● online
Keris Dholog Luk 5 Cirebon Sultan Agung
Rp 2.500.000| Kode | TAG146 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Dholog, Keris |
| Jenis | : Keris Luk 5 |
| Dhapur | : Dholog |
| Pamor | : Wos Wutah |
| Tangguh | : Cirebon era Mataram Sultan Agung |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Kayu Trembalo Kuno |
Keris Dholog Luk 5 Cirebon Sultan Agung
Dhapur Dholog
Dholog adalah salah satu bentuk dhapur keris luk lima. Ukuran panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai gandik lugas, sogokan rangkap, tikel alis dan sraweyan. Ricikan lainnya tidak ada.
“Jati nom arane dholog”
Dholog berasal dari bahasa sansekerta yang artinya pohon jati muda. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada masanya. Ada masa dimana perjalanan hidup terasa begitu mudah, tapi ada juga saat Tuhan sengaja memberikan kita berbagai ujian seperti saat musim kemarau datang. Masa dimana segala sesuatu tampak berjalan begitu mudah, tetapi bisa berubah dimana banyak hal tiba-tiba menjadi begitu kering.
Salah satu proses yang selalu dialami oleh pohon jati setiap tahunnya adalah proses menggugurkan daun pada musim kemarau, sebagai salah satu bentuk penyesuaian diri (adaptasi) dengan lingkungan dan kondisi sekitarnya. Ketika musim kemarau datang pohon jati menggugurkan hampir seluruh daunnya. Dan dihadapkan dalam kondisi untuk mengikhlaskan dan membiarkan daun-daun itu jatuh ke bumi. Itulah hikmah yang Tuhan berikan melalui pohon jati.
Meski tanpa daun, pohon jati justru sedang menempa dirinya untuk sanggup bertahan dalam keterbatasan air dan teriknya cuaca serta menjadi salah satu pohon terbaik yang pernah ada. Dia tak akan mati. Ia bahkan sedang ”berpuasa” untuk tidak berkembang secara kasat mata. Ia melewati ujian itu dengan mengugurkan masalah yang ada di daun dan memperbaiki kulitas kayu di batangnya. Proses yang tidak mudah itulah yang menjadikan ia sebagai salah satu pohon terkuat di dunia. Tak lama setelah itu pohon jati kembali bersemi menumbuhkan daun-daun mudanya, dengan batang pohon yang menjadi semakin keras dan besar.
Perubahan bisa saja terjadi, musim kehidupan bisa berganti. Ada waktunya kita harus melewati masa-masa seperti itu. Bukannya Tuhan tidak akan pernah membiarkan kesusahan yang berkepanjangan pada umatnya? Itulah fase yang memang Tuhan izinkan untuk kita lewati. Saat masa penuh dengan cobaan tiba, percayalah bahwa bersama Dia, kita akan tetap sanggup melewatinya. Tuhan ingin menjadikan kita pribadi yang kuat dan tak tergoncangkan.
Semakin tua usia sebuah pohon jati maka kualitas kayu yang dihasilkan pun akan semakin baik. Demikian pula dalam hidup kita, semakin usia kita bertambah maka semakin kaya diri kita akan pengetahuan, bertambah kebijaksanaan dan semakin dewasa dalam menyikapi berbagai persoalan hidup. Dengan kata lain dengan bertambahnya usia diharapkan semua kualitas yang ada dalam diri kita juga semakin naik kelas.
Dalam esensinya, Dholog merupakan dhapur Keris dengan personifikasi dari sebuah kesejatian hidup, kesejatian tujuan, kesungguhan tekad, juga simbolisasi akan pengingat bahwa pemegang pusaka akan senantiasa mencari dan menemukan makna hidup di dunia, dan tidak mudah dipengaruhi dan diombang-ambingkan oleh hal-hal yang tidak baik. Sehingga tidak terlupa akan maksud dan tujuan hidup yang telah digariskan Tuhan Yang Maha Kuasa (Jati-Jatining Wong Urip). Karena makna dari nama “Jati” sendiri artinya adalah “Sejati / Kesejatian”.
Pamor Wos Wutah
Pamor Wos Wutah atau Beras Wutah, yang artinya beras tumpah, karena bercak-bercak kecil dan putih yang tersebar pada permukaan bilah, nampak seolah seperti beras yang tumpah berceceran. Pamor beras tumpah memiliki filosofi yang mendalam tentang arti rejeki yang melimpah.
Di sisi lain pamor beras wutah itu sendiri juga sebagai simbol pameling (pengingat) dalam mengarungi kehidupan berumah tangga antara suami-istri. “Beras tumpah jarang kembali ke takarannya“. Peribahasa ini menggambarkan sesuatu yang telah berubah, sulit untuk kembali seperti semula. Pitutur (pesan) yang terkandung didalamnya adalah supaya manusia hati-hati, karena kalau sudah terjadi perubahan akan sulit pulih seperti sediakala. Andaikan kita coba kumpulkan lagi, selain memakan waktu pasti ada yang tercecer juga, dan yang kita kumpulkan pun mungkin sudah jadi kotor.
Dalam menjalani hidup berumah tangga seyogyalah kita harus menjaga agar “beras tidak tumpah”. Mengapa harus dijaga? Kembali kepada filosofi “kalau beras sudah terlanjur tumpah” artinya respek yang didapat dari pasangan sudah tidak akan sama lagi, untuk pulih pun akan memerlukan waktu, dan “surga” dalam berumah tangga akan kehilangan salah satu pilarnya yakni kepercayaan.
Tangguh Cirebon era Mataram Sultan Agung
Kalau kita menyebut Cirebon, banyak orang sekarang mungkin langsung teringat pada hal-hal yang berbau mistis.
Padahal, di masa lalu Cirebon adalah kota pelabuhan besar dan kerajaan pesisir yang termasyhur, tempat bertemunya berbagai kebudayaan besar — Jawa, Sunda, Arab, Tionghoa, hingga Eropa.
Namun seiring waktu, kejayaannya seolah terkubur oleh kisah-kisah gaib dan legenda yang berkembang di masyarakat.
Berbagai cerita tentang pusaka-pusaka keraton pun kerap dibumbui oleh hal-hal yang sulit diverifikasi.
Menariknya, dalam sejarahnya, para Raja Kesultanan Cirebon tidak pernah menyebut secara jelas apa saja pusaka yang mereka miliki.
Dalam catatan keraton, hanya disebut secara umum bahwa peninggalan leluhur mereka berupa keris, tombak, dan kujang.
Beda dengan keraton lain seperti Yogyakarta yang punya Keris Kyai Joko Piturun sebagai simbol legitimasi kekuasaan,
di Cirebon, suksesi kekuasaan tidak pernah menggunakan pusaka sebagai tanda sah naiknya seorang raja.
Meski begitu, tetap ada pusaka inti yang disakralkan dan tidak diperlihatkan kepada publik,
serta pusaka umum yang kini sebagian disimpan di museum keraton.
Maka bisa dibilang, sebuah keberuntungan besar bila kita masih bisa menemukan jejak-jejak kejayaan masa lampau yang tersisa.
Keraton Kacirebonan, misalnya, tidak memiliki banyak pusaka yang tersimpan utuh di lingkungan keraton.
Sebagian besar justru bertebaran di masyarakat.
Hal ini tak lepas dari peristiwa tahun 1960, saat diberlakukannya Undang-Undang Swapraja.
Kala itu pihak keraton sempat mengira bahwa sistem kerajaan akan dibubarkan,
sehingga untuk mengantisipasi, dilakukan pembagian warisan — termasuk tanah-tanah sultan ground dan pusaka-pusaka keraton kepada para ahli waris.
Dan dari situlah, sebagian pusaka Cirebon akhirnya tersebar,
menjadi saksi bisu perjalanan panjang sebuah peradaban besar di pesisir utara Jawa yang kini tinggal jejaknya,
namun tetap menyisakan aura kebesaran dan wibawa sejarah yang sulit dilupakan.
TAG146
Keris Dholog Luk 5 Cirebon Sultan Agung
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 4.009 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Jalak Tilam Sari Sepuh Pamor Pedaringan Kebak Keris ini memiliki dhapur Jalak Tilam Sari, salah satu dhapur keris lurus dengan bentuk yang sederhana namun anggun. Ricikannya antara lain gandik lugas, tikel alis, pejetan, sraweyan, dan tingil. Nama Jalak Tilam Sari dapat dimaknai sebagai perlambang kehidupan rumah tangga yang tenteram, berkecukupan, dan memiliki kehormatan. Jalak… selengkapnya
Rp 15.000.000Keris Pasopati Pamor Wengkon Besi Hurap Keris Pasopati merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat populer. Karakteristik utamanya adalah bilahnya dengan permukaan nggigir sapi, serta beberapa ricikan khas seperti kembang kacang pogog, lambe gajah satu, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, greneng, ri pandan dan terkadang dilengkapi dengan gusen serta lis-lisan. Keberadaan dhapur Pasopati telah… selengkapnya
Rp 6.000.000Keris Pamor Sodo Lanang Sodo Sakler, Sodo adalah lidi, Sakler adalah satu batang, arti harafiahnya adalah Lidi Sebatang. Mungkin di setiap daerah berbeda penyebutannya, seperti ada yang menyebut adeg siji, sodo saren atau sodo lanang. Sesuai dengan namanya gambaran motif pamornya berupa garis lurus membujur sepanjang tengah bilah atau jika terdapat pada keris luk, garisnya membujur dari sor-soran hingga… selengkapnya
Rp 2.500.000Keris Sempono Pamor Junjung Derajat Sepuh Keris ini memiliki dhapur Sempana, salah satu dhapur keris luk 9 yang dikenal dengan bentuknya yang sederhana, proporsional, dan anggun. Nama Sempana dikaitkan dengan kata supana atau supeno, yang bermakna harapan, cita-cita, dan tujuan hidup. Karena itu, Sempana menjadi simbol perjalanan seseorang dalam meraih cita-cita dengan keteguhan, kesabaran, dan… selengkapnya
Rp 4.500.000Keris Kidang Soka Luk 11 Pamor Banyu Mili Dalam buku Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar karya Haryono Haryoguritno disebutkan bahwa Kidang Soka merupakan salah satu dhapur keris yang kaya ricikan. Pada umumnya, dhapur ini dilengkapi dengan sekar kacang, jalen, lambe gajah dua, tikel alis, pejetan, sraweyan, dan greneng, serta memiliki variasi luk seperti luk… selengkapnya
Rp 4.500.000Dhapur Tilam Upih Dhapur Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang cukup dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Nama Tilam Upih kerap dikaitkan dengan gambaran alas atau tempat beristirahat yang sederhana. Dalam pemaknaan tradisional, dhapur ini sering dihubungkan dengan harapan akan ketenteraman rumah tangga, keharmonisan keluarga, dan kecukupan dalam menjalani kehidupan. Filosofi tersebut mengingatkan… selengkapnya
Rp 3.700.000Keris Pandawa Lare Keleng Majapahit Keris ini memiliki dhapur Pandhawa Lare, salah satu dhapur keris luk 5 dengan ricikan berupa sekar kacang, jalen, lambe gajah, tikel alis, pejetan, sraweyan, dan greneng. Nama Pandhawa Lare diambil dari kisah masa kanak-kanak para Pandawa ketika bersama Dewi Kunti menjalani berbagai ujian kehidupan setelah lolos dari peristiwa Bale Sigala-gala…. selengkapnya
Rp 7.500.000Dhapur Sinom Sinom adalah salah satu dhapur keris lurus dengan ricikan antara lain sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, pejetan, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Sinom, dalam arti harfiah, merujuk pada daun pohon asem yang masih muda atau pada rambut halus di dahi—bathuk dalam bahasa Jawa—yang lembut dan tipis. Dari sifat alamiahnya, sinom melambangkan kelembutan,… selengkapnya
Rp 15.000.000Dhapur Jalak Ngore Keris dapur jalak ngore secara umum merupakan simbolisasi pencapaian kebahagiaan dan melepaskan dari segala permasalahan hidup ( terkait dengan nafkah). Burung Jalak menurut pandangan orang jawa : Kukila Tumraping tiyang Jawi, mujudaken simbul panglipur, saget andayani renaning penggalih, satemah saget ngicalaken raos bebeg, sengkeling penggalih. Candrapasemonanipun : pindha keblaking swiwi kukila, ingkang… selengkapnya
Rp 3.500.000






























Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.