● online
- Keris Tilam Upih Pamor Satriyo Pinayungan
- Keris Parungsari Cirebon Sultan Agung
- Keris Pasopati Kinatah Emas Tangguh PB X
- Keris Bakung Luk 5 Pamor Lar Gangsir
- Keris Naga Sapta Kinatah Emas Sepuh
- Keris Sempono Pamor Keleng
- Keris Sepokal Luk 7 Mataram Amangkurat
- Keris Sinom Kinatah Emas Mataram Amangkurat
Keris Pasopati Kinatah Emas Tangguh PB X
Rp 155.000.000| Kode | TAG192 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Pasupati |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Pasopati |
| Pamor | : Wengkon |
| Tangguh | : PB X (Pakubuwana ke-10) |
| Warangka | : Gayaman Surakarta Kayu Cendana |
| Hulu/Deder | : Narada Kandha Kayu Cendana |
| Pendok | : Bunton Bahan Tembaga Motif Lung-Lungan |
| Mendak | : Kendit Bahan Kuningan |
Keris Pasopati Kinatah Emas Tangguh PB X
Keris Pasopati Kinatah Emas Tangguh PB X
Keris Pasopati merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat populer. Karakteristik utamanya adalah bilahnya dengan permukaan nggigir sapi, serta beberapa ricikan khas seperti kembang kacang pogog, lambe gajah satu, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, greneng, ri pandan dan terkadang dilengkapi dengan gusen serta lis-lisan.
Keberadaan dhapur Pasopati telah tercatat dalam naskah kuno Serat Pustakaraja Purwa dan Pratelan yang ditulis sekitar abad XII. Bahkan, jenis dhapur ini sudah dikenal sejak tahun 230 Masehi, ketika tanah Jawa masih menyatu dengan Sumatra sebelum letusan Gunung Krakatau. Pada masa itu, keris dhapur Lar Ngatap, Pasopati, dan Cundrik dibuat oleh Mpu Ramadi di Medhangkamulan, ibu kota Mataram Kuno yang diperkirakan berada di kawasan Gunung Lawu.
Pasopati dalam Mitologi dan Filosofi Pewayangan
Nama Pasopati sebenarnya bukan berasal dari dunia perkerisan, melainkan dari dunia pewayangan. Pasopati adalah panah sakti milik Arjuna, yang diperoleh setelah melalui laku tapa dan berbagai ujian dalam lakon Arjuna Wiwaha. Arjuna, sebagai seorang kesatria utama, digambarkan sebagai sosok yang romantis, tampan, ahli perang, pemanah ulung, serta memiliki spiritualitas yang tinggi.
Dalam kisahnya, panah Pasopati bukanlah senjata biasa—sekali dilepaskan, ia mampu memecah menjadi seribu anak panah dan selalu tepat mengenai sasaran. Filosofi ini mencerminkan keoptimisan dan keteguhan dalam perjuangan hidup. Menjadi pribadi yang optimis bukan sekadar berharap segalanya berjalan dengan mudah, melainkan tetap berusaha, berjuang, dan memberikan yang terbaik hingga hasilnya tercapai.
Lebih dalam lagi, Pasopati melambangkan senjata pamungkas dalam menaklukkan sifat kehewanan dalam diri. Setiap manusia diberi hawa nafsu, tetapi manusia juga dibekali akal dan iman untuk mengendalikannya. Jihad terbesar bukanlah melawan musuh di medan perang, melainkan melawan hawa nafsu yang dapat menghancurkan potensi diri. Inilah makna terdalam dari Pasopati—pusaka yang mengajarkan manusia untuk terus meningkatkan kualitas diri, menjaga keadilan, ketenteraman, serta memberikan manfaat bagi sesama.
Pasopati dan Kepemimpinan
Dalam dunia perkerisan, dhapur Pasopati sering dikaitkan dengan kepemimpinan dan perjuangan. Bentuknya yang lurus tanpa luk melambangkan prinsip yang teguh, tidak mudah goyah, serta memiliki visi yang jelas dalam menjalani kehidupan. Pada masa lalu, keris Pasopati sering dimiliki oleh senopati atau panglima perang, sebagai simbol kesetiaan, keberanian, dan komitmen terhadap tugas yang diemban. Hingga kini, keris dengan dhapur Pasopati masih menjadi incaran mereka yang terjun dalam dunia politik, militer, dan kepemimpinan.
Kesederhanaan dalam bentuknya tidaklah berarti ketidaksempurnaan. Justru, ketika sebuah kesederhanaan dirancang dengan pertimbangan filosofis yang mendalam, ia menjadi keindahan yang tidak terukur. Pasopati bukan sekadar keris, melainkan pusaka yang membawa aura keagungan dan keteguhan jiwa.
Keistimewaan Pasopati Kinatah Emas Era Pakubuwana X
Selain dhapur yang sarat makna, keris Pasopati Kinatah Emas dari era Pakubuwana X memiliki keistimewaan tersendiri. Kinatah emas pada bilah keris bukan hanya sekadar hiasan, melainkan juga simbol strata sosial di masa lalu. Keris berkinatah emas pada zaman kerajaan biasanya hanya dimiliki oleh raja, kerabat bangsawan, atau tokoh masyarakat yang berpengaruh.
Selain itu, pamor Wengkon Isen yang terdapat pada bilahnya juga memiliki nilai esoteris tinggi. Pamor ini dipercaya memiliki kekuatan sebagai perisai perlindungan dan penangkal terhadap berbagai hal negatif. Kombinasi antara dhapur Pasopati, kinatah emas, dan pamor Wengkon Isen menjadikan keris ini sebagai pusaka yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga sarat dengan makna spiritual dan kepemimpinan.
Kelebihan Keris Surakarta Era Pakubuwana X
Keris-keris dari era Pakubuwana IX hingga Pakubuwana XII, termasuk Pasopati Kinatah Emas ini, memiliki keunggulan dalam kualitas bahan. Wilayah Surakarta dikenal memiliki besi, baja, dan meteor berkualitas tinggi, seperti Karang Kijang, Kamboja, Malela, dan Balebang.
Pada masa Pakubuwana IX dan X, banyak empu yang menggunakan besi Malela, sementara pada era setelahnya, bahan Bale Lumur mulai digunakan. Bale Lumur sendiri berasal dari besi meriam yang pecah atau rusak, yang kemungkinan besar berasal dari Baltimore, Inggris, sebuah kota yang terkenal sebagai pusat pembuatan senjata, termasuk meriam.
Penggunaan besi berkualitas ini menjadikan keris Surakarta era Pakubuwana X lebih kuat, awet, dan memiliki karakter yang khas. Tidak heran jika hingga saat ini, keris-keris dari era ini tetap menjadi buruan para kolektor dan pecinta pusaka.
Pusaka Pilih Tanding yang Penuh Makna
Keris Pasopati Kinatah Emas era Pakubuwana X adalah lebih dari sekadar senjata tradisional. Ia adalah pusaka yang penuh dengan nilai kepemimpinan, perjuangan, spiritualitas, serta estetika tinggi.
Sebagai pusaka yang sarat dengan makna, Pasopati mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang teguh, berpendirian lurus, serta memiliki tekad kuat dalam menghadapi kehidupan. Ia juga menjadi pengingat bahwa kesederhanaan bukanlah kelemahan, tetapi justru keindahan yang terbentuk dari kebijaksanaan dan filosofi mendalam.
Pada akhirnya, biarlah sang pusaka memilih takdirnya—menemukan pemilik yang tepat, yang mampu memahami makna sejatinya dan menjaga warisan budaya yang luar biasa ini. Terpujilah para Empu yang telah membabar pusaka ini, serta manusia-manusia yang menjaganya hingga kini.
TAG192
Keris Pasopati Kinatah Emas Tangguh PB X
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 3.363 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Pulanggeni Pulanggeni merupakan salah satu bentuk dhapur keris luk lima yang cukup populer di dunia perkerisan di Pulau Jawa. Pulang Geni bermakna ratus, hio atau dupa atau juga kemenyan (keharuman yang bersifat religius), memberikan makna bahwa dalam kehidupan banyaklah berbuat kebaikan agar jati diri menebar harum dan selalu dikenang walau hayat sudah tidak dikandung… selengkapnya
Rp 2.500.000Keris Carita Genengan Pajajaran Carito berarti sesuatu yang sedang berjalan atau suatu peristiwa, atau gambaran sifat manusia dalam kehidupan manusia sehari hari. Manusia dalam hidupnya memainkan alur cerita (carito) dan lakonnya sendiri-sendiri. Hidup yang kita jalani sekarang adalah hasil dari pemilihan seseorang tentang keputusan dan peran kehidupan yang akan dijalaninya. Genengan / Gunungan adalah salah… selengkapnya
Rp 3.000.000Dhapur Tilam Sari Menurut cerita pitutur lisan, salah satu wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih kemudian pasangannya adalah Tilam Sari. Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka, disaat prihatin dan… selengkapnya
Rp 26.000.000Dhapur Carang Soka Keris Carang Soka memuat perpaduan makna mendalam antara kata carang yang berarti ranting dan soka yang merujuk pada kesedihan, sehingga melahirkan gambaran filosofis tentang ranting yang bersedih namun tetap bertahan. Di balik citra itu, tersimpan pesan tentang seseorang yang melalui perjalanan duka tetapi mampu menemukan kekuatan batin untuk terus melangkah. Filosofi Carang… selengkapnya
Rp 5.500.000Dhapur Tilam Upih Dalam tradisi Jawa, tilam upih bermakna tikar dari anyaman daun yang digunakan untuk tidur—sebuah simbol ketenteraman dalam rumah tangga. Karena itu, dhapur Tilam Upih menjadi salah satu pusaka keluarga yang paling sering diwariskan turun-temurun. Para sesepuh memberikan dhapur ini kepada anak-cucu yang menikah sebagai doa agar rumah tangga mereka senantiasa tenteram, mulia, dan berkecukupan…. selengkapnya
Rp 3.800.000Dhapur Jalak Ngore Keris dapur jalak ngore secara umum merupakan simbolisasi pencapaian kebahagiaan dan melepaskan dari segala permasalahan hidup ( terkait dengan nafkah). Burung Jalak menurut pandangan orang jawa : Kukila Tumraping tiyang Jawi, mujudaken simbul panglipur, saget andayani renaning penggalih, satemah saget ngicalaken raos bebeg, sengkeling penggalih. Candrapasemonanipun : pindha keblaking swiwi kukila, ingkang… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Mesem Pamor Wengkon Isen Dhapur Mesem sering kali dianggap serupa dengan Sempaner dan Tumenggung karena ketiganya memiliki bentuk lurus, sama-sama memakai sekar kacang, dan tidak menggunakan sogokan. Namun, bila dicermati lebih dalam, terdapat perbedaan halus di antara mereka. Dhapur Sempaner memiliki sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, tikel alis, pejetan, dan ripandan. Sedangkan Tumenggung… selengkapnya
Rp 4.500.000Keris Brojol Tangguh Madura Koso Dalam masyarakat yang memandang keris dari sisi isoteri, seringkali dhapur keris Brojol ini dikaitkan dengan tuahnya “memperlancar kelahiran jabang bayi”. Sehingga mungkin banyak orang yang menganggap keris ini hanya cocok untuk mereka yang berprofesi sebagai dukun bayi. Benar dan tidaknya mengenai tuah tersebut, hanya Tuhan yang mengetahui. Namun di sisi… selengkapnya
Rp 3.333.000






























Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.