● online
- Keris Waluring Luk 15 Kalawijan
- Keris Nagasasra Kinatah Emas Kamarogan
- Keris Jalak Ngore Pamor Blarak Sineret
- Keris Kyai Bagong Astrajingga Kamardikan Kontempor
- Keris Brojol Pamor Mayang Mekar
- Keris Sabuk Inten Kinatah Gajah Singa
- Keris Sinom Robyong Pamor Tumpal Keli
- Keris Sengkelat Mataram Senopaten
Keris Sempono Bungkem Pamor Slewah
Rp 20.000.000| Kode | PRA187 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Sempana Bungkem |
| Jenis | : Keris Luk 9 |
| Dhapur | : Sempana Bungkem |
| Pamor | : Mrutu Sewu + Wengkon Isen |
| Tangguh | : Pajajaran |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Bahan Kayu Trembalo Iras |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Bahan Kayu Sono |
| Mendak | : Selut Bahan Kuningan |
| Pendok | : Blewah Bahan Tembaga |
Keris Sempono Bungkem Pamor Slewah
Dhapur Sempana Bungkem
Pusaka yang istimewa ini memiliki nama dhapur yang begitu fenomenal.
Namanya Sempono Bungkem.. Ciri khas otentik yang gampang sekali kita lihat adalah sekar kacang pada gandiknya yang menancap dan menyatu dengan gandiknya. Sekar kacang inilah yang disebut dengan sekar kacang mbungkem.
Konon Keris Sempono Bungkem memiliki angsar yang baik untuk membungkam lawan dan menaklukan musuh.
Jika kita lihat lebih dalam, nilai yang tersemat dari ajaran sempono bungkem tak hanya soal mengalahkan lawan. Tetapi Keris dengan luk berjumlah sembilan dengan sekar kacang mbungkem ini seperti mengisyaratkan pesan, bahwa manusia harus mampu mbungkem atau nutupi babakan howo songo, mampu mengendalikan sembilan hawa nafsunya, alias berpuasa dengan sebenarnya puasa.
Hawa sanga itu sendiri yang pertama adalah mata, kedua telinga, ketiga hidung, keempat mulut, kelima kemaluan, keenam saluran pembuangan dan selanjutnya adalah pikiran, hati, roh dan yang terakhir adalah rasa.
Ketika seseorang mampu mengendalikan sembilan jalur hawanya, ia akan secara mendalam terhubung dengan alam semesta dan kedalaman batinnya. Sehingga manusia akan mendapatkan kejernihan dalam berfikir serta bijak dalam laku dan ucapannya.
Pamor Slewah
Keris ini berpamor slewah, pada satu sisi bilahnya terdapat pamor wengkon isen dan sisi bilah sebaliknya berpamor mrutu sewu. Sebagian masyarakat perkerisan juga menyebut pamor seperti ini sebagai pamor dwi warno. Pamor yang berbeda pada kedua sisi bilahnya tersebut semakin menambah nilai keindahan, filosofi juga kelangkaan dari Pusaka ini.
Pamor Wengkon Isen
Pamor Wengkon Isen, wengkon adalah pamor yang bentuknya menyerupai garis yang membingkai sepanjang sisi pinggir bilah. Pola pamor ini melambangkan perisai, perlindungan, atau penangkal terhadap suatu malapetaka, penyakit, nasib buruk dan kejadian-kejadian yang tak terduga. Sedangkan isen dalam bahasa Jawa artinya adalah isian. Maksud pamor wengkon isen adalah bentuk pamor wengkon yang mempunyai isian pamor lain di dalamnya. Tuahnya kira-kira hampir sama.
Pamor Mrutu Sewu
Pamor Mrutu Sewu, mrutu (Culicoides) adalah sejenis serangga kecil yang umumnya aktif beterbangan pada waktu menjelang magrib dan subuh, sedangkan sewu adalah seribu. Jadi mrutu sewu adalah gerombolan mrutu sebanyak seribu. Seribu ini sebetulnya bukan untuk menunjukkan nilai atau jumlah yang pasti. Bagi orang Jawa sesuatu yang jumlahnya dianggap banyak sering diistilahkan dengan sewu. Pada bilah suatu keris/tombak/pedang maupun tosan aji lainya pamor mrutu sewu memiliki bentuk gambaran berupa kumpulan garis lengkung dan bulatan-bulatan kecil yang saling berdekatan, dan menyebar di seluruh permukaan bilah keris, sehingga tampak ruwet.
Sepintas pamor mrutu sewu hampir mirip dengan pamor udan mas, keduanya sama-sama bermotif seperti kumpulan turunnya titik-titik air yang jatuh menggenangi permukaan bumi. Namun pada pamor udan mas titik-titik air (puseran) tersebut lebih besar motifnya dan cenderung beraturan. Sedangkan pada pamor mrutu sewu, jika diamati puseran tersebut lebih kecil dan tampak menggerombol di beberapa area. Sebagian penggemar keris beranggapan bahwa pamor mrutu sewu memiliki tuah yang baik, dimana pemiliknya akan gampang mencari rezeki, ibaratnya rezeki tiba-tiba akan datang menyerang, yang tak pernah disangka waktu dan asalnya. Pamor ini juga tergolong pamor bukan pemilih, maka siapapun akan cocok. Adapula kepercayaan lain mengenai pamor mrutu sewu, pamor ini juga banyak dicari oleh para orang tua yang anak gadisnya ingin segera memperoleh jodoh atau janda yang sudah tidak sabar menemukan pasangan lagi.
Tangguh Pajajaran
Pusaka dari era Pajajaran ini masih menyisakan pesona yang luar biasa.
Ia bukan hanya artefak, tetapi warisan peradaban yang membawa jejak masa keemasan tanah Sunda.
Jika menelusuri akar sejarahnya, Pajajaran bukan sekadar nama kerajaan, melainkan puncak perjalanan panjang kebudayaan Sunda.
Ia merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan besar sebelumnya: Tarumanegara, Galuh, Kawali, dan Sunda, yang membentuk fondasi politik dan budaya di tanah Pasundan.
Berdasarkan Prasasti Sanghyang Tapak, kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-10 Masehi, dipimpin oleh Sri Jayabhupati.
Namun puncak keemasan Pajajaran terjadi di bawah pemerintahan Prabu Siliwangi, atau Sri Baduga Maharaja, yang naik tahta pada tahun 1428 Masehi.
Pada masa itu, rakyat hidup tenteram dan sejahtera di bawah ajaran silih asah, silih asih, silih asuh — saling mengasah pengetahuan, saling mengasihi, dan saling menjaga.
Prabu Siliwangi dikenal bijaksana, menegakkan keadilan, serta memajukan agama dan kebudayaan.
Ia juga memperkuat pertahanan dengan seratus ribu prajurit dan puluhan gajah perang — simbol kejayaan dan kemakmuran Pajajaran.
Namun waktu tak pernah berhenti.
Seiring datangnya pengaruh Islam dan menguatnya Kesultanan Banten, sinar Pajajaran perlahan meredup.
Tahun 1579 menjadi penanda berakhirnya masa gemilang itu, ketika Maulana Yusuf dari Banten menyerang Pakuan dan membawa Palangka Sriman Sriwacana, singgasana kebesaran Pajajaran, ke Surosowan.
Sejak saat itu, nama Pajajaran hanya tinggal legenda — bergema dalam naskah-naskah kuno dan ingatan rakyat.
Para bangsawan yang tersisa mengasingkan diri ke pedalaman Lebak, mempertahankan cara hidup lama yang berpadu dengan alam.
Mereka inilah yang kini dikenal sebagai masyarakat Baduy, pewaris nilai-nilai luhur Pajajaran yang tetap hidup hingga hari ini.
Begitulah hakikat sebuah keris — ia tidak hanya bisa dibaca dari bentuk dan keindahannya saja,
tetapi juga dari nilai filosofi, kisah sejarah, dan pesan peradaban yang dikandungnya.
Dalam sebilah bilah besi, tersimpan kisah manusia, doa, dan kebijaksanaan dari masa silam.
PRA187
Keris Sempono Bungkem Pamor Slewah
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.499 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Tilam Upih TILAM UPIH, dalam terminologi Jawa bermakna tikar yang terbuat dari anyaman daun untuk tidur, diistilahkan untuk menunjukkan ketenteraman keluarga atau rumah tangga. Oleh karena itu, banyak sekali pusaka keluarga yang diberikan secara turun-temurun dalam dapur Tilam Upih. Ini menunjukkan adanya harapan dari para sesepuh keluarga agar anak-cucunya nanti bisa memperoleh ketenteraman dan… selengkapnya
Rp 3.555.000Dhapur Kala Nadhah Pada jaman kerajaan dulu di jawa, keris-keris ber-luk 5 hanya boleh dimiliki oleh raja, pangeran, keluarga raja, dan para bangsawan yang memiliki kekerabatan atau memiliki garis keturunan raja, bupati dan adipati (Ningrat). Selain mereka, tidak ada orang lain yang boleh memiliki atau menyimpan keris ber-luk 5. Demikianlah aturan yang berlaku di masyarakat… selengkapnya
Rp 4.500.000Keris Carita Genengan Pamor Banyu Mili Carita Genengan berasal dari kata Carita (lakon atau perjalanan hidup) dan Genengan (Gunungan dalam wayang, melambangkan perjalanan spiritual manusia). Keris ini menggambarkan bahwa setiap individu menjalani kisah hidupnya sesuai dengan pilihan dan perannya masing-masing. Seperti Gunungan yang meruncing ke atas, manusia diharapkan semakin mendekat pada kesempurnaan jiwa, menyatukan rasa,… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Naga Raja Kinatah Emas Sepuh Keris berdhapur Naga Raja merupakan salah satu bentuk pusaka yang memiliki kedudukan istimewa dalam dunia perkerisan. Sebagaimana namanya, Naga Raja berarti “raja dari para naga” — simbol tertinggi dari kekuasaan, kebijaksanaan, dan pengendalian diri. Dalam pandangan budaya Jawa, naga bukan sekadar makhluk mitologis, melainkan lambang kekuatan kosmis yang menjaga… selengkapnya
Rp 55.000.000Dhapur Jalak Ngore Keris dapur jalak ngore secara umum merupakan simbolisasi pencapaian kebahagiaan dan melepaskan dari segala permasalahan hidup ( terkait dengan nafkah). Burung Jalak menurut pandangan orang jawa : Kukila Tumraping tiyang Jawi, mujudaken simbul panglipur, saget andayani renaning penggalih, satemah saget ngicalaken raos bebeg, sengkeling penggalih. Candrapasemonanipun : pindha keblaking swiwi kukila, ingkang… selengkapnya
Rp 100.000.000Keris Sepokal Luk 7 Mataram Amangkurat Siapa yang tak kenal pohon pisang? Tanaman sederhana yang tumbuh di mana-mana, namun penuh makna kehidupan. Dari akar hingga daun, dari batang hingga buahnya — semua memberi manfaat, tak ada yang sia-sia darinya. Dari pohon inilah para empu leluhur kita mengambil ilham, lalu menurunkannya dalam wujud pusaka yang disebut… selengkapnya
Rp 4.000.000Keris Singo Barong Pamor Pedaringan Kebak Keris Singo Barong memiliki ciri khas yaitu gandhiknya diukir hiasan singa dengan kelamin yang tegang sebagai simbol kejantanan. Motif singa pada gandhik Keris Singo Barong tampak mirip dengan kilin, yaitu arca binatang mitologi penunggu gerbang dalam budaya China yang banyak terdapat di klenteng. Artinya, hal itu menunjukkan adanya pengaruh… selengkapnya
Rp 25.000.000Keris Naga Sapta Luk 7 Pamor Keleng Naga merupakan salah satu binatang mitologis yang melegenda hampir di seluruh dunia. Sebagai makhluk mitologis perwujudannya pun akan tampak berbeda-beda, tak terkecuali Naga Jawa. Kisah-kisah tentang Naga di Pulau Jawa pada umumnya berintikan kisah-kisah mitologis mengenai tuntunan (pedoman nilai-nilai luhur) dan tontonan (divisualkan secara indah). Dalam rentang sejarahnya… selengkapnya
Rp 7.200.000


































Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.