● online
- Keris Kidang Soka Luk 11 Pamor Banyu Mili
- Keris Tilam Upih Gonjo Lawe Saukel
- Keris Parungsari Mataram Senopaten
- Keris Parungsari Cirebon Sultan Agung
- Keris Sepokal Luk 7 Mataram Amangkurat
- Keris Brojol Pamor Wengkon Isen Raja Kamkam
- Keris Jalak Ngore Tuban Sepuh
- Keris Jalak Tilam Sari Sepuh Pamor Pedaringan Keba
Keris Brojol Gonjo Iras Pamor Wengkon
Rp 4.000.000| Kode | IR164 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Brojol, Keris |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Brojol |
| Pamor | : Wengkon |
| Tangguh | : Madura Sepuh |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Kayu Trembalo |
Keris Brojol Gonjo Iras Pamor Wengkon
Dhapur Brojol
Dalam masyarakat yang memandang keris dari sisi esoteri, dhapur keris Brojol sering dikaitkan dengan tuah yang dipercaya dapat “memperlancar kelahiran jabang bayi.” Karena itu, sebagian orang menganggap keris ini hanya cocok bagi mereka yang berprofesi sebagai dukun bayi. Benar atau tidaknya kepercayaan itu tentu hanya Tuhan yang mengetahui. Namun kenyataannya, banyak pula masyarakat yang mewarisi pusaka berdhapur Brojol meski mereka bukan berasal dari keturunan dukun bayi.
Simbol Kelahiran Spiritual
Keris berdhapur Brojol, sebagaimana dhapur keris lainnya, merupakan karya yang sarat dengan muatan spiritual dan ajaran hidup. Secara terminologi, brojol dalam bahasa Jawa bermakna “lahir” atau “meluncur keluar,” menggambarkan peristiwa kelahiran jabang bayi ke dunia. Dengan demikian, keris Brojol tidak sekadar menyimbolkan proses kelahiran, tetapi lebih dalam lagi melambangkan kesucian bayi yang baru lahir—yakni keadaan fitrah manusia yang murni.
“Ajaran-ajaran Jawa disampaikan penuh dengan pengetahuan esoterik yang merangsang angan-angan dan perenungan.”
(Niels Mulder, 2001:129)
Dalam budaya Jawa, ajaran yang disampaikan secara simbolik dianggap lebih menarik dan mengandung daya renung yang dalam. Semakin tersembunyi maknanya, semakin besar pula rangsangan bagi pikiran dan batin untuk menyingkap pesan yang tersirat. Keris Brojol adalah salah satu bentuk penyampaian ajaran tersebut—ajaran tentang kesucian, kelahiran, dan kembalinya manusia pada fitrahnya.
Fitrah Manusia: Kembali kepada Kesucian Asal
Fitrah manusia adalah potensi dasar untuk percaya kepada Tuhan dan selalu condong pada kebenaran. Fitrah ini bersumber dari Tuhan, dan karenanya akan selalu mengarah kepada-Nya—menuju kesucian jiwa dan kebenaran sejati. Di dalam diri manusia terdapat dorongan untuk berbuat baik, mencari kedamaian, dan merindukan ketenangan. Nurani manusia pada dasarnya ingin terus mengikuti jalan agama yang benar.
Namun, fitrah ini seringkali tertutupi oleh kabut nafsu. Dalam ajaran Jawa, dua hal utama yang menjadi penghalang nilai kemanusiaan ialah hawa nafsu dan pamrih (egoisme). Hawa nafsu membuat manusia dikuasai oleh dorongan-dorongan rendah—seperti amarah, kerakusan, dan syahwat—yang melemahkan kekuatan batin. Sementara pamrih menjadikan manusia bertindak hanya demi kepentingan diri sendiri tanpa memedulikan orang lain.
Dalam tradisi Jawa dikenal istilah Mo-Limo, yakni lima bentuk nafsu duniawi yang harus dijauhi:
Madat (menyalahgunakan obat), Madon (berzina atau selingkuh), Minum (mabuk), Maling (mencuri, menipu, korupsi), dan Main (judi).
Nafsu-nafsu inilah yang menjauhkan manusia dari fitrahnya, menjerumuskannya ke dalam kehinaan dan kesengsaraan batin.
Mengendalikan Nafsu Melalui Tapa Laku
Untuk kembali kepada fitrah, manusia harus menundukkan hawa nafsu melalui tapa laku. Laku ini tidak berarti meniadakan kebutuhan jasmani, melainkan mengatur dan mengendalikannya agar tidak berlebihan. Dalam Serat Wulangreh tembang Durma disebutkan:
“Dipun sami ambanting sariranira, cegah dhahar lan guling, darapon suda, nepsu kang ngambra-ambra, rerema ing tyasireki, dadi sabarang karsanira lestari.”
(Lakukanlah prihatin, kurangi makan dan tidur agar nafsu yang menyala dapat reda, hati menjadi tenteram, dan segala tujuan hidup tercapai.)
Bagi orang Jawa, menahan diri dalam makan, tidur, dan kesenangan duniawi bukan untuk menyiksa raga, melainkan sarana untuk menguatkan batin. Dengan laku demikian, manusia diharapkan dapat mendekatkan diri kepada Tuhannya dan menjaga kesucian fitrahnya.
IR164
Keris Brojol Gonjo Iras Pamor Wengkon
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 5.361 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
DHAPUR JALAK NYUCUP MADU Dhapur Jalak Nyucup Madu menggambarkan seekor burung jalak yang sedang mengisap madu. Gambaran tersebut dapat dimaknai sebagai perlambang manusia yang tekun mencari sesuatu yang baik dan bermanfaat dalam kehidupannya. Madu menjadi simbol sesuatu yang manis dan bernilai, sementara proses mencarinya mengingatkan bahwa hasil yang baik membutuhkan ketekunan dan kesungguhan. PAMOR WENGKON… selengkapnya
Rp 4.500.000Keris Brojol Pamor Brahma Watu Dhapur Brojol merupakan dhapur keris lurus yang menonjolkan kesederhanaan bentuk dan keteguhan makna. Tanpa luk dan tanpa ornamen berlebihan, Brojol melambangkan kelugasan, kejujuran niat, serta kesiapan menapaki laku hidup dengan sikap mantap dan terbuka. Pamor Brahma Watu tampil dengan motif gumpalan atau lingkaran menyerupai batu yang tersusun berurutan dari pangkal… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Carita Genengan Pajajaran Carito berarti sesuatu yang sedang berjalan atau suatu peristiwa, atau gambaran sifat manusia dalam kehidupan manusia sehari hari. Manusia dalam hidupnya memainkan alur cerita (carito) dan lakonnya sendiri-sendiri. Hidup yang kita jalani sekarang adalah hasil dari pemilihan seseorang tentang keputusan dan peran kehidupan yang akan dijalaninya. Genengan / Gunungan adalah salah… selengkapnya
Rp 3.000.000Nagasasra Dhapur Keris Legendaris Dari sekian banyak dhapur yang dikenal dalam dunia perkerisan, Nagasasra menempati posisi istimewa. Namanya melegenda—dikenal bukan hanya di kalangan pecinta tosan aji, tetapi juga oleh masyarakat luas yang mungkin tidak begitu akrab dengan dunia pusaka. Setiap kali nama-nama besar keris disebut, Nagasasra hampir selalu menjadi bagian dari pembicaraan. Salah satu penyebab… selengkapnya
Rp 110.000.000Dhapur Carita Keprabon Kehidupan manusia seperti lakon dramatis yang terpampang di atas panggung dunia, bermain dalam skenario yang telah tertulis oleh Sang Pencipta. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, manusia tampil sebagai pemeran utama, menari di atas lingkaran waktu yang terus berputar. Carita, dalam konteks ini, melambangkan peristiwa atau gambaran sifat manusia dalam kehidupan sehari-hari…. selengkapnya
Rp 25.000.000Keris Tilam Sari Pamor Sumur Sineba Menurut cerita pitutur lisan, salah satu wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih kemudian pasangannya adalah Tilam Sari. Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka,… selengkapnya
Rp 4.000.000Keris Kelap Lintah Pamor Singkir Dhapur Kelap Lintah merupakan salah satu dhapur keris lurus yang dikenal dengan sosok bilahnya yang ramping, luwes, dan berkesan hidup. Nama kelap dan lintah sendiri mengandung makna kelincahan serta daya lekat—melambangkan kemampuan beradaptasi, ketahanan dalam menghadapi tekanan, dan kecerdikan dalam menyiasati keadaan. Dhapur ini kerap dimaknai sebagai pusaka yang bekerja… selengkapnya
Rp 2.000.000Dhapur Sempaner Sempaner merupakan salah satu dhapur keris lurus dalam khazanah perkerisan Jawa. Bentuknya menghadirkan karakter yang sederhana, tegas, dan tidak berlebihan dalam ricikan. Kesederhanaan ini memberikan ruang bagi kita untuk mengamati karakter bilah secara lebih mendalam, baik dari segi bentuk, garap, maupun keselarasan keseluruhannya. Secara filosofis, nama Sempaner dapat dijadikan bahan perenungan tentang pentingnya… selengkapnya
Rp 9.000.000Keris Carita Keprabon Pedaringan Kebak Istimewa Keris Carita Keprabon Pedaringan Kebak Istimewa merupakan perpaduan pusaka yang sarat akan filosofi kepemimpinan, perjalanan hidup, serta harapan akan kemakmuran dan keberlimpahan rezeki. Setiap unsur yang menyusun keris ini mengandung makna simbolis yang saling melengkapi, menjadikannya bukan sekadar karya seni tempa, melainkan juga representasi nilai-nilai luhur dalam budaya Jawa…. selengkapnya
Rp 25.000.000
















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.