● online
- Keris Nagasasra Kinatah Emas Kamarogan....
- Keris Sengkelat Kinatah Emas 9 Wadana....
- Keris Mesem Pamor Wengkon Isen....
- Keris Kelap Lintah Pamor Singkir....
- Kaos LEGOWO Tanpa Sambat....
- Keris Brojol Dwi Pamor Sepuh....
- Keris Jalak Nyucup Madu Pamor Wengkon Isen....
- Keris Sempaner Pamor Junjung Derajat....
Keris Nagasasra Luk 11 Kinatah Emas Mataram Amangkurat
Rp 110.000.000| Kode | P230 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Nagasasra |
| Jenis | : Keris Luk 11 |
| Dhapur | : Nagasasra |
| Pamor | : Keleng |
| Tangguh | : Mataram Amangkurat |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Kayu Cendana |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang |
| Pendok | : Blewah, Bahan Perak Hias Permata |
| Mendak | : Perunggu Lawasan |
Keris Nagasasra Luk 11 Kinatah Emas Mataram Amangkurat
Nagasasra Dhapur Keris Legendaris
Dari sekian banyak dhapur yang dikenal dalam dunia perkerisan, Nagasasra menempati posisi istimewa. Namanya melegenda—dikenal bukan hanya di kalangan pecinta tosan aji, tetapi juga oleh masyarakat luas yang mungkin tidak begitu akrab dengan dunia pusaka. Setiap kali nama-nama besar keris disebut, Nagasasra hampir selalu menjadi bagian dari pembicaraan.
Salah satu penyebab termasyhurnya nama ini ialah kisah legendaris “Nagasasra dan Sabuk Inten” karya S.H. Mintardja. Roman silat yang pertama kali diterbitkan tahun 1966 oleh Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat Yogyakarta ini sebelumnya dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kedaulatan Rakyat sejak 13 Agustus 1964. Cerita petualangan Mahesa Jenar dalam mencari dua pusaka hilang dari perbendaharaan Istana Demak — Nagasasra dan Sabuk Inten — berhasil menghidupkan kembali bayangan masa lampau yang sarat dengan sejarah, spiritualitas, dan mitologi. Sejak saat itu, nama Nagasasra seolah hidup abadi dalam imajinasi masyarakat Jawa.
Namun menariknya, di balik popularitas nama tersebut, hanya sedikit yang benar-benar memahami bentuk, nilai filosofis, serta jejak sejarah yang menjadikan pusaka ini begitu dihormati. Sebab Nagasasra bukan sekadar nama, melainkan lambang keagungan budaya, keteguhan batin, dan spiritualitas tinggi dalam dunia perkerisan Nusantara.
Ricikan Keris Nagasasra
Sebagai bagian dari keluarga dhapur naga, Nagasasra menempati kedudukan paling istimewa dan paling banyak diburu kolektor maupun pecinta tosan aji. Secara pakem, dhapur ini memiliki ciri khas berupa ornamen kepala naga bermahkota di gandik, dengan tubuh dan ekor naga menggeliat mengikuti alur luk bilah. Hiasan sraweyan dan greneng sungsun mempertegas keanggunan bentuknya.
Kinatah Emas Keris Nagasasra
Haryono Haryoguritno dalam Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar menjelaskan bahwa ragam hias pada keris sering mengambil bentuk tumbuhan (lung-lungan), hewan, kaligrafi, hingga figur manusia seperti wayang. Untuk motif tumbuhan dikenal variasi seperti lung patra, lung kembang setaman, lung terate atau padma, hingga lung kamarogan. Sedangkan motif hewan biasanya melambangkan kekuatan simbolik seperti gajah, singa, kijang, atau banteng — yang masing-masing mengandung makna spiritual tersendiri.
Pada keris Nagasasra bertinatah emas, keindahan ragam hias itu mencapai puncaknya. Selain naga yang melingkar di bilah, tampak pula motif lung kamarogan yang menambah kemegahan pusaka. Di bagian bawang sebungkul sering dijumpai ornamen kijang yang menoleh ke belakang, sementara pada wuwungan gonjonya terpahat kinatah Gajah Singa — motif langka yang sarat makna sejarah.
Kinatah Gajah Singa bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kejayaan Mataram pada masa Sultan Agung. Menurut catatan sejarah, motif ini berkaitan dengan peristiwa besar yang disebut “Gajah Singa Curigo Tunggal” — sebuah candra sengkala yang menandai berakhirnya pemberontakan Pragola di Pati. Dalam tafsir sengkala, gajah bermakna “raja hutan” bernilai 1, singa berarti “galak” bernilai 5, curigo berarti “tajam” bernilai 5, dan tunggal berarti “satu”. Jika dibaca terbalik, menghasilkan angka tahun 1551 Jawa atau 1629 Masehi — tahun di mana Sultan Agung menumpas pemberontakan Pragola II, sebagaimana dicatat oleh Dr. H.J. de Graaf.
Filosofi Nagasasra
Secara etimologis, naga berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti ular jantan, sedangkan sasra dari sahasra berarti seribu. Dalam Babad Tanah Jawi dan Babad Demak disebutkan bahwa Nagasasra — atau Kyai Segara Wedang — ditempa dari seribu pusaka Majapahit untuk menggantikan Kyai Condong Campur, sebagai lambang penyatuan kekuatan dan penangkal seribu bencana yang kala itu mengancam negeri.
Angka seribu dalam tradisi Jawa bukanlah angka pasti, melainkan perlambang kebesaran dan kesempurnaan. Ungkapan seperti bolo sewu atau widodari cacah sewune kurang siji menjadi penanda jumlah yang besar dan luhur.
Lebih dalam lagi, kata sewu sering dihubungkan dengan awu (abu) — makna simbolis dari “kembali ke asal.” Di situlah terkandung ajaran sangkan paraning dumadi — asal dan tujuan segala ciptaan. Sangkan berarti mula, paran berarti tujuan, dan dumadi berarti sesuatu yang terwujud.
Makna terdalamnya adalah kesadaran untuk kembali — bahwa setiap kehidupan pada akhirnya akan pulang menuju Sang Sumber. Dalam pandangan makrifat Jawa, kematian bukanlah akhir yang menakutkan, melainkan perjalanan suci menuju kesempurnaan. Maka tak berlebihan bila dikatakan bahwa Nagasasra bukan hanya pusaka, tetapi juga lambang perjalanan ruhani manusia: dari asal menuju asal, dari terang menuju cahaya sejati.
P230
Keris Nagasasra Luk 11 Kinatah Emas Mataram Amangkurat
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 4.063 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
DHAPUR SABUK INTEN Sabuk Inten merupakan salah satu dhapur keris yang memiliki bentuk khas dan dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Nama Sabuk Inten terdiri dari kata sabuk, yaitu ikat pinggang, dan inten, yaitu berlian atau permata. Sabuk adalah sesuatu yang mengikat dan menjaga, sedangkan inten menggambarkan sesuatu yang berharga. Dari sini, Sabuk Inten dapat dimaknai… selengkapnya
Rp 4.500.000Keris Naga Sapta Kinatah Emas Naga adalah salah satu makhluk mitologis yang jejaknya hadir hampir di seluruh belahan dunia. Setiap peradaban memiliki tafsir dan rupa tersendiri tentang naga, termasuk masyarakat Jawa yang mengenalnya sebagai makhluk agung, penjaga kesucian, sekaligus simbol kekuatan yang berasal dari alam adikodrati. Dalam tradisi Jawa, kisah-kisah tentang naga bukan sekadar dongeng,… selengkapnya
Rp 150.000.000Keris Brojol Tuban Dhapur Brojol merupakan dhapur keris lurus yang menekankan kesederhanaan bentuk dan keteguhan makna. Tanpa luk dan tanpa ornamen yang berlebihan, Brojol melambangkan kelugasan, kejujuran niat, serta kesiapan menapaki laku hidup dengan sikap terbuka dan apa adanya. Dalam tradisi tosan aji, dhapur ini kerap dimaknai sebagai simbol awal mula, kelahiran, dan kesiapan menghadapi… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Kebo Lajer Pamor Slewah Tuban Pajajaran Keris ini memiliki dhapur Kebo Lajer, salah satu dhapur keris lurus dengan bentuk yang tegas dan sederhana. Ciri khasnya terdapat pada gandhik yang memanjang dan lugas, memberikan kesan kokoh dan berwibawa. Nama Kebo Lajer mengambil simbol dari kerbau yang dalam budaya Jawa dikenal sebagai perlambang kekuatan, ketekunan, kesabaran,… selengkapnya
Rp 3.500.000Dhapur Jalak Ngore Keris dapur jalak ngore secara umum merupakan simbolisasi pencapaian kebahagiaan dan melepaskan dari segala permasalahan hidup ( terkait dengan nafkah). Burung Jalak menurut pandangan orang jawa : Kukila Tumraping tiyang Jawi, mujudaken simbul panglipur, saget andayani renaning penggalih, satemah saget ngicalaken raos bebeg, sengkeling penggalih. Candrapasemonanipun : pindha keblaking swiwi kukila, ingkang… selengkapnya
Rp 1.900.000Keris Pulanggeni Keleng Tangguh Majapahit Keris Pulanggeni dengan pamor keleng ini menghadirkan pesona klasik yang sederhana namun berwibawa. Bilah tanpa pamor yang menonjol menampilkan keindahan besi tempa secara alami, memperlihatkan kualitas garap yang matang sekaligus memberikan karakter teduh dan elegan. Ditinjau dari garap, bentuk bilah, serta karakter tempa, keris ini bertangguh Majapahit, salah satu periode… selengkapnya
Rp 5.500.000DHAPUR PARUNGSARI Parungsari adalah keris luk 13, dengan ricikan sekar kacang, jalen, lambe gajah dua, pejetan, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, dan greneng. Nama Parungsari dapat dimaknai dari kata parung dan sari. Parung menggambarkan aliran yang melewati lekukan, sedangkan sari berarti inti atau sesuatu yang utama. Dari sini, Parungsari dapat dibaca sebagai gambaran perjalanan manusia… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Pamor Singkir Tangguh Blambangan Keris ini berdhapur Sempana Luk 11, salah satu dhapur klasik yang dikenal dengan bentuknya yang sederhana, proporsional, dan elegan. Dhapur Sempana telah lama menjadi favorit dalam dunia perkerisan, bahkan digunakan pada sejumlah pusaka penting. Nama Sempana dimaknai sebagai harapan atau cita-cita, melambangkan perjalanan hidup yang ditempuh dengan keteguhan, pembelajaran, dan… selengkapnya
Rp 5.000.000Dhapur Dholog Dholog adalah salah satu bentuk dhapur keris luk lima. Ukuran panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai gandik lugas, sogokan rangkap, tikel alis dan sraweyan. Ricikan lainnya tidak ada. “Jati nom arane dholog” Dholog berasal dari bahasa sansekerta yang artinya pohon jati muda. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada masanya. Ada masa… selengkapnya
Rp 2.500.000


























Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.