● online
Keris Sempono Pamor Keleng
Rp 2.800.000| Kode | F200 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Sempana |
| Jenis | : Keris Luk 9 |
| Dhapur | : Sempana |
| Pamor | : Keleng |
| Tangguh | : Demak |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Kayu Timoho Iras |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Liwung |
| Mendak | : Kendit Bahan Kuningan |
| Pendok | : Blewah, Bahan Kuningan |
Keris Sempono Pamor Keleng
Dhapur Sempana Luk 9
SEMPONO, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sembilan, yang tergolong sederhana. Keris ini hanya memakai kembang kacang, lambe gajahnya satu dan greneng. Ricikan lainnya tidak ada. Walaupun sederhana penampilannya, Sempana termasuk dhapur keris yang populer dan sering dijumpai. Pada jaman dahulu keris dengan dhapur sempono banyak dimiliki oleh para abdi dalem.
FILOSOFI LUK SEMBILAN, Dalam khasanah Jawa kalimat di atas sangat akrab diucapkan orang-orang tua : ‘Yen Kowe Kepingin Selamet, Jogoen Bolongan Songo utowo babakan Songo‘, artinya jika kamu kepingin selamat dunia ahirat, jagalah Sembilan lubang atau Sembilan perkara. Hawa/Howo bahasa Jawa dapat berarti lubang, dan Hawa dalam bahasa Arab dapat pula berarti keinginan atau kehendak, merupakan pemicu hawa (keinginan) dalam diri jiwani manusia. Dan Songo adalah sembilan. Ternyata, secara fisik juga bisa kita pahami bahwa bolongan songo yang dimaksud orang-orang tua dulu adalah: jumlah lubang telinga 2, lubang mata 2, lubang hidung 2, mulut 1, yang dua menurut mereka yaitu lubang depan 1 dan belakang 1 (Qubul dan Dubur), sehingga totalnya menjadi sembilan (9) lubang.
Babahan Hawa Sanga mengajak melatih kesetiaan tubuh jasmani (eling lan waspodo), dengan cara membangun keteguhan, ketekunan dan kepastian terhadap Sang Pencipta. Manusia pada dasarnya dituntut dua pilihan dalam proses pencapaian rohani atau diri pribadi yang tinggi, yaitu memilih jalan luhur atau memilih jalan pintas. Babahan Hawa Sanga mengajarkan manusia untuk memilih jalan luhur dan selalu waspada dengan jalan pintas yang ditawarkan setan, karena melalui sembilan lubang inilah sebenarnya manusia bisa mencapai derajat mulia dimana manusia akan lebih terarah hidup dan kehidupannya ketika mau berikhtiar untuk mengontrol 9 lubang hawa tadi, karena sebenarnya fitrah dari 9 jalan tadi adalah kesucian dan jalan pengabdian kepada Sang Khaliq. Atau sebaliknya, melalui lubang Sembilan inilah manusia bisa lebih hina dari pada hewan yang paling hina, ketika manusia tidak mampu menjaganya.
Dhapur keris luk sembilan, umumnya dikaitkan dengan perlambang bantuan dan penunjang karier pemiliknya. Pemilik keris ini biasanya dianggap memiliki ambisi untuk maju dalam hal karier. Jadi pada umumnya taksu keriss berdhapur luk sembilan dianggap dapat membantu memelihara ambisi pemiliknya untuk lebih maju guna mencapai jenjan karier yang lebih tinggi.
Pamor Keleng
Penempaan keris ini biasanya sangat matang, sehingga memiliki pesona tersendiri bagi penikmat tosan aji. Keris keleng lebih mengutamakan kematangan tempa juga kesempurnaan garap. Garap di sini yang dimaksud adalah meliputi keindahan bentuk bilah, termasuk di dalamnya ricikan.
Kesempurnaan garap bermakna ketepatan etika dan sopan santun kita. Juga bermakna keselarasan dengan lingkungan hidup sehari hari. Keris Keleng juga bisa menjadi bahasa untuk memahami tingkat kematangan Si Empu, secara lahir maupun batin.
Secara lahir bisa dilihat kesanggupan Sang Empu dalam mengolah besi untuk menjadi matang dan presisi. Dalam penggarapan keris tersebut juga dibutuhkan kecermatan dan kedalaman batin. Kedalaman batin Empu diterjemahkan dalam pamor yang hitam polos tidak bergambar.
Empu sudah menep (mengendap) dari keinginan duniawi. Makna yang disampaikan harus diterjemahkan dengan kedalaman rasa yang bersahaja.
Efek yang ditimbulkan dari sugesti terhadap keris keleng tersebut adalah, bahwa keris tersebut mampu menjadi inspirasi tentang ketulusan / keikhlasan. Ada juga yang beranggapan bahwa keris keleng memiliki kekuatan secara isoteri lebih multifungsi, dibanding dengan keris yang berpamor.
Tangguh Demak
Sangat sedikit referensi mengenai tangguh Demak. Dalam Ensiklopedi Keris karangan Alm Bambang Harsrinuksmo tangguh Demak ditulis ; mempunyai pasikutan yang wingit, bilahnya berukuran sedang, besinya hitam kebiruan dan berkesan basah, pamornya tergolong kalem dan berkesan mengambang, gonjonya tipis dengan sirah cecak pendek. Kemudian S Lumintu juga menulis; Tangguh Demak gonjo rata, sirah cecak kecil dan menguncup, pamor bagus, besi agak kuning kurang bercahaya (guwaya), condong leleh agak membungkuk, tikel alis pendek, sogokan panjang, kembang kacang kecil, jalen kecil, lambe gajah agak besar dan panjang.
Kemudian Koesni dalam Bukunya Pakem Pengetahuan Tentang Keris juga menulis keris buatan jaman Demak ; kebanyakan buatan jaman ini memiliki daya tarik sendiri dimana jika dilihat secara sepintas masih meniru-niru buatan Majapahit, tetapi jika diperhatikan secara benar walau besinya basah seperti besi Majapahit, namun pamor yang menempel disitu seolah mengambang. Dari hal tersebut bisa dinyatakan bahwa walau besi buatan Demak memang terdiri dari besi pilihan, tetapi sayang airnya yang terang tidak memadai. Malah bisa dikatakan air yang untuk mencampur pembuatan keris di negeri ini, terdiri dari air asin.
RT Waluyodipuro dalam tulisannya “Seserepan bab Dhuwung tuwin ubarampe saha lalajenganipun” menulis lebih detail lagi, dimana pada jaman kerajaan kraton Bintoro/Demak terdapat tiga Empu :
Empu Purwasari (putra Rara Semboga) yasan dhapur : brojol, tilam upih dengan ciri pamor bantat arusoh (keras kaku agak kotor), beliau juga yasan pedang Lameng dengan ciri besi berwarna biru, pamor jelas, dan bagian pesi mempunya ciri belang dua.
Empu Purwatanu (putra Empu Purwasari), jaman peralihan Demak – Pajang, yasan dhapur : brojol dengan ciri gonjo nguceng mati semu kidhung (mirip ikan kecil mati agak malu-malu), bilah tipis sekali, pamor beras wutah dengan sepuh dilat. Selain itu beliau juga yasan dhapur lain seperti jalak ngore, tilam upih, jalak sangu tumpeng dengan ciri yang sama.
Empu Subur (putra Empu Gedhe dari Banyumas), hingga pindah ke Pajang tidak pernah membuat keris, tombak ataupun pedang. Hanya membuat pangot, arit, pacul, gobang, wadung. *(kemungkinan dari sini adanya pitutur lisan maupun tulisan yang menyatakan budaya keris kerajaan Demak Bintoro kurang mendapat perhatian dari pusat kekuasaan digantikan oleh Wedung, yang sebenarnya masi debatable karena menurut sejarah Demak Bintoro lebih memilih teknologi mesiu daripada senjata tradisional)
Dan dalam Serat Panangguhing Dhuwung, catatan mas Ngabehi Wirasoekadga dhuwung Tangguh Demak ditulis ; dhuwung gonjo waradin, gulu meled alit, sirah cecak ngluncup, bangkekan singset, buntut urang papak, seblakipun ruruh wasuhaning pamor muyak merak ati tosanipun kuning raos kemba lenggahipun andhekung kidung, menawi nggangge sekar kacang nyantheng, jalen mayat sumungkem, lambe gajah moncer soho landhung, blumbangan lebet ciyut, sogokan landhung keder lebet awak-awakipun dhuwung ngruwing ananging ketingal kendho, menawi medal leres lenggahipun tumungkul, bilih gandhikanipun gandikipun sedhengan kedher, tikel alis jugag.
Atau jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia kurang lebihnya adalah : bagian gonjo rata, gulu meled kecil, sirah cecak seperti kuncup, wadidang langsing, buntut urang datar, dalam rasa pandangnya gagah, wasuhan pamornya rata dan menarik hati, besinya kuning namun agak hambar, badannya tidak terampil (gesit). Sekar kacang-nya kaku, jalen agak miring, lambe gajah terlihat dominan panjang, pejetan dalam tapi sempit, bagian sogokan mengembang panjang, dalam dan tegak lurus, badan bilah seperti ada kruwingan samar. Jika keluar dhapur lurus terlihat agak menunduk, gandik-nya sedang dan tegak lurus dengan tikel alis ringkas.
Keris Sempono Pamor Keleng
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 3.386 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Nagasasra Dhapur Keris Legendaris Dari sekian banyak dhapur yang dikenal dalam dunia perkerisan, Nagasasra menempati posisi istimewa. Namanya melegenda—dikenal bukan hanya di kalangan pecinta tosan aji, tetapi juga oleh masyarakat luas yang mungkin tidak begitu akrab dengan dunia pusaka. Setiap kali nama-nama besar keris disebut, Nagasasra hampir selalu menjadi bagian dari pembicaraan. Salah satu penyebab… selengkapnya
Rp 110.000.000Keris Waluring Luk 15 Kalawijan Pusaka ini hadir dengan busana Gayaman gagrak Surakarta yang dibuat dari kayu trembalo Aceh lawasan. Meski berusia tua, kondisinya masih sangat terjaga. Serat trembalo tampak tegas, nginden, dan memberi kesan estetis yang kuat pada keseluruhan wadag pusaka. Gaya busananya semakin lengkap dengan pendok mamas model blewah Surakarta yang menjadi penutup… selengkapnya
Rp 10.000.000Keris Gumbeng Tangguh Tuban Sepuh Gumbeng adalah salah satu dapur Keris yang sangat sederhana. Memiliki ricikan seperti Kebo Lajer, tetapi bilahnya lebih lebar. Gandik panjang dan umumnya berasal dari tangguh sepuh seperti era Pajajaran atau Tuban. Istilah Gumbeng, selain untuk menyebut dapur Keris, juga merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional masyarakat Jogjakarta, terutama di wilayah… selengkapnya
Rp 4.500.000Dhapur Parungsari Parungsari merupakan salah satu dhapur keris luk 13 dengan bentuk bilah sedang dan proporsional. Ricikannya antara lain kembang kacang, lambe gajah dua, sogokan rangkap, pejetan, sraweyan, dan greneng. Sekilas bentuknya menyerupai Sengkelat, tetapi keberadaan dua lambe gajah menjadi salah satu ciri pembeda utama Parungsari. Nama Parungsari dapat dimaknai dari kata parung, yang berkaitan… selengkapnya
Rp 4.200.000Keris Brojol Pamor Brahma Watu Dhapur Brojol merupakan dhapur keris lurus yang menonjolkan kesederhanaan bentuk dan keteguhan makna. Tanpa luk dan tanpa ornamen berlebihan, Brojol melambangkan kelugasan, kejujuran niat, serta kesiapan menapaki laku hidup dengan sikap mantap dan terbuka. Pamor Brahma Watu tampil dengan motif gumpalan atau lingkaran menyerupai batu yang tersusun berurutan dari pangkal… selengkapnya
Rp 3.500.000DHAPUR JALAK NYUCUP MADU Dhapur Jalak Nyucup Madu menggambarkan seekor burung jalak yang sedang mengisap madu. Gambaran tersebut dapat dimaknai sebagai perlambang manusia yang tekun mencari sesuatu yang baik dan bermanfaat dalam kehidupannya. Madu menjadi simbol sesuatu yang manis dan bernilai, sementara proses mencarinya mengingatkan bahwa hasil yang baik membutuhkan ketekunan dan kesungguhan. PAMOR WENGKON… selengkapnya
Rp 4.500.000Keris Sempana Luk 11 Pamengkang Jagad Keris ini memiliki dhapur Sempana luk 11, salah satu varian Sempana yang dikenal sederhana, proporsional, namun relatif lebih jarang dijumpai dibandingkan Sempana luk 9, 13, maupun 17. Ricikannya berupa sekar kacang, jalen, lambe gajah, pejetan, dan greneng. Nama Sempana berasal dari supeno, yang bermakna harapan, impian, atau cita-cita. Karena… selengkapnya
Rp 3.500.000DHAPUR BALEBANG Balebang merupakan salah satu nama dhapur dalam tradisi perkerisan Jawa. Secara filosofis, nama ini dapat dimaknai sebagai simbol kesiapan, keteguhan, dan kemampuan menjadi tempat bertumpu. Piwulangnya adalah bahwa seseorang perlu memiliki pendirian yang kuat sekaligus mampu memberi manfaat bagi lingkungan di sekitarnya. PAMOR PEDARINGAN KEBAK Pedaringan Kebak secara harfiah berkaitan dengan pedaringan, yaitu… selengkapnya
Rp 4.000.000Dhapur Tilam Sari Menurut cerita pitutur lisan, salah satu wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih kemudian pasangannya adalah Tilam Sari. Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka, disaat prihatin dan… selengkapnya
Rp 26.000.000


















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.