● online
- Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Kamarogan Sepu
- Keris Sengkelat Tangguh Blambangan
- Keris Brojol Gonjo Iras Tuban Winongan
- Keris Singa Sangu Tumpeng Kinatah Emas HB V
- Keris Dholog Luk 5 Cirebon Sultan Agung
- Keris Panji Nom Kinatah Emas Makoro
- Keris Carita Keprabon Luk 11 Mataram Sultan Agung
- Keris Karno Tinanding Luk 17 Bali Sepuh
Keris Sambada Luk 3 Pamor Ron Genduru
Rp 13.000.000| Kode | P185 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Sambada |
| Jenis | : Keris Luk 3 |
| Dhapur | : Sambada |
| Pamor | : Ron Genduru |
| Tangguh | : Blambangan |
| Warangka | : Gayaman Yogyakarta, Bahan Kayu Timoho |
| Deder/Handle | : Banaran, Bahan Kayu Kemuning Bang |
| Mendak | : Widengan Bahan Kuningan |
| Pendok | : Bunton Slorok Kemalo Merah Bahan Kuningan |
Keris Sambada Luk 3 Pamor Ron Genduru
Keris Sambada Luk 3 Pamor Ron Genduru
“Ora saben pusaka kudu muni, nanging yen wis tumarima, atimu bakal krasa gumrenggah.”
Sebuah ungkapan sederhana yang mengandung kedalaman rasa. Ada pusaka-pusaka yang tidak perlu bersuara, namun kehadirannya saja sudah mampu menggetarkan batin. Begitu pula pusaka ini—tidak hanya mencolok secara visual, tetapi juga memancarkan wibawa yang halus sekaligus kuat.
Warangkanya menggunakan gaya gayaman Yogyakarta, dipahat dari kayu timoho pilihan—kayu yang telah lama menjadi kebanggaan para penggemar tosan aji karena corak serat alaminya yang indah, mriyayeni, dan menghadirkan nuansa leluhur yang kental. Pada warangka ini tampak motif pelet nyeret, guratan-guratan halus menyerupai marmer alami yang menegaskan keanggunannya.
Busana pusaka tersebut dilengkapi pendok bunton slorok kemalo merah. Warna merah kemalo bukan sembarang hiasan, tetapi sebuah penanda tatanan sosial. Pada masa lalu, terutama di lingkungan keraton, pendok kemalo merah hanya dikenakan oleh raja, kerabat dalem, pangeran, dan kaum bangsawan. Warna hijau diperuntukkan bagi abdi dalem berpangkat bupati, penewu, dan mantri; warna coklat bagi bekel; sedangkan kemalo hitam dikenakan oleh abdi dalem biasa serta rakyat jelata. Dengan demikian, busana pusaka ini tidak hanya menampilkan estetika, tetapi juga merekam jejak struktur sosial masa lampau.
Bilahan keris ini menghadirkan kombinasi langka: dhapur Sambada dengan pamor Ron Genduru Sinebit. Dapur Sambada, salah satu pakem luk 3, ditandai ricikan seperti sekar kacang pogog, jalen, lambe gajah satu, dan greneng yang memperkuat karakter estetika sekaligus filosofi yang dikandungnya. Kata sambada sendiri berarti “cukup” atau “terpenuhi”, sebuah doa agar pemiliknya hidup dalam kecukupan, keseimbangan, dan kebijaksanaan—tidak berlebihan namun tidak berkekurangan.
Kesederhanaan bentuknya justru menghadirkan keanggunan yang tenang. Ia seolah mengajarkan bahwa kemuliaan tidak harus dipamerkan; sering kali ia tersembunyi dalam keteduhan sikap dan ketulusan hati. Dalam ranah kepemimpinan, dhapur Sambada melambangkan pemimpin yang adil, bijaksana, dan membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Pamor Ron Genduru Sinebit menambah nilai keistimewaan bilah ini. Terinspirasi dari bentuk daun pakis—simbol ketahanan, pertumbuhan, dan keindahan alami—pamor ini merupakan pamor rekan yang hanya dapat ditempa oleh empu berkemampuan tinggi. Kata sinebit, yang berarti “ditutupi sebagian”, mengisyaratkan bahwa sebagian kekuatan tidak perlu ditampakkan secara terang-terangan. Ia melambangkan pribadi yang memiliki potensi besar, namun tetap rendah hati dan penuh kebijaksanaan. Dalam bahasa esoteris, pamor ini diyakini menjadi doa perlindungan dari bahaya-bahaya tak kasat mata dan pengaruh negatif yang tersembunyi.
Tekstur pamornya tampak ngawat, pandes, dan terasa landep ketika diraba—sebuah ciri kuat keris-keris Tangguh Blambangan yang kokoh dan berkarakter.
Keris ini memikul narasi panjang dari masa ketika Kerajaan Blambangan berdiri sebagai kekuatan mandiri setelah runtuhnya Majapahit pada 1527. Selama berabad-abad Blambangan menjadi perebutan kekuasaan antara Demak, Mataram, serta kerajaan-kerajaan Bali seperti Gelgel, Buleleng, hingga Mengwi. Konflik yang berkepanjangan menimbulkan pemberontakan besar antara tahun 1655–1697 dan memaksa istana berpindah-pindah: dari Kedawung, Bayu, Macanputih, Kutalateng, hingga akhirnya bermuara di Banyuwangi pada 1774.
Di tengah badai politik dan militer itulah para empu Blambangan seperti Ki Mendung, Ki Tembarok, Ki Supagati, hingga Pangeran Pitrang mencipta pusaka-pusaka yang tidak hanya menjadi senjata, tetapi juga simbol martabat, spiritualitas, dan identitas masyarakat Blambangan. Keris-keris mereka terkenal tangguh, dengan pamor miring khas yang menjadi ciri seni tempa kawasan ujung timur Jawa.
Pusaka ini adalah salah satu saksi bisu perjalanan itu. Dalam bentuknya yang elok tersimpan keteguhan, dalam pamornya tersimpan falsafah hidup, dan dalam sejarahnya tersimpan napas panjang perjuangan.
P185
Keris Sambada Luk 3 Pamor Ron Genduru
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.406 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Wedhung Wedung atau Wedhung adalah salah satu jenis senjata tradisional Jawa yang dulu merupakan kelengkapan pakaian pejabat keraton tertentu. Tidak seperti keris yang hanya dikenakan oleh pria, di keraton wedung bisa dikenakan pria dan wanita. Bentuk wedung seperti pisau pendek, ujungnya runcing, sisi depannya tajam, sedangkan punggungnya tumpul. Pada sisi depan bagian bawah ada bagian… selengkapnya
Rp 4.555.000Dhapur Sengkelat Sengkelat, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan, ri pandan, greneng, dan kruwingan. Membicarakan… selengkapnya
Rp 20.000.000Keris Naga Liman Kinatah Emas NAGA LIMAN, adalah salah satu bentuk dhapur keris, dimana bagian gandik keris diukir dengan bentuk kepala gajah, lengkap dengan belalainya (kadang dibuat sangat detail lengkap dengan bagian gading dan telinga) tetapi tanpa badan sang gajah itu sendiri karena badan naga liman merupakan perwujudan dari sosok ular (biasanya dibuat tersamar mirip… selengkapnya
Rp 37.000.000Dhapur Carubuk Luk 7 Keris Carubuk adalah salah satu dhapur luk 7 yang cukup populer dan memiliki kisah yang sangat menarik di balik kehadirannya. Menurut cerita rakyat, pusaka ini diyakini sebagai salah satu peninggalan Sunan Kalijaga, hasil karya Empu Supa Anom, sang pandai besi legendaris yang hidup sezaman dengan para wali. Konon, awalnya Sunan Kalijaga… selengkapnya
Rp 7.777.000Dhapur Sempana Luk 9 SEMPONO, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sembilan, yang tergolong sederhana. Keris ini hanya memakai kembang kacang, lambe gajahnya satu dan greneng. Ricikan lainnya tidak ada. Walaupun sederhana penampilannya, Sempana termasuk dhapur keris yang populer dan sering dijumpai. Pada jaman dahulu keris dengan dhapur sempono banyak dimiliki oleh para abdi… selengkapnya
Rp 2.800.000Keris Jangkung Mataram HB Sepuh Pusaka luk tiga ini menghadirkan perbincangan menarik, khususnya pada aspek identifikasi dhapurnya. Bila dicermati dari ricikan yang tampak—gandik lugas, tikel alis, pejetan, sraweyan, dan greneng—pusaka ini memang sempat membuka ruang perdebatan antara dhapur Jangkung dan Tebu Saoyotan. Dalam buku keris salinan Keraton Surakarta, dhapur Tebu Saoyotan terlihat cukup mendekati, sebab… selengkapnya
Rp 6.000.000Dhapur Keris Parungsari Parungsari adalah salah satu bentuk dhapur keris berluk tiga belas. Ukuran Panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot ada yang tidak, lambe gajahnya dua, sraweyan, sogokan rangkap, pejetan dan greneng. Sekilas mirip dengan dhapur Sengkelat, perbedaan diantara keduanya hanyalah; Keris dhapur Parungsari mempunyai dua (2) lambe gajah,… selengkapnya
Rp 5.000.000Dhapur Singa Sangu Tumpeng Singa Sangu Tumpeng merupakan salah satu dhapur keris yang cukup langka. Ia termasuk jenis dhapur ganan yang banyak dicari oleh para pecinta tosan aji. Secara ricikan, dhapur Singa Sangu Tumpeng itu memiliki ciri khas yang sangat mudah ditengarai yakni ornaman singa lar atau singa bersayap pada gandiknya, lalu untuk ricikan lainnya… selengkapnya
Rp 65.000.000Keris Carita Genengan Pamor Banyu Mili Carita Genengan berasal dari kata Carita (lakon atau perjalanan hidup) dan Genengan (Gunungan dalam wayang, melambangkan perjalanan spiritual manusia). Keris ini menggambarkan bahwa setiap individu menjalani kisah hidupnya sesuai dengan pilihan dan perannya masing-masing. Seperti Gunungan yang meruncing ke atas, manusia diharapkan semakin mendekat pada kesempurnaan jiwa, menyatukan rasa,… selengkapnya
Rp 3.500.000






















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.