang dibingkai kebijaksanaan.
Pusaka ini tidak sekadar benda warisan, tetapi narasi historis dan spiritual—yang menuntun pemiliknya pada keluhuran sikap, kematangan batin, dan kebijaksanaan dalam memandang kehidupan.
P203
Keris Waluring Luk 15 Kalawijan
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 2.725 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sabuk Inten Keris Sabuk Inten adalah salah satu pusaka yang begitu populer dalam khazanah tosan aji. Popularitasnya tak hanya karena keindahan bentuk dan garapnya, tetapi juga karena kisah dan simbolisme yang melekat di baliknya. Dalam berbagai babad dan tutur, Sabuk Inten sering digambarkan sebagai pusaka para bangsawan—lambang kemuliaan, kemakmuran, kesuksesan, dan kejayaan. Namun, berbeda… selengkapnya
Rp 25.500.000Keris Sinom Robyong Kinatah Emas Keris Sinom Robyong adalah salah satu pusaka yang sarat makna, terutama dalam kaitannya dengan harapan, pertumbuhan, dan keseimbangan hidup. Nama sinom berasal dari kata “enom” atau “muda,” yang melambangkan semangat baru, kesegaran, dan permulaan yang dipenuhi harapan. Sementara itu, robyong berarti “berkembang,” “menyebar,” atau “memenuhi ruang,” layaknya tunas muda yang… selengkapnya
Rp 45.900.000DHAPUR SINOM ROBYONG Sinom Robyong memiliki banyak kesamaan dengan dhapur Sinom. Ricikannya antara lain sekar kacang, jalen, lambe gajah, pejetan, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, dan greneng. Yang membedakannya adalah adanya jenggot pada sekar kacang dan greneng susun. Kata sinom berarti pucuk atau daun muda. Karena itu, Sinom dapat dimaknai sebagai simbol masa pertumbuhan, semangat,… selengkapnya
Rp 4.500.000Keris Megantara Kinatah Emas Pusaka yang betul-betul istimewa. Saya, dengan prejengan remukan karak seperti ini, merasa sangat beruntung dapat menanting dan merawatnya hingga hari ini. Jika kita amati bersama, pusaka ini tampil dengan pasikutan yang prigel, memiliki aura wingit, serta bentuk yang proporsional. Ornamen kinatah yang terukir hampir di seluruh bilahnya menjadi keistimewaan tersendiri. Hal… selengkapnya
Rp 65.000.000Keris Brojol Tuban Dhapur Brojol merupakan dhapur keris lurus yang menekankan kesederhanaan bentuk dan keteguhan makna. Tanpa luk dan tanpa ornamen yang berlebihan, Brojol melambangkan kelugasan, kejujuran niat, serta kesiapan menapaki laku hidup dengan sikap terbuka dan apa adanya. Dalam tradisi tosan aji, dhapur ini kerap dimaknai sebagai simbol awal mula, kelahiran, dan kesiapan menghadapi… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Sempana Luk 11 Pamengkang Jagad Keris ini memiliki dhapur Sempana luk 11, salah satu varian Sempana yang dikenal sederhana, proporsional, namun relatif lebih jarang dijumpai dibandingkan Sempana luk 9, 13, maupun 17. Ricikannya berupa sekar kacang, jalen, lambe gajah, pejetan, dan greneng. Nama Sempana berasal dari supeno, yang bermakna harapan, impian, atau cita-cita. Karena… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Naga Sapta Luk 7 Pamor Keleng Naga merupakan salah satu binatang mitologis yang melegenda hampir di seluruh dunia. Sebagai makhluk mitologis perwujudannya pun akan tampak berbeda-beda, tak terkecuali Naga Jawa. Kisah-kisah tentang Naga di Pulau Jawa pada umumnya berintikan kisah-kisah mitologis mengenai tuntunan (pedoman nilai-nilai luhur) dan tontonan (divisualkan secara indah). Dalam rentang sejarahnya… selengkapnya
Rp 7.200.000Dhapur Sura Luk 9 Keris di belahan Nusantara ini secara umum memang memiliki dasar aspek yang sama. Namun pada beberapa daerah tertentu memiliki gaya atau style yang khas dan berbeda-beda. Salah satunya adalah keris dengan tangguh Bugis ini. Secara bentuk dasar ia tetap memenuhi aspek keris yang sama, namun secara khusus ia memiliki karakteristik yang… selengkapnya
Rp 3.500.000
























Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.