● online
- Keris Mesem Pamor Wengkon Isen....
- Keris Singo Barong Luk 11 Kinatah Emas....
- Keris Sengkelat Luk 13 Pamor Udan Mas....
- Keris Naga Sapta Kinatah Emas....
- Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Kamarogan Sepu....
- Keris Pulanggeni Keleng Tangguh Majapahit....
- Keris Tilam Upih Pamor Tambal Pajajaran....
- Keris Tilam Upih Pamor Kulit Semangka....
Keris Sengkelat Pamor Wiji Timun Tangguh Srimanganti
Rp 12.500.000| Kode | MK340 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Sengkelat |
| Jenis | : Keris Luk 13 |
| Dhapur | : Sengkelat |
| Pamor | : Wiji Timun |
| Tangguh | : Mataram Srimanganti |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Bahan Kayu Cendana Wangi Iras |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Bahan Kayu Cendana |
| Pendok | : Bleweh, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Kendhit, Bahan Perak |
Keris Sengkelat Pamor Wiji Timun Tangguh Srimanganti
Keris Sengkelat Pamor Wiji Timun Tangguh Srimanganti
Keris ini memiliki dhapur Sengkelat, salah satu dhapur keris yang sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Sengkelat merupakan keris luk 13, dengan bentuk bilah berlekuk yang memberikan karakter visual tegas sekaligus dinamis.
Nama Sengkelat dalam salah satu pemaknaan tradisional sering dikaitkan dengan ungkapan “sengkel ati”, yang menggambarkan rasa tidak senang, kegelisahan, atau kemarahan hati. Dalam konteks simbolik, istilah tersebut kemudian kerap dikaitkan dengan kegelisahan rakyat kecil ketika berhadapan dengan kesewenang-wenangan penguasa.
Karena itu, Sengkelat memiliki filosofi yang menarik ketika ditempatkan sebagai pusaka para pemegang kekuasaan. Ia bukan semata perlambang kekuatan, melainkan dapat dibaca sebagai pengingat bahwa kekuasaan selalu membawa amanah. Seorang pejabat atau pemimpin semestinya mampu mendengar suara rakyat, memahami kegelisahan di bawahnya, dan tidak menggunakan kewenangan secara sewenang-wenang.
Dengan demikian, lekuk tiga belas pada Sengkelat bukan hanya menghadirkan karakter bentuk yang kuat, tetapi juga dapat menjadi simbol perjalanan seorang pemimpin dalam menghadapi berbagai persoalan dan tuntutan kehidupan.
Keistimewaan lain dari keris ini terletak pada susunan pamornya yang cukup menarik. Pada bagian bilah terdapat pamor Wiji Timun, sementara pada bagian gonjo terdapat kombinasi pamor Sumber dan pamor Winih.
Pamor Wiji Timun merupakan pamor yang bentuk motifnya menyerupai biji mentimun. Pada keris ini, motif tersebut tampak pada bagian tengah bilah dan memberikan aksen tersendiri pada permukaan bilah yang ber-luk 13. Secara simbolik, wiji atau benih erat dengan gagasan tentang awal kehidupan, pertumbuhan, dan potensi yang terus berkembang. Sebuah benih memang kecil dan sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan kemungkinan untuk menjadi sesuatu yang besar.
Yang menarik justru terdapat pada bagian gonjo. Di bagian bawah gonjo terlihat pamor Sumber, dengan bentuk bulatan yang menjadi ciri visualnya. Pamor ini termasuk menarik karena keberadaannya dapat terlihat bahkan ketika bilah masih berada di dalam warangka, terutama pada keris dengan bentuk warangka tertentu.
Dalam pemaknaan tradisional, kata sumber mengacu pada sesuatu yang menjadi asal atau tempat keluarnya aliran. Karena itu, pamor Sumber sering dimaknai sebagai perlambang rezeki yang terus mengalir dan tidak terputus, atau dalam istilah Jawa disebut nyumber—selalu ada dan terus muncul dari sumbernya.
Di sisi gonjo juga terdapat pamor Winih, yang bentuknya berupa bulatan-bulatan menyerupai biji. Secara visual, pamor ini memiliki kemiripan dengan pamor Sumber, tetapi letaknya berbeda. Winih berada pada bagian samping gonjo, sedangkan Sumber berada pada bagian bawahnya.
Perpaduan ketiga motif tersebut—Wiji Timun pada bilah, Sumber pada bagian bawah gonjo, dan Winih pada sisi gonjo—menjadi salah satu daya tarik utama keris ini. Kemunculan motif-motif tersebut pada sebuah keris luk 13 juga tergolong tidak terlalu umum, sehingga memberikan karakter tersendiri pada keseluruhan garapnya.
Jika dibaca secara simbolik, susunan pamor tersebut seolah menghadirkan satu rangkaian makna: benih yang tumbuh, memiliki sumber kehidupan, kemudian terus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Bukan sekadar tentang rezeki dalam pengertian materi, tetapi juga tentang bagaimana potensi yang dimiliki dapat dirawat hingga memberikan hasil dan manfaat.
Secara tangguh, keris ini diperkirakan berasal dari Mataram era Srimanganti. Penetapan tangguh dalam tradisi perkerisan pada dasarnya merupakan proses membaca berbagai ciri pada bilah, mulai dari bentuk dan proporsi, ricikan, karakter pamor, material, hingga teknik garap yang menjadi pembanding dengan keris-keris dari suatu periode atau lingkungan budaya tertentu.
Estimasi Mataram Srimanganti memberikan keris ini konteks sejarah yang menarik. Tradisi perkerisan Mataram berkembang dalam perjalanan panjang kebudayaan Jawa, ketika keris bukan hanya dipandang sebagai senjata, tetapi juga menjadi bagian dari identitas, simbol kedudukan, serta ekspresi estetika dan filosofi masyarakat pada zamannya.
Keris ini dilengkapi warangka ladrang gaya Solo, menggunakan bahan kayu cendana wangi Timor. Salah satu bagian yang menarik adalah penggunaan gandar iras, yaitu gandar yang dibuat tanpa sambungan dan merupakan satu kesatuan bahan dengan bagian pelokan atau warangkanya.
Penggunaan gandar iras memberikan kesan tersendiri pada warangka. Selain menunjukkan karakter bahan yang utuh, teknik tersebut juga membutuhkan pemilihan bahan yang baik serta ketelitian dalam proses pembuatannya. Kayu cendana wangi sendiri memiliki karakter khas, baik dari segi warna, serat, maupun aromanya, sehingga semakin memperkuat nilai estetis warangka ini.
Secara keseluruhan, Keris Sengkelat Gonjo Sumber merupakan sebuah pusaka yang menarik bukan hanya karena dhapur luk 13-nya, tetapi juga karena keunikan susunan pamornya. Wiji Timun pada bilah, Sumber dan Winih pada gonjo, dipadukan dengan estimasi tangguh Mataram Srimanganti serta warangka ladrang Solo berbahan cendana wangi bergandar iras, menjadikannya memiliki karakter yang cukup lengkap untuk diapresiasi dari sisi bentuk, teknik garap, estetika, maupun filosofi.
Lebih dari itu, nama Sengkelat sendiri menghadirkan sebuah pitutur yang relevan hingga sekarang: kekuasaan tidak seharusnya membuat seseorang lupa mendengar suara orang yang dipimpinnya. Sebab di balik setiap kewenangan selalu ada amanah, dan di balik setiap keputusan seorang pemimpin selalu ada kehidupan orang lain yang ikut terdampak.
MK340
Keris Sengkelat Pamor Wiji Timun Tangguh Srimanganti
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 918 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
DHAPUR SABUK INTEN Sabuk Inten merupakan salah satu dhapur keris yang memiliki bentuk khas dan dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Nama Sabuk Inten terdiri dari kata sabuk, yaitu ikat pinggang, dan inten, yaitu berlian atau permata. Sabuk adalah sesuatu yang mengikat dan menjaga, sedangkan inten menggambarkan sesuatu yang berharga. Dari sini, Sabuk Inten dapat dimaknai… selengkapnya
Rp 4.500.000Dhapur Sinom Sinom adalah salah satu dhapur keris lurus dengan ricikan antara lain sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, pejetan, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Sinom, dalam arti harfiah, merujuk pada daun pohon asem yang masih muda atau pada rambut halus di dahi—bathuk dalam bahasa Jawa—yang lembut dan tipis. Dari sifat alamiahnya, sinom melambangkan kelembutan,… selengkapnya
Rp 15.000.000Keris Pamor Sodo Lanang Sodo Sakler, Sodo adalah lidi, Sakler adalah satu batang, arti harafiahnya adalah Lidi Sebatang. Mungkin di setiap daerah berbeda penyebutannya, seperti ada yang menyebut adeg siji, sodo saren atau sodo lanang. Sesuai dengan namanya gambaran motif pamornya berupa garis lurus membujur sepanjang tengah bilah atau jika terdapat pada keris luk, garisnya membujur dari sor-soran hingga… selengkapnya
Rp 2.500.000Dhapur Parungsari Parungsari merupakan salah satu dhapur keris luk 13 dengan bentuk bilah sedang dan proporsional. Ricikannya antara lain kembang kacang, lambe gajah dua, sogokan rangkap, pejetan, sraweyan, dan greneng. Sekilas bentuknya menyerupai Sengkelat, tetapi keberadaan dua lambe gajah menjadi salah satu ciri pembeda utama Parungsari. Nama Parungsari dapat dimaknai dari kata parung, yang berkaitan… selengkapnya
Rp 4.200.000Dhapur Singa Sinebaning Dilah merupakan salah satu dhapur keris yang tergolong sangat langka, terutama pada kategori keris sepuh. Daya tarik utamanya terletak pada sosok singa yang dipahat anggun pada bagian gandik, dengan garap relief yang sangat rinci. Ketelitian pahatan tersebut memperlihatkan kematangan rasa sekaligus kepiawaian teknik seorang empu. Ricikan pada bilah juga masih tampak utuh… selengkapnya
Rp 150.000.000DHAPUR SABUK INTEN Sabuk Inten secara harfiah dapat dimaknai sebagai ikat pinggang berlian atau permata. Secara filosofi, nama ini dapat dimaknai sebagai simbol tekad, keteguhan, dan nilai diri. Sebagaimana permata yang bernilai, manusia juga diingatkan untuk menjaga kualitas diri melalui laku, kejujuran, dan tanggung jawab. PAMOR KULIT SEMANGKA Pamor Kulit Semangka mengambil nama dari kemiripannya… selengkapnya
Rp 5.000.000Keris Singa Barong Luk 11 Kinatah Emas Keris Singo Barong memiliki ciri khas yaitu gandhiknya diukir hiasan singa dengan kelamin yang tegang sebagai simbol kejantanan. Motif singa pada gandhik Keris Singo Barong tampak mirip dengan kilin, yaitu arca binatang mitologi penunggu gerbang dalam budaya China yang banyak terdapat di klenteng. Artinya, hal itu menunjukkan adanya… selengkapnya
Rp 55.000.000DHAPUR TILAM UPIH Tilam Upih secara harfiah berkaitan dengan tilam sebagai alas untuk beristirahat dan upih sebagai pelepah. Secara filosofi, dapat dimaknai sebagai simbol landasan hidup, ketenteraman, dan kesederhanaan. Piwulangnya mengingatkan manusia agar memiliki pijakan yang baik dalam menjalani kehidupan. PAMOR PEDARINGAN KEBAK Pedaringan Kebak berkaitan dengan pedaringan, tempat menyimpan beras atau bahan pangan, dan… selengkapnya
Rp 2.500.000




































Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.