● online
Keris Panimbal Luk 9 Sepuh
Rp 3.000.000| Kode | P236 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Panimbal |
| Jenis | : Keris Luk 9 |
| Dhapur | : Panimbal |
| Pamor | : Kulit Semangka |
| Tangguh | : Cirebon |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Kayu Sono Keling |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Sono Keling |
| Pendok | : Bunton, Bahan Tembaga |
| Mendak | : Widengan, Bahan Kuningan |
Keris Panimbal Luk 9 Sepuh
Dhapur Panimbal
Dhapur Panimbal merupakan salah satu bentuk keris luk sembilan yang memiliki ciri khas fisik yang mudah dikenali. Bilahnya berukuran sedang dengan pemukaan memakai ada-ada, sehingga tampilannya tampak nggigir lembu. Ricikan yang menyertai di antaranya kembang kacang, lambe gajah, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, serta greneng. Dhapur ini termasuk populer dan banyak dijumpai, terutama pada masa lalu ketika kalangan abdi dalem banyak memakai keris jenis ini. Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena Panimbal diyakini memiliki tuah yang membuat pemiliknya dipercaya oleh atasan, termasuk raja, untuk melaksanakan tugas-tugas penting. Dengan kata lain, Panimbal menjadi simbol kesetiaan, tanggung jawab, dan kelayakan seseorang untuk memikul amanah.
Makna filosofis Panimbal tidak dapat dilepaskan dari nama dan fungsi alat yang menjadi inspirasinya. Dalam tradisi perbesalen, panimbal adalah jenis palu kecil yang bentuknya memanjang, biasanya terbuat dari kayu atau bambu, dan merupakan instrumen yang sangat penting dalam proses pembuatan keris. Panimbal memiliki beberapa jenis, seperti Panimbal Kemlaku yang lebih berat dan digunakan untuk menempa serta melipat besi secara keras; Panimbal Panuding yang digunakan sang Empu untuk memberi petunjuk atau arahan kepada panjak; serta Panimbal Pepehan yang fungsinya hampir serupa namun lebih ringan. Menariknya, komunikasi antara Empu dan panjak saat menempa dilakukan tanpa kata-kata, hanya melalui ritme pukulan dan arah palu panimbal. Dengan demikian palu ini bukan sekadar alat, melainkan simbol bagaimana arahan diberikan: tepat, tenang, dan tidak banyak bicara.
Jika dilihat dari sudut makna yang lebih luas, Panimbal menjadi lambang kearifan dalam memberikan petunjuk dan keadilan. Palu panimbal bukanlah sumber kebenaran itu sendiri, melainkan alat untuk menyampaikan petunjuk. Yang menentukan makna pukulan bukan palunya, tetapi siapa yang memegangnya. Dari sinilah lahir pemahaman bahwa keadilan, amanah, dan kebenaran tidak terletak pada sarana, melainkan pada pribadi yang bertanggung jawab di baliknya. Dhapur Panimbal kemudian menjadi simbol seseorang yang mampu mengatur, mengarahkan, dan dipercaya memikul tugas dengan kepemimpinan yang tenang, tidak banyak bicara, tetapi tepat dalam tindakan—sebagaimana Empu yang bekerja diam-diam, namun menentukan arah dan hasil dari setiap tempaan besi. Kearifan inilah yang menjadikan Panimbal tidak sekadar bentuk keris, tetapi pengingat tentang pentingnya kualitas batin seseorang ketika diberi amanah untuk memimpin dan membimbing orang lain.
Pamor Kulit Semangka
Pamor Kulit Semangka, atau Ngulit Semangka, dinamai demikian karena coraknya menyerupai kulit buah semangka—berlapis, teratur, dan tampak hidup. Dalam filsafat Jawa, pamor ini dimaknai sebagai lambang rezeki yang berlapis dan berkesinambungan; bukan datang secara tiba-tiba lalu habis, melainkan mengalir seiring usaha, ketekunan, dan kecermatan pemiliknya.
Secara tuah, pamor Kulit Semangka dipercaya mendukung sifat optimis, keluwesan dalam pergaulan, serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Ia mengajarkan kemampuan menyesuaikan diri tanpa kehilangan prinsip—fleksibel nanging ora kecalan waton. Rezeki yang dibawanya tidak semata bersifat materi, tetapi juga berupa kemudahan relasi, kejernihan berpikir, dan kematangan rasa dalam menghadapi dinamika kehidupan.
Tangguh Cirebon
Kalau kita menyebut Cirebon, banyak orang sekarang mungkin langsung teringat pada hal-hal yang berbau mistis.
Padahal, di masa lalu Cirebon adalah kota pelabuhan besar dan kerajaan pesisir yang termasyhur, tempat bertemunya berbagai kebudayaan besar — Jawa, Sunda, Arab, Tionghoa, hingga Eropa.
Namun seiring waktu, kejayaannya seolah terkubur oleh kisah-kisah gaib dan legenda yang berkembang di masyarakat.
Berbagai cerita tentang pusaka-pusaka keraton pun kerap dibumbui oleh hal-hal yang sulit diverifikasi.
Menariknya, dalam sejarahnya, para Raja Kesultanan Cirebon tidak pernah menyebut secara jelas apa saja pusaka yang mereka miliki.
Dalam catatan keraton, hanya disebut secara umum bahwa peninggalan leluhur mereka berupa keris, tombak, dan kujang.
Beda dengan keraton lain seperti Yogyakarta yang punya Keris Kyai Joko Piturun sebagai simbol legitimasi kekuasaan,
di Cirebon, suksesi kekuasaan tidak pernah menggunakan pusaka sebagai tanda sah naiknya seorang raja.
Meski begitu, tetap ada pusaka inti yang disakralkan dan tidak diperlihatkan kepada publik,
serta pusaka umum yang kini sebagian disimpan di museum keraton.
Maka bisa dibilang, sebuah keberuntungan besar bila kita masih bisa menemukan jejak-jejak kejayaan masa lampau yang tersisa.
Keraton Kacirebonan, misalnya, tidak memiliki banyak pusaka yang tersimpan utuh di lingkungan keraton.
Sebagian besar justru bertebaran di masyarakat.
Hal ini tak lepas dari peristiwa tahun 1960, saat diberlakukannya Undang-Undang Swapraja.
Kala itu pihak keraton sempat mengira bahwa sistem kerajaan akan dibubarkan,
sehingga untuk mengantisipasi, dilakukan pembagian warisan — termasuk tanah-tanah sultan ground dan pusaka-pusaka keraton kepada para ahli waris.
Dan dari situlah, sebagian pusaka Cirebon akhirnya tersebar,
menjadi saksi bisu perjalanan panjang sebuah peradaban besar di pesisir utara Jawa yang kini tinggal jejaknya,
namun tetap menyisakan aura kebesaran dan wibawa sejarah yang sulit dilupakan.
P236
Keris Panimbal Luk 9 Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.856 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Waluring Luk 15 Kalawijan Pusaka ini hadir dengan busana Gayaman gagrak Surakarta yang dibuat dari kayu trembalo Aceh lawasan. Meski berusia tua, kondisinya masih sangat terjaga. Serat trembalo tampak tegas, nginden, dan memberi kesan estetis yang kuat pada keseluruhan wadag pusaka. Gaya busananya semakin lengkap dengan pendok mamas model blewah Surakarta yang menjadi penutup… selengkapnya
Rp 10.000.000Keris Udan Mas Tangguh Tuban Sepuh Menurut kisah tutur, Sunan Kalijaga pernah memberikan wejangan kepada para pengikutnya bahwa keris pertama yang sebaiknya dimiliki adalah Keris Tilam Upih. Sekilas, pilihan ini tampak ganjil. Mengapa bukan keris-keris yang dianggap lebih indah dan megah, seperti Sengkelat dengan lekuk tiga belas yang memikat, Pasopati dengan lambang kesatrianya, atau Megantara… selengkapnya
Rp 25.000.000Dhapur Sempana Luk 9 SEMPONO, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sembilan, yang tergolong sederhana. Keris ini hanya memakai kembang kacang, lambe gajahnya satu dan greneng. Ricikan lainnya tidak ada. Walaupun sederhana penampilannya, Sempana termasuk dhapur keris yang populer dan sering dijumpai. Pada jaman dahulu keris dengan dhapur sempono banyak dimiliki oleh para abdi… selengkapnya
Rp 2.800.000Keris Sengkelat Luk 13 Sengkelat, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan, ri pandan, greneng, dan… selengkapnya
Rp 7.000.000Keris Pasopati Kinatah Emas Tangguh PB X Keris Pasopati merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat populer. Karakteristik utamanya adalah bilahnya dengan permukaan nggigir sapi, serta beberapa ricikan khas seperti kembang kacang pogog, lambe gajah satu, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, greneng, ri pandan dan terkadang dilengkapi dengan gusen serta lis-lisan. Keberadaan dhapur Pasopati… selengkapnya
Rp 155.000.000Keris Murma Malela Mataram Amangkurat Nama Murma Malela sendiri berasal dari dua kata Jawa kuno: murma yang berarti tenang, sabar, dan pasrah, serta malela yang berarti berani, teguh, dan tidak gentar. Maka, filosofi dari Murma Malela adalah keteguhan dalam ketenangan — keberanian yang tidak lahir dari amarah, melainkan dari keyakinan. Ia menjadi simbol pribadi yang… selengkapnya
Rp 3.700.000Dhapur Tilam Sari Menurut cerita pitutur lisan, salah satu wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih kemudian pasangannya adalah Tilam Sari. Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka, disaat prihatin dan… selengkapnya
Rp 3.300.000Tombak Biring Jaler Sepuh Nama lainnya dalah Biring Lanang dimana dhapur tombak ini mempunyai arti atau konotasi yang sadis. Nama sesungguhnya adalah Biring ing Palanangan, dari asal kata biri artinya kebiri (dikebiri), ing artinya untuk atau pada, sedangkan palanangan berarti kemaluan laki-laki. Jadi artinya adalah tombak sebagai senjata untuk mengebiri kemaluan laki-laki. Orang barangkali tidak… selengkapnya
Rp 950.000Dhapur Sempana Bungkem Pusaka yang istimewa ini memiliki nama dhapur yang begitu fenomenal. Namanya Sempono Bungkem.. Ciri khas otentik yang gampang sekali kita lihat adalah sekar kacang pada gandiknya yang menancap dan menyatu dengan gandiknya. Sekar kacang inilah yang disebut dengan sekar kacang mbungkem. Konon Keris Sempono Bungkem memiliki angsar yang baik untuk membungkam lawan… selengkapnya
Rp 20.000.000
























Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.