● online
- Keris Mesem Pamor Segoro Muncar Amangkurat
- Keris Jalak Ngore Pamor Ron Genduru Sinebit Wineng
- Tombak Biring Jaler Sepuh
- Keris Sempaner Pamor Singkir
- Keris Waluring Luk 15 Kalawijan
- Keris Sengkelat Luk 13 Pamor Beras Wutah
- Keris Brojol Gonjo Iras Pamor Wengkon
- Keris Pasopati Kinatah Emas Tangguh PB X
Keris Sambada Luk 3 Pamor Ron Genduru
Rp 13.000.000| Kode | P185 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Sambada |
| Jenis | : Keris Luk 3 |
| Dhapur | : Sambada |
| Pamor | : Ron Genduru |
| Tangguh | : Blambangan |
| Warangka | : Gayaman Yogyakarta, Bahan Kayu Timoho |
| Deder/Handle | : Banaran, Bahan Kayu Kemuning Bang |
| Mendak | : Widengan Bahan Kuningan |
| Pendok | : Bunton Slorok Kemalo Merah Bahan Kuningan |
Keris Sambada Luk 3 Pamor Ron Genduru
Keris Sambada Luk 3 Pamor Ron Genduru
“Ora saben pusaka kudu muni, nanging yen wis tumarima, atimu bakal krasa gumrenggah.”
Sebuah ungkapan sederhana yang mengandung kedalaman rasa. Ada pusaka-pusaka yang tidak perlu bersuara, namun kehadirannya saja sudah mampu menggetarkan batin. Begitu pula pusaka ini—tidak hanya mencolok secara visual, tetapi juga memancarkan wibawa yang halus sekaligus kuat.
Warangkanya menggunakan gaya gayaman Yogyakarta, dipahat dari kayu timoho pilihan—kayu yang telah lama menjadi kebanggaan para penggemar tosan aji karena corak serat alaminya yang indah, mriyayeni, dan menghadirkan nuansa leluhur yang kental. Pada warangka ini tampak motif pelet nyeret, guratan-guratan halus menyerupai marmer alami yang menegaskan keanggunannya.
Busana pusaka tersebut dilengkapi pendok bunton slorok kemalo merah. Warna merah kemalo bukan sembarang hiasan, tetapi sebuah penanda tatanan sosial. Pada masa lalu, terutama di lingkungan keraton, pendok kemalo merah hanya dikenakan oleh raja, kerabat dalem, pangeran, dan kaum bangsawan. Warna hijau diperuntukkan bagi abdi dalem berpangkat bupati, penewu, dan mantri; warna coklat bagi bekel; sedangkan kemalo hitam dikenakan oleh abdi dalem biasa serta rakyat jelata. Dengan demikian, busana pusaka ini tidak hanya menampilkan estetika, tetapi juga merekam jejak struktur sosial masa lampau.
Bilahan keris ini menghadirkan kombinasi langka: dhapur Sambada dengan pamor Ron Genduru Sinebit. Dapur Sambada, salah satu pakem luk 3, ditandai ricikan seperti sekar kacang pogog, jalen, lambe gajah satu, dan greneng yang memperkuat karakter estetika sekaligus filosofi yang dikandungnya. Kata sambada sendiri berarti “cukup” atau “terpenuhi”, sebuah doa agar pemiliknya hidup dalam kecukupan, keseimbangan, dan kebijaksanaan—tidak berlebihan namun tidak berkekurangan.
Kesederhanaan bentuknya justru menghadirkan keanggunan yang tenang. Ia seolah mengajarkan bahwa kemuliaan tidak harus dipamerkan; sering kali ia tersembunyi dalam keteduhan sikap dan ketulusan hati. Dalam ranah kepemimpinan, dhapur Sambada melambangkan pemimpin yang adil, bijaksana, dan membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Pamor Ron Genduru Sinebit menambah nilai keistimewaan bilah ini. Terinspirasi dari bentuk daun pakis—simbol ketahanan, pertumbuhan, dan keindahan alami—pamor ini merupakan pamor rekan yang hanya dapat ditempa oleh empu berkemampuan tinggi. Kata sinebit, yang berarti “ditutupi sebagian”, mengisyaratkan bahwa sebagian kekuatan tidak perlu ditampakkan secara terang-terangan. Ia melambangkan pribadi yang memiliki potensi besar, namun tetap rendah hati dan penuh kebijaksanaan. Dalam bahasa esoteris, pamor ini diyakini menjadi doa perlindungan dari bahaya-bahaya tak kasat mata dan pengaruh negatif yang tersembunyi.
Tekstur pamornya tampak ngawat, pandes, dan terasa landep ketika diraba—sebuah ciri kuat keris-keris Tangguh Blambangan yang kokoh dan berkarakter.
Keris ini memikul narasi panjang dari masa ketika Kerajaan Blambangan berdiri sebagai kekuatan mandiri setelah runtuhnya Majapahit pada 1527. Selama berabad-abad Blambangan menjadi perebutan kekuasaan antara Demak, Mataram, serta kerajaan-kerajaan Bali seperti Gelgel, Buleleng, hingga Mengwi. Konflik yang berkepanjangan menimbulkan pemberontakan besar antara tahun 1655–1697 dan memaksa istana berpindah-pindah: dari Kedawung, Bayu, Macanputih, Kutalateng, hingga akhirnya bermuara di Banyuwangi pada 1774.
Di tengah badai politik dan militer itulah para empu Blambangan seperti Ki Mendung, Ki Tembarok, Ki Supagati, hingga Pangeran Pitrang mencipta pusaka-pusaka yang tidak hanya menjadi senjata, tetapi juga simbol martabat, spiritualitas, dan identitas masyarakat Blambangan. Keris-keris mereka terkenal tangguh, dengan pamor miring khas yang menjadi ciri seni tempa kawasan ujung timur Jawa.
Pusaka ini adalah salah satu saksi bisu perjalanan itu. Dalam bentuknya yang elok tersimpan keteguhan, dalam pamornya tersimpan falsafah hidup, dan dalam sejarahnya tersimpan napas panjang perjuangan.
P185
Keris Sambada Luk 3 Pamor Ron Genduru
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.714 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Naga Raja Kinatah Emas Sepuh Keris berdhapur Naga Raja merupakan salah satu bentuk pusaka yang memiliki kedudukan istimewa dalam dunia perkerisan. Sebagaimana namanya, Naga Raja berarti “raja dari para naga” — simbol tertinggi dari kekuasaan, kebijaksanaan, dan pengendalian diri. Dalam pandangan budaya Jawa, naga bukan sekadar makhluk mitologis, melainkan lambang kekuatan kosmis yang menjaga… selengkapnya
Rp 55.000.000Dhapur Sinom Sinom adalah salah satu dhapur keris lurus dengan ricikan antara lain sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, pejetan, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Sinom, dalam arti harfiah, merujuk pada daun pohon asem yang masih muda atau pada rambut halus di dahi—bathuk dalam bahasa Jawa—yang lembut dan tipis. Dari sifat alamiahnya, sinom melambangkan kelembutan,… selengkapnya
Rp 3.500.000Dhapur Brojol Secara dhapur, pusaka ini tampak sederhana. Ia berdhapur Brojol — bilahnya lurus, polos, tanpa banyak ricikan. Hanya terdapat pejetan sederhana dengan gandhik yang lugas, tanpa hiasan sekar kacang, ganan, atau ornamen lainnya. Namun justru di situlah letak kejujurannya. Ia tampil apa adanya, tegas, lugas, dan jernih dalam makna. Dhapur Brojol memang termasuk salah… selengkapnya
Rp 2.900.000Dhapur Tilam Upih Dalam adat Jawa, terdapat tiga peristiwa penting dalam kehidupan manusia, yaitu Metu, Manten, dan Mati—atau kelahiran, perkawinan, dan kematian. Peristiwa perkawinan memiliki tradisi khusus berupa keris Kancing Gelung, di mana pada masa lampau, orang tua pihak mempelai perempuan memiliki kewajiban utama memberikan keris pusaka kepada mempelai pria sebagai Kancing Gelung. Jika pihak… selengkapnya
Rp 3.500.000Dhapur Keris Tilam Upih Menurut kitab sejarah Narendra Ing Tanah Jawi (1928) dhapur Tilam Upih (diberi nama Jaka Piturun) dibuat bebarengan dengan dhapur Balebang (diberi nama Pamunah) pada tahun 261 Saka pada era pemerintahan Nata Prabu Dewa Budhawaka. Dhapur Tilam Upih merupakan dhapur yang paling populer di seluruh wilayah Nusantara dan relatif bisa dijumpai pada… selengkapnya
Rp 2.500.000Keris Brojol Pamor Kul Buntet Sekar Lampes Mendapatkan pusaka sekelas ini kini menjadi hal yang semakin langka. Di era digital seperti sekarang, ketika literasi dan informasi begitu mudah diakses, banyak orang mulai memahami dan menelusuri dunia tosan aji dengan lebih cermat. Mereka tahu membedakan mana keris yang sekadar indah, mana yang benar-benar langka, dan mana… selengkapnya
Rp 15.000.000Dhapur Panji Anom Dhapur Keris Panji Anom atau Panji Nom dikenal dengan salah satu keris yang memiliki bentuk lurus ini merupakan salah satu pusaka yang masih dicari oleh kebanyakan orang terutama untuk para pecinta keris. Bentuk dari keris pusaka panji anom ini seperti membungkuk dan mempunyai ukuran panjang yang sedang, permukaan bilahnya nggigir sapi. Keris… selengkapnya
Rp 25.500.000






















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.