● online
Keris Tilam Upih Gonjo Lawe Saukel
Rp 3.700.000| Kode | P368 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Tilam Upih |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Tilam Upih |
| Pamor | : Wos Wutah |
| Pamor Gonjo | : Lawe Saukel |
| Tangguh | : Tuban Pajajaran |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Kayu Timoho |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang |
| Pendok | : Bunton Bahan Kuningan |
| Mendak | : Bahan Kuningan |
Keris Tilam Upih Gonjo Lawe Saukel
Dhapur Tilam Upih
Dhapur Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang cukup dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Nama Tilam Upih kerap dikaitkan dengan gambaran alas atau tempat beristirahat yang sederhana. Dalam pemaknaan tradisional, dhapur ini sering dihubungkan dengan harapan akan ketenteraman rumah tangga, keharmonisan keluarga, dan kecukupan dalam menjalani kehidupan.
Filosofi tersebut mengingatkan kita bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kemewahan atau tingginya kedudukan. Rumah yang tenteram, keluarga yang rukun, dan kehidupan yang dijalani dengan rasa syukur merupakan bagian dari kemuliaan hidup yang patut dijaga.
Pamor Wos Wutah
Pamor Wos Wutah memiliki nama yang berasal dari kata wos, yang berarti beras, dan wutah, yang berarti tumpah atau berserakan. Penamaan ini merujuk pada motif pamor yang menyerupai butiran beras yang tersebar di permukaan bilah.
Dalam tradisi perkerisan Jawa, Wos Wutah kerap dimaknai sebagai simbol kecukupan rezeki, kemakmuran, dan harapan akan kehidupan yang berkecukupan. Beras sendiri memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Jawa, bukan hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai lambang kehidupan dan kesejahteraan.
Lebih jauh, pamor ini dapat menjadi pengingat bahwa rezeki yang baik bukan semata-mata tentang banyaknya yang diperoleh, melainkan juga kemampuan untuk mensyukuri, mengelola, dan membagikannya kepada sesama.
Gonjo Lawe Saukel
Selain karakter pamor pada bilah, keris ini memiliki ciri pada bagian gonjo yang disebut Lawe Saukel. Dalam istilah perkerisan, gonjo merupakan bagian pangkal keris yang melintang dan menjadi unsur penting dalam struktur serta penampilan keseluruhan keris.
Penyebutan Lawe Saukel perlu dipahami sebagai istilah tradisional yang merujuk pada karakter atau bentuk tertentu pada gonjo. Pengamatan langsung terhadap bentuk gonjo diperlukan agar identifikasinya sesuai dengan ciri yang dimaksud dalam tradisi perkerisan.
Tangguh Tuban Pajajaran
Penyebutan tangguh Tuban Pajajaran merupakan identifikasi tradisional yang menghubungkan karakter bilah dengan lingkungan budaya dan gaya perkerisan yang diasosiasikan dengan Tuban serta Pajajaran.
Penentuan tangguh tidak cukup hanya berdasarkan bentuk dhapur atau kesan tua pada bilah. Bentuk keseluruhan, ricikan, karakter garap, material, dan perbandingan dengan keris-keris rujukan perlu dipertimbangkan secara menyeluruh. Karena itu, penyebutan Tuban Pajajaran pada keris ini tetap dipahami sebagai identifikasi tradisional yang memerlukan penilaian terhadap bilah secara langsung.
Keris Tilam Upih berpamor Wos Wutah, dengan gonjo Lawe Saukel dan identifikasi tangguh Tuban Pajajaran, menghadirkan perpaduan antara kesederhanaan bentuk, motif pamor yang sarat makna, serta detail konstruksi yang menarik untuk dipelajari.
Pada akhirnya, kecukupan hidup dan ketenteraman keluarga bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga bagaimana kita menjaga, mensyukuri, dan menjadikannya bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita.
P368
Keris Tilam Upih Gonjo Lawe Saukel
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 90 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
DHAPUR SABUK INTEN Sabuk Inten merupakan salah satu dhapur keris yang memiliki bentuk khas dan dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Nama Sabuk Inten terdiri dari kata sabuk, yaitu ikat pinggang, dan inten, yaitu berlian atau permata. Sabuk adalah sesuatu yang mengikat dan menjaga, sedangkan inten menggambarkan sesuatu yang berharga. Dari sini, Sabuk Inten dapat dimaknai… selengkapnya
Rp 4.500.000DHAPUR TILAM UPIH Tilam Upih secara harfiah berkaitan dengan tilam atau alas untuk beristirahat dan upih, yaitu pelepah pinang. Secara filosofi, nama ini dapat dimaknai sebagai landasan, ketenteraman, dan kesederhanaan. Manusia diingatkan untuk memiliki pijakan yang baik agar dapat menjalani kehidupan dengan tenang dan tidak berlebihan. PAMOR TEJO KINURUNG Tejo Kinurung dapat dimaknai sebagai cahaya… selengkapnya
Rp 5.500.000DHAPUR SEMPANER Sempaner merupakan salah satu nama dhapur dalam tradisi perkerisan Jawa. Secara filosofis, nama ini dapat dimaknai sebagai simbol keteguhan, kesungguhan, dan kemampuan menjaga pendirian. Piwulangnya mengingatkan agar manusia tetap memiliki arah dan prinsip dalam menjalani kehidupan. PAMOR WOS WUTAH Wos Wutah secara harfiah berarti beras yang tumpah. Beras merupakan simbol pangan dan kecukupan… selengkapnya
Rp 2.500.000Pandhawa Prasaja Nama Pandawa Prasaja menyimpan ajaran luhur tentang keseimbangan antara kekuatan lahir dan kejernihan batin.Kata Pandawa merujuk pada lima kesatria utama dalam epos Mahabharata — Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.Kelima tokoh ini bukan sekadar sosok dalam cerita pewayangan, tetapi simbol dari laku manusia yang berjuang menegakkan kebenaran dengan caranya masing-masing. Yudhistira melambangkan kejujuran… selengkapnya
Rp 1.800.000Dhapur Brojol Secara dhapur, pusaka ini tampak sederhana. Ia berdhapur Brojol — bilahnya lurus, polos, tanpa banyak ricikan. Hanya terdapat pejetan sederhana dengan gandhik yang lugas, tanpa hiasan sekar kacang, ganan, atau ornamen lainnya. Namun justru di situlah letak kejujurannya. Ia tampil apa adanya, tegas, lugas, dan jernih dalam makna. Dhapur Brojol memang termasuk salah… selengkapnya
Rp 3.000.000Keris Waluring Luk 15 Kalawijan Pusaka ini hadir dengan busana Gayaman gagrak Surakarta yang dibuat dari kayu trembalo Aceh lawasan. Meski berusia tua, kondisinya masih sangat terjaga. Serat trembalo tampak tegas, nginden, dan memberi kesan estetis yang kuat pada keseluruhan wadag pusaka. Gaya busananya semakin lengkap dengan pendok mamas model blewah Surakarta yang menjadi penutup… selengkapnya
Rp 10.000.000Dhapur Dholog Dholog adalah salah satu bentuk dhapur keris luk lima. Ukuran panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai gandik lugas, sogokan rangkap, tikel alis dan sraweyan. Ricikan lainnya tidak ada. “Jati nom arane dholog” Dholog berasal dari bahasa sansekerta yang artinya pohon jati muda. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada masanya. Ada masa… selengkapnya
Rp 2.500.000Keris Carita Keprabon Pedaringan Kebak Istimewa Keris Carita Keprabon Pedaringan Kebak Istimewa merupakan perpaduan pusaka yang sarat akan filosofi kepemimpinan, perjalanan hidup, serta harapan akan kemakmuran dan keberlimpahan rezeki. Setiap unsur yang menyusun keris ini mengandung makna simbolis yang saling melengkapi, menjadikannya bukan sekadar karya seni tempa, melainkan juga representasi nilai-nilai luhur dalam budaya Jawa…. selengkapnya
Rp 25.000.000Dhapur Parungsari Dhapur Parungsari memiliki kemiripan yang kuat dengan dhapur Sengkelat, baik dari jumlah luk maupun ricikannya. Yang membedakan hanya lambe gajah, di mana Sengkelat memiliki satu lambe gajah, sedangkan Parungsari memiliki dua. Perbedaan kecil seperti ini—tingil, lambe gajah, sraweyan, atau odo-odo—sering kali menjadi penentu identitas dhapur keris, sehingga keliru mengenalinya juga berarti keliru memahami… selengkapnya
Rp 4.300.000




















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.