● online
Keris Sempono Bungkem Pamor Slewah
Rp 20.000.000| Kode | PRA187 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Sempana Bungkem |
| Jenis | : Keris Luk 9 |
| Dhapur | : Sempana Bungkem |
| Pamor | : Mrutu Sewu + Wengkon Isen |
| Tangguh | : Pajajaran |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Bahan Kayu Trembalo Iras |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Bahan Kayu Sono |
| Mendak | : Selut Bahan Kuningan |
| Pendok | : Blewah Bahan Tembaga |
Keris Sempono Bungkem Pamor Slewah
Dhapur Sempana Bungkem
Pusaka yang istimewa ini memiliki nama dhapur yang begitu fenomenal.
Namanya Sempono Bungkem.. Ciri khas otentik yang gampang sekali kita lihat adalah sekar kacang pada gandiknya yang menancap dan menyatu dengan gandiknya. Sekar kacang inilah yang disebut dengan sekar kacang mbungkem.
Konon Keris Sempono Bungkem memiliki angsar yang baik untuk membungkam lawan dan menaklukan musuh.
Jika kita lihat lebih dalam, nilai yang tersemat dari ajaran sempono bungkem tak hanya soal mengalahkan lawan. Tetapi Keris dengan luk berjumlah sembilan dengan sekar kacang mbungkem ini seperti mengisyaratkan pesan, bahwa manusia harus mampu mbungkem atau nutupi babakan howo songo, mampu mengendalikan sembilan hawa nafsunya, alias berpuasa dengan sebenarnya puasa.
Hawa sanga itu sendiri yang pertama adalah mata, kedua telinga, ketiga hidung, keempat mulut, kelima kemaluan, keenam saluran pembuangan dan selanjutnya adalah pikiran, hati, roh dan yang terakhir adalah rasa.
Ketika seseorang mampu mengendalikan sembilan jalur hawanya, ia akan secara mendalam terhubung dengan alam semesta dan kedalaman batinnya. Sehingga manusia akan mendapatkan kejernihan dalam berfikir serta bijak dalam laku dan ucapannya.
Pamor Slewah
Keris ini berpamor slewah, pada satu sisi bilahnya terdapat pamor wengkon isen dan sisi bilah sebaliknya berpamor mrutu sewu. Sebagian masyarakat perkerisan juga menyebut pamor seperti ini sebagai pamor dwi warno. Pamor yang berbeda pada kedua sisi bilahnya tersebut semakin menambah nilai keindahan, filosofi juga kelangkaan dari Pusaka ini.
Pamor Wengkon Isen
Pamor Wengkon Isen, wengkon adalah pamor yang bentuknya menyerupai garis yang membingkai sepanjang sisi pinggir bilah. Pola pamor ini melambangkan perisai, perlindungan, atau penangkal terhadap suatu malapetaka, penyakit, nasib buruk dan kejadian-kejadian yang tak terduga. Sedangkan isen dalam bahasa Jawa artinya adalah isian. Maksud pamor wengkon isen adalah bentuk pamor wengkon yang mempunyai isian pamor lain di dalamnya. Tuahnya kira-kira hampir sama.
Pamor Mrutu Sewu
Pamor Mrutu Sewu, mrutu (Culicoides) adalah sejenis serangga kecil yang umumnya aktif beterbangan pada waktu menjelang magrib dan subuh, sedangkan sewu adalah seribu. Jadi mrutu sewu adalah gerombolan mrutu sebanyak seribu. Seribu ini sebetulnya bukan untuk menunjukkan nilai atau jumlah yang pasti. Bagi orang Jawa sesuatu yang jumlahnya dianggap banyak sering diistilahkan dengan sewu. Pada bilah suatu keris/tombak/pedang maupun tosan aji lainya pamor mrutu sewu memiliki bentuk gambaran berupa kumpulan garis lengkung dan bulatan-bulatan kecil yang saling berdekatan, dan menyebar di seluruh permukaan bilah keris, sehingga tampak ruwet.
Sepintas pamor mrutu sewu hampir mirip dengan pamor udan mas, keduanya sama-sama bermotif seperti kumpulan turunnya titik-titik air yang jatuh menggenangi permukaan bumi. Namun pada pamor udan mas titik-titik air (puseran) tersebut lebih besar motifnya dan cenderung beraturan. Sedangkan pada pamor mrutu sewu, jika diamati puseran tersebut lebih kecil dan tampak menggerombol di beberapa area. Sebagian penggemar keris beranggapan bahwa pamor mrutu sewu memiliki tuah yang baik, dimana pemiliknya akan gampang mencari rezeki, ibaratnya rezeki tiba-tiba akan datang menyerang, yang tak pernah disangka waktu dan asalnya. Pamor ini juga tergolong pamor bukan pemilih, maka siapapun akan cocok. Adapula kepercayaan lain mengenai pamor mrutu sewu, pamor ini juga banyak dicari oleh para orang tua yang anak gadisnya ingin segera memperoleh jodoh atau janda yang sudah tidak sabar menemukan pasangan lagi.
Tangguh Pajajaran
Pusaka dari era Pajajaran ini masih menyisakan pesona yang luar biasa.
Ia bukan hanya artefak, tetapi warisan peradaban yang membawa jejak masa keemasan tanah Sunda.
Jika menelusuri akar sejarahnya, Pajajaran bukan sekadar nama kerajaan, melainkan puncak perjalanan panjang kebudayaan Sunda.
Ia merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan besar sebelumnya: Tarumanegara, Galuh, Kawali, dan Sunda, yang membentuk fondasi politik dan budaya di tanah Pasundan.
Berdasarkan Prasasti Sanghyang Tapak, kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-10 Masehi, dipimpin oleh Sri Jayabhupati.
Namun puncak keemasan Pajajaran terjadi di bawah pemerintahan Prabu Siliwangi, atau Sri Baduga Maharaja, yang naik tahta pada tahun 1428 Masehi.
Pada masa itu, rakyat hidup tenteram dan sejahtera di bawah ajaran silih asah, silih asih, silih asuh — saling mengasah pengetahuan, saling mengasihi, dan saling menjaga.
Prabu Siliwangi dikenal bijaksana, menegakkan keadilan, serta memajukan agama dan kebudayaan.
Ia juga memperkuat pertahanan dengan seratus ribu prajurit dan puluhan gajah perang — simbol kejayaan dan kemakmuran Pajajaran.
Namun waktu tak pernah berhenti.
Seiring datangnya pengaruh Islam dan menguatnya Kesultanan Banten, sinar Pajajaran perlahan meredup.
Tahun 1579 menjadi penanda berakhirnya masa gemilang itu, ketika Maulana Yusuf dari Banten menyerang Pakuan dan membawa Palangka Sriman Sriwacana, singgasana kebesaran Pajajaran, ke Surosowan.
Sejak saat itu, nama Pajajaran hanya tinggal legenda — bergema dalam naskah-naskah kuno dan ingatan rakyat.
Para bangsawan yang tersisa mengasingkan diri ke pedalaman Lebak, mempertahankan cara hidup lama yang berpadu dengan alam.
Mereka inilah yang kini dikenal sebagai masyarakat Baduy, pewaris nilai-nilai luhur Pajajaran yang tetap hidup hingga hari ini.
Begitulah hakikat sebuah keris — ia tidak hanya bisa dibaca dari bentuk dan keindahannya saja,
tetapi juga dari nilai filosofi, kisah sejarah, dan pesan peradaban yang dikandungnya.
Dalam sebilah bilah besi, tersimpan kisah manusia, doa, dan kebijaksanaan dari masa silam.
PRA187
Keris Sempono Bungkem Pamor Slewah
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 2.970 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sabuk Inten Keris Sabuk Inten adalah salah satu pusaka yang begitu populer dalam khazanah tosan aji. Popularitasnya tak hanya karena keindahan bentuk dan garapnya, tetapi juga karena kisah dan simbolisme yang melekat di baliknya. Dalam berbagai babad dan tutur, Sabuk Inten sering digambarkan sebagai pusaka para bangsawan—lambang kemuliaan, kemakmuran, kesuksesan, dan kejayaan. Namun, berbeda… selengkapnya
Rp 25.500.000Dhapur Brojol Dalam masyarakat yang memandang keris dari sisi esoteri, dhapur keris Brojol sering dikaitkan dengan tuah yang dipercaya dapat “memperlancar kelahiran jabang bayi.” Karena itu, sebagian orang menganggap keris ini hanya cocok bagi mereka yang berprofesi sebagai dukun bayi. Benar atau tidaknya kepercayaan itu tentu hanya Tuhan yang mengetahui. Namun kenyataannya, banyak pula masyarakat… selengkapnya
Rp 4.000.000Dhapur Dholog Dholog adalah salah satu bentuk dhapur keris luk lima. Ukuran panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai gandik lugas, sogokan rangkap, tikel alis dan sraweyan. Ricikan lainnya tidak ada. “Jati nom arane dholog” Dholog berasal dari bahasa sansekerta yang artinya pohon jati muda. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada masanya. Ada masa… selengkapnya
Rp 2.500.000Keris Brojol Tuban Singasari Dhapur Brojol merupakan dhapur keris lurus yang menekankan kesederhanaan bentuk dan keteguhan makna. Tanpa luk dan tanpa ornamen yang berlebihan, Brojol melambangkan kelugasan, kejujuran niat, serta kesiapan menapaki laku hidup dengan sikap terbuka dan apa adanya. Dalam tradisi tosan aji, dhapur ini kerap dimaknai sebagai simbol awal mula, kelahiran, dan kesiapan… selengkapnya
Rp 5.111.000Keris Pamor Sodo Lanang Sodo Sakler, Sodo adalah lidi, Sakler adalah satu batang, arti harafiahnya adalah Lidi Sebatang. Mungkin di setiap daerah berbeda penyebutannya, seperti ada yang menyebut adeg siji, sodo saren atau sodo lanang. Sesuai dengan namanya gambaran motif pamornya berupa garis lurus membujur sepanjang tengah bilah atau jika terdapat pada keris luk, garisnya membujur dari sor-soran hingga… selengkapnya
Rp 2.500.000Dhapur Keris Tilam Upih Menurut kitab sejarah Narendra Ing Tanah Jawi (1928) dhapur Tilam Upih (diberi nama Jaka Piturun) dibuat bebarengan dengan dhapur Balebang (diberi nama Pamunah) pada tahun 261 Saka pada era pemerintahan Nata Prabu Dewa Budhawaka. Dhapur Tilam Upih merupakan dhapur yang paling populer di seluruh wilayah Nusantara dan relatif bisa dijumpai pada… selengkapnya
Rp 3.000.000Dhapur Sengkelat Sengkelat, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan, ri pandan, greneng, dan kruwingan. Membicarakan… selengkapnya
Rp 35.000.000Dhapur Sinom Sinom adalah salah satu dhapur keris lurus dengan ricikan antara lain sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, pejetan, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Sinom, dalam arti harfiah, merujuk pada daun pohon asem yang masih muda atau pada rambut halus di dahi—bathuk dalam bahasa Jawa—yang lembut dan tipis. Dari sifat alamiahnya, sinom melambangkan kelembutan,… selengkapnya
Rp 15.000.000


































Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.