● online
- Keris Tilam Sari Pamor Tejo Kinurung
- Keris Carang Soka Pamor Lintang Kemukus
- Keris Dhapur Sura Tangguh Bugis Sepuh
- Keris Sengkelat Pamor Wiji Timun Tangguh Srimangan
- Keris Murma Malela Mataram Amangkurat
- Keris Bakung Luk 5 Pamor Lar Gangsir
- Keris Makoro Kinatah Emas Pamor Wiji Timun
- Keris Dholog Luk 5 Cirebon Sultan Agung
Keris Sabuk Inten Kinatah Gajah Singa
Rp 25.500.000| Kode | P112 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Sabuk Inten |
| Jenis | : Keris Luk 11 |
| Dhapur | : Sabuk Inten |
| Pamor | : Pulo Tirto |
| Tangguh | : Mataram Senopaten |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Kayu Timoho |
Keris Sabuk Inten Kinatah Gajah Singa
Keris Sabuk Inten
Keris Sabuk Inten adalah salah satu pusaka yang begitu populer dalam khazanah tosan aji. Popularitasnya tak hanya karena keindahan bentuk dan garapnya, tetapi juga karena kisah dan simbolisme yang melekat di baliknya. Dalam berbagai babad dan tutur, Sabuk Inten sering digambarkan sebagai pusaka para bangsawan—lambang kemuliaan, kemakmuran, kesuksesan, dan kejayaan.
Namun, berbeda dengan keris Sengkelat yang lebih banyak diidentikkan dengan semangat rakyat jelata, saya melihat Sabuk Inten dari sudut pandang yang lain. Bagi saya, pusaka ini tidak diciptakan hanya untuk kalangan atas. Ia justru berbicara kepada siapa pun yang sedang menempuh perjalanan batin, tanpa memandang kedudukan atau derajat.
Bagi saya, Sabuk Inten bukan semata simbol kejayaan duniawi. Ia adalah cermin dari laku sunyi—sebuah perjalanan dalam diam, tanpa sorak-sorai atau sanjungan.
Kata sabuk bermakna ikat pinggang, sesuatu yang menahan dan mengikat agar tetap tertib pada tempatnya. Dalam falsafah Jawa, mengencangkan sabuk berarti tirakat—mengekang hawa nafsu, menahan diri, dan berdisiplin dalam laku prihatin. Sementara inten atau berlian, adalah hasil dari tempaan panjang: tekanan, waktu, dan kesabaran.
Maka, Sabuk Inten adalah gambaran proses itu sendiri—perjalanan dari keterikatan menuju kejernihan. Kemuliaan bukanlah tujuan akhir, melainkan hasil alami dari hati yang ditempa, dari jiwa yang sabar, dari niat yang terus dijaga tetap jernih.
Sabuk menahan keinginan untuk pamer; inten lahir dari kesunyian yang menumbuhkan ketulusan. Di sanalah letak kebijaksanaan sejati: ketika seseorang mampu menaklukkan dirinya sendiri.
Bagi saya yang hanya “remukan peyek” ini, pusaka Sabuk Inten justru menjadi sahabat yang paling jujur. Ia tidak berbicara, tetapi kehadirannya menegur dengan lembut:
bahwa menjadi mulia memang harus diupayakan, namun dianggap mulia atau tidak—itu bukan urusan kita. Tugas kita hanyalah menjaga niat, memperbaiki laku, dan meluruskan arah hati.
Kinatah Gajah Singa
Selain nilai filosofisnya yang luhur, keindahan fisik pusaka ini pun patut mendapat perhatian. Pandangan mata kita akan langsung tertuju pada ornamen kinatah emas yang menghias bagian gonjo dan gandik-nya—bukan sekadar hiasan, melainkan penanda sejarah dan simbol peristiwa penting.
Salah satu di antaranya adalah Kinatah Gajah Singa, yang menghiasi bagian wuwungan gonjo. Penataannya unik: bentuk stilasi mini gajah dan singa ditempatkan di dua sisi peksi, sementara ruang di antaranya dihias dengan lung-lungan.
Dalam tradisi Jawa, penggambaran binatang atau benda alam sering digunakan untuk merekam waktu. Inilah yang disebut candra sengkala—cara khas Jawa dalam menandai tahun dengan lambang-lambang simbolik.
“Gajah Singa Curigo Tunggal” adalah salah satu candra sengkala yang menandai padamnya pemberontakan Pragola di Pati, peristiwa besar yang terjadi di masa Sultan Agung. Jika diterjemahkan, gajah (1), singa (5), curigo (5), dan tunggal (1) menunjukkan angka tahun 1551 Jawa atau 1629 Masehi, sesuai catatan Dr. H. J. de Graaf.
Kinatah Gajah Singa menjadi lambang keperkasaan Mataram setelah menumpas pemberontakan itu—meski sebelumnya sempat gagal dalam dua penyerangan ke Batavia. Sultan Agung kemudian menganugerahkan berbagai kinatah sebagai penghargaan kepada para pahlawan perang.
Bagi para putra sentana dan pepatih dalem diberikan Kinatah Anggrek Manglar Monga atau Singa Barong;
untuk abdi dalem wadana kliwon (bupati dan bupati anom) diberikan Kinatah Kamarogan;
sementara bagi panewu mantri, dianugerahkan Kinatah Gajah Singa.
Pemberian kinatah bukan hanya hadiah, melainkan bentuk konsolidasi politik dan moral, sebagai tanda pengikat antara raja dan para prajurit setelah masa duka dan kekalahan.
Singa diartikan sebagai lambang Mataram—singa nggero, singa yang mengaum menggertak musuh. Sedangkan gajah melambangkan Pati—gajah nggiwar, gajah yang menghindar dan akhirnya tunduk. Dengan demikian, Gajah Singa melambangkan kemenangan Mataram atas Pati, juga kebangkitan setelah kegagalan.
Tangguh Mataram Senopaten
Dari segi garap, pusaka Sabuk Inten ini menunjukkan pasikutan yang prigel, tegas namun luwes, tampan sekaligus wingit. Bilahnya berwarna hitam kebiruan, dengan pamor yang tajam menancap pandes di permukaannya.
Ia masih membawa aroma keris-keris Majapahit—baik dari bentuk, lipatan besi, hingga pamor yang cenderung ngirid atau ceprit-ceprit. Hal ini wajar, sebab empu-empu di masa Mataram Senopaten adalah penerus langsung, baik secara keilmuan maupun garis keturunan, dari empu Majapahit.
Warisan teknik tempa, pakem bentuk, dan falsafah penciptaan pusaka tetap dijaga, hanya disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Jika kita menelusuri akar sejarahnya, garis pusaka ini dapat dirunut sejak masa kejayaan Majapahit pada abad ke-14 di bawah Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Setelah kemunduran kerajaan besar itu, muncul Raden Patah yang mendirikan Kesultanan Demak, lalu berpindah ke Pajang di bawah Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya), hingga akhirnya lahirlah Mataram di tangan Danang Sutawijaya—Panembahan Senapati ing Alaga.
Mataram bukan sekadar kelahiran kekuasaan baru, tetapi kesinambungan dari warisan lama. Para empu, seniman, dan rohaniawan Majapahit tidak punah; mereka bertransformasi di bawah panji Islam dan budaya baru yang tetap menghormati akar lamanya.
Perpaduan antara nilai Hindu-Buddha Majapahit dengan spiritualitas Islam Mataram inilah yang melahirkan karakter unik dalam pusaka seperti Sabuk Inten—paduan antara keindahan duniawi dan kedalaman batin, antara kekuasaan dan kesadaran diri.
P112
Keris Sabuk Inten Kinatah Gajah Singa
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 3.543 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Mesem Pamor Wengkon Isen Dhapur Mesem sering kali dianggap serupa dengan Sempaner dan Tumenggung karena ketiganya memiliki bentuk lurus, sama-sama memakai sekar kacang, dan tidak menggunakan sogokan. Namun, bila dicermati lebih dalam, terdapat perbedaan halus di antara mereka. Dhapur Sempaner memiliki sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, tikel alis, pejetan, dan ripandan. Sedangkan Tumenggung… selengkapnya
Rp 4.500.000Keris Pasopati Pamor Wengkon Besi Hurap Keris Pasopati merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat populer. Karakteristik utamanya adalah bilahnya dengan permukaan nggigir sapi, serta beberapa ricikan khas seperti kembang kacang pogog, lambe gajah satu, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, greneng, ri pandan dan terkadang dilengkapi dengan gusen serta lis-lisan. Keberadaan dhapur Pasopati telah… selengkapnya
Rp 6.000.000DHAPUR PARUNGSARI Parungsari adalah keris luk 13, dengan ricikan sekar kacang, jalen, lambe gajah dua, pejetan, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, dan greneng. Nama Parungsari dapat dimaknai dari kata parung dan sari. Parung menggambarkan aliran yang melewati lekukan, sedangkan sari berarti inti atau sesuatu yang utama. Dari sini, Parungsari dapat dibaca sebagai gambaran perjalanan manusia… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Brojol Pamor Udan Mas Sepuh Sebilah keris lurus berdhapur Brojol ini menghadirkan kesederhanaan bentuk yang menyimpan kedalaman makna. Keistimewaannya terletak pada pamor Udan Mas, pamor klasik yang sejak lama dipandang sebagai salah satu simbol kemakmuran paling luhur dalam tradisi perkerisan Nusantara. Pamor Udan Mas kerap disalahpahami sebagai pamor yang menjanjikan kekayaan secara instan. Padahal,… selengkapnya
Rp 15.000.000Keris Brojol Pamor Tirto Tumetes Rojo Gundolo Tangguh Majapahit Keris Brojol merupakan salah satu dhapur lurus yang dikenal sederhana namun memiliki makna filosofi yang mendalam. Dengan ricikan yang tidak banyak, berupa gandik lugas dan pejetan, dhapur ini justru menjadi salah satu pilihan yang banyak diminati, terutama bagi para pecinta tosan aji yang mengawali perjalanan koleksinya…. selengkapnya
Rp 5.500.000Keris Sempana Pamor Junjung Derajat Tangguh Pajajaran Keris ini berdhapur Sempana Luk 9, salah satu dhapur klasik yang dikenal dengan bentuknya yang sederhana, proporsional, dan berwibawa. Nama Sempana dimaknai sebagai harapan atau cita-cita, sehingga melambangkan perjalanan hidup untuk terus bertumbuh melalui keteguhan hati, pembelajaran, dan usaha memperbaiki diri. Sebagai keris luk 9, dhapur ini juga… selengkapnya
Rp 4.500.000Keris Tilam Upih Mataram Kartasura Keris ini memiliki dhapur Tilam Upih, salah satu dhapur keris lurus yang dikenal luas dalam tradisi perkerisan Jawa. Bentuknya sederhana dan tenang, dengan karakter yang tidak banyak menampilkan ornamen berlebihan. Nama Tilam Upih berkaitan dengan tilam sebagai alas untuk beristirahat dan upih sebagai pelepah pinang yang digunakan sebagai pelindung. Karena… selengkapnya
Rp 4.000.000Keris Paksi Naga Liman Kinatah Emas Secara prejengan-nya, pusaka ini tampil dengan kemegahan yang sulit diabaikan. Indah, anggun, dan seolah memancarkan kesempurnaan dari setiap sisinya. Mulai dari material besi dan pamornya yang luar biasa, pasikutannya yang gagah, hingga ornamen tinatah emas yang menegaskan kewibawaannya. Motif pamor Uler Lulut yang menjalar di sepanjang bilah tampak hidup… selengkapnya
Rp 100.000.000DHAPUR SABUK INTEN Sabuk Inten merupakan salah satu dhapur keris yang memiliki bentuk khas dan dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Nama Sabuk Inten terdiri dari kata sabuk, yaitu ikat pinggang, dan inten, yaitu berlian atau permata. Sabuk adalah sesuatu yang mengikat dan menjaga, sedangkan inten menggambarkan sesuatu yang berharga. Dari sini, Sabuk Inten dapat dimaknai… selengkapnya
Rp 4.500.000


















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.