● online
- Keris Makoro Kinatah Emas Pamor Wiji Timun
- Keris Sinom Robyong Kinatah Emas
- Keris Brojol Dwi Pamor Sepuh
- Keris Panimbal Kinatah Emas Pamor Untu Walang
- Keris Carita Genengan Pamor Banyu Mili
- Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Kamarogan Sepu
- Keris Jalak Ngore Tuban Sepuh
- Keris Sinom Mataram Amangkurat
Keris Udan Mas Tangguh Tuban Sepuh
Rp 25.000.000| Kode | P205 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Tilam Upih |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Tilam Upih |
| Pamor | : Udan Mas |
| Tangguh | : Tuban |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Kayu Cendana |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Trembalo |
| Mendak | : Kendit Bahan Perak - Inten |
| Pendok | : Blewah, Bahan Gongso |
Keris Udan Mas Tangguh Tuban Sepuh
Keris Udan Mas Tangguh Tuban Sepuh
Menurut kisah tutur, Sunan Kalijaga pernah memberikan wejangan kepada para pengikutnya bahwa keris pertama yang sebaiknya dimiliki adalah Keris Tilam Upih. Sekilas, pilihan ini tampak ganjil. Mengapa bukan keris-keris yang dianggap lebih indah dan megah, seperti Sengkelat dengan lekuk tiga belas yang memikat, Pasopati dengan lambang kesatrianya, atau Megantara yang terkenal karena bentuknya yang agung? Mengapa justru Tilam Upih yang dipilih—sebuah keris yang bentuknya sangat sederhana, bergandik polos, hanya dihiasi ricikan tikel alis, tanpa ornamen berlebih dan tanpa luk yang mengundang pesona?
Kesederhanaan itu ternyata menyimpan makna mendalam, khususnya bagi masyarakat Jawa. Tilam Upih dipahami sebagai perlambang alas, pondasi, atau dasar perjalanan seseorang dalam dunia tosan aji. Sebagaimana tilam yang menjadi alas tidur, keris ini mengingatkan bahwa setiap perkara besar selalu berawal dari pijakan yang sederhana.
Dalam konteks itu muncul pertanyaan: apakah seseorang tetap dapat memiliki pusaka pertama yang indah dan berkualitas tanpa mengabaikan dawuh Sunan Kalijaga? Pusaka yang diperkenalkan ini merupakan salah satu jawabannya. Keris ini mengenakan busana gayaman Surakarta dari kayu cendana, dilengkapi dengan pendok blewah berbahan gongso yang tebal. Keseluruhan busananya tampil wangun, sederhana, namun tetap memikat hati.
Bilah keris ini lurus, berdhapur Tilam Upih, berpamor Udan Mas, dan bertangguh Tuban Sepuh. Ia bukan sekadar Tilam Upih biasa, melainkan pusaka dengan kualitas garap, mutu material, dan bentuk pasikutan yang tinggi. Keistimewaan pamornya menjadi nilai lebih. Pamor Udan Mas merupakan salah satu pamor yang paling diburu oleh para pecinta keris, bukan hanya karena kelangkaannya, tetapi juga karena tingkat keterampilan yang diperlukan dalam proses pembuatannya. Pola bulatan kecil yang tersusun menyerupai butiran emas, lazimnya dengan formasi 2–1–2, memberikan kesan anggun sekaligus sarat makna.
Dalam tradisi Jawa, Udan Mas dikenal sebagai pamor sugih atau pamor yang melambangkan kekayaan. Namun pemaknaan ini kerap disalahartikan. Kekayaan yang diisyaratkan bukanlah kekayaan instan yang seolah-olah jatuh begitu saja tanpa usaha. Pamor ini menggambarkan turunnya berkah dari langit—rahmat yang hadir karena kehendak Tuhan, bukan karena angan-angan semata. Butiran emas pada bilah keris tidak sekadar melambangkan harta duniawi, melainkan karunia ilahi yang diberikan kepada mereka yang berusaha, berdoa, serta menjaga keseimbangan hidup. Sebagaimana hujan, rahmat Tuhan turun kepada seluruh makhluk-Nya; hanya hati yang bersih dan jiwa yang siaplah yang mampu menumbuhkan keberkahan di dalamnya.
Karena itu, pusaka Udan Mas berfungsi sebagai pengingat: jangan menagih hujan emas sebelum ladang batin siap menerimanya. Tanpa laku, tanpa doa, dan tanpa kesadaran akan kuasa Gusti Kang Akaryo Jagad, segala bentuk “emas” akan hanyut bersama waktu. Sesungguhnya kekayaan tanpa keberkahan hanyalah deretan angka—tidak menambah makna dan tidak menghadirkan kebahagiaan. Sebagaimana pitutur Raden Sosrokartono, “Sugih tanpa bondo, digdaya tanpa aji.” Kaya yang sejati bukanlah yang diukur dari banyaknya harta; digdaya yang sejati bukanlah yang bersandar pada pangkat, kedudukan, atau kekuasaan.
Dari sisi teknis, pamor Udan Mas termasuk pamor mlumah dan rekan, serta tergolong tidak pemilih. Dalam beberapa kasus, ia juga muncul sebagai pamor tiban—muncul tanpa disengaja pada keris-keris tua. Walaupun wujudnya tampak sederhana, kualitas tempa dan garap pada pusaka ini begitu baik; motifnya meneduhkan pandangan, sementara kelangkaannya menjadikannya semakin istimewa.
Kriteria keindahan Udan Mas berbeda di setiap wilayah. Bagi kalangan Jawa Timur, Udan Mas yang baik adalah yang bulatannya besar, rapi, wijang, renggang, dan tampak jelas. Ada dua tipenya: bilah yang bersih hanya dengan puseran Udan Mas, serta bilah yang tetap menyisakan pamor beras wutah di samping puseran tersebut. Sementara itu, kalangan Surakarta dan Yogyakarta lebih mengutamakan ekspresi empu—kekuatan artistik dan spirit pada bilah—daripada kerapiannya semata.
Dari segi teknik, terdapat dua cara pembuatan pamor Udan Mas. Pertama, pamor yang dibuat ketika bilah telah dingin, menghasilkan bulatan-bulatan yang rapat, teratur, dan halus. Kedua, pamor yang dibentuk ketika bilah masih panas, sebagaimana pada pusaka ini. Cara kedua menghasilkan tampilan yang lebih ekspresif dan hidup, serta justru banyak diminati oleh para penggemarnya.
Menanting pusaka berpamor Udan Mas ini menghadirkan harmoni antara kesederhanaan dhapur Tilam Upih dan kemuliaan garapnya, antara simbol “hujan emas” dan pesan spiritual yang dikandungnya. Pada akhirnya, Udan Mas mengajarkan bahwa kekayaan bukanlah soal berapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa besar keberkahan yang mampu dirasakan dan dibagikan kepada sesama.
P205
Keris Udan Mas Tangguh Tuban Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 2.723 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Brojol Secara dhapur, pusaka ini tampak sederhana. Ia berdhapur Brojol — bilahnya lurus, polos, tanpa banyak ricikan. Hanya terdapat pejetan sederhana dengan gandhik yang lugas, tanpa hiasan sekar kacang, ganan, atau ornamen lainnya. Namun justru di situlah letak kejujurannya. Ia tampil apa adanya, tegas, lugas, dan jernih dalam makna. Dhapur Brojol memang termasuk salah… selengkapnya
Rp 3.000.000Dhapur Keris Parungsari Parungsari adalah salah satu bentuk dhapur keris berluk tiga belas. Ukuran Panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot ada yang tidak, lambe gajahnya dua, sraweyan, sogokan rangkap, pejetan dan greneng. Sekilas mirip dengan dhapur Sengkelat, perbedaan diantara keduanya hanyalah; Keris dhapur Parungsari mempunyai dua (2) lambe gajah,… selengkapnya
Rp 5.500.000Keris Pasupati Tangguh Mataram Kartasura Keris Pasopati merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat populer. Karakteristik utamanya adalah bilahnya dengan permukaan nggigir sapi, serta beberapa ricikan khas seperti kembang kacang pogog, lambe gajah satu, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, greneng, ri pandan dan terkadang dilengkapi dengan gusen serta lis-lisan. Keberadaan dhapur Pasopati telah tercatat… selengkapnya
Rp 8.000.000Dhapur Keris Tilam Upih Menurut kitab sejarah Narendra Ing Tanah Jawi (1928) dhapur Tilam Upih (diberi nama Jaka Piturun) dibuat bebarengan dengan dhapur Balebang (diberi nama Pamunah) pada tahun 261 Saka pada era pemerintahan Nata Prabu Dewa Budhawaka. Dhapur Tilam Upih merupakan dhapur yang paling populer di seluruh wilayah Nusantara dan relatif bisa dijumpai pada… selengkapnya
Rp 3.000.000Keris Naga Sapta Kinatah Emas Sepuh Naga adalah salah satu makhluk mitologis yang jejaknya hadir hampir di seluruh belahan dunia. Setiap peradaban memiliki tafsir dan rupa tersendiri tentang naga, termasuk masyarakat Jawa yang mengenalnya sebagai makhluk agung, penjaga kesucian, sekaligus simbol kekuatan yang berasal dari alam adikodrati. Dalam tradisi Jawa, kisah-kisah tentang naga bukan sekadar… selengkapnya
Rp 150.000.000Dhapur Singo Barong Luk 13 Dhapur Singa Barong dikenal memiliki ragam luk yang beragam, mulai dari lurus, luk 3, luk 5, luk 7, hingga luk 13. Seluruhnya memiliki ciri khas yang sama pada bagian gandik, berupa ornamen Singa Jantan dalam posisi duduk bertumpu pada kedua kaki belakang, dengan kedua kaki depan lurus menyangga tubuh. Pada beberapa pusaka, ornamen ini… selengkapnya
Rp 100.000.000Keris Sabuk Inten Keris Sabuk Inten adalah salah satu pusaka yang begitu populer dalam khazanah tosan aji. Popularitasnya tak hanya karena keindahan bentuk dan garapnya, tetapi juga karena kisah dan simbolisme yang melekat di baliknya. Dalam berbagai babad dan tutur, Sabuk Inten sering digambarkan sebagai pusaka para bangsawan—lambang kemuliaan, kemakmuran, kesuksesan, dan kejayaan. Namun, berbeda… selengkapnya
Rp 25.500.000Dhapur Dholog Dholog adalah salah satu bentuk dhapur keris luk lima. Ukuran panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai gandik lugas, sogokan rangkap, tikel alis dan sraweyan. Ricikan lainnya tidak ada. “Jati nom arane dholog” Dholog berasal dari bahasa sansekerta yang artinya pohon jati muda. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada masanya. Ada masa… selengkapnya
Rp 3.600.000






















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.