● online
Keris Brojol Pamor Kul Buntet Sekar Lampes
Rp 15.000.000| Kode | P167 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Brojol, Keris |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Brojol |
| Pamor | : Dwi Warna ( Kul Buntet & Sekar Lampes) |
| Tangguh | : Madura Sepuh |
| Warangka | : Sandang Walikat, Kayu Nagasari |
| Pendok | : Bunton, Bahan Perak Motif Lung-Lungan |
Keris Brojol Pamor Kul Buntet Sekar Lampes
Keris Brojol Pamor Kul Buntet Sekar Lampes
Mendapatkan pusaka sekelas ini kini menjadi hal yang semakin langka. Di era digital seperti sekarang, ketika literasi dan informasi begitu mudah diakses, banyak orang mulai memahami dan menelusuri dunia tosan aji dengan lebih cermat. Mereka tahu membedakan mana keris yang sekadar indah, mana yang benar-benar langka, dan mana yang sungguh-sungguh istimewa.
Tak heran, keris-keris dengan kelas semacam ini kini lebih banyak tersimpan rapi di balik lemari para kolektor, terkunci rapat dan terjaga dengan penuh kehati-hatian. Maka dari itu, kami merasa begitu beruntung — masih bisa menggenggamnya, merasakannya, dan yang terpenting, membabarnya. Menyuarakan kisah dan nilainya agar tetap hidup di tengah kita semua.
Dhapur Brojol
Secara dhapur, pusaka ini tampak sederhana. Ia berdhapur Brojol — bilahnya lurus, polos, tanpa banyak ricikan. Hanya terdapat pejetan sederhana dengan gandhik yang lugas, tanpa hiasan sekar kacang, ganan, atau ornamen lainnya. Namun justru di situlah letak kejujurannya. Ia tampil apa adanya, tegas, lugas, dan jernih dalam makna.
Dhapur Brojol memang termasuk salah satu bentuk yang paling sering dijumpai. Pada masa lampau, dhapur ini banyak dibuat untuk kalangan rakyat, atau sebagai pusaka awal bagi mereka yang baru menapaki jalan kedewasaan spiritual. Tapi jangan salah — kesederhanaan bukan berarti tanpa makna. Setiap keris selalu membawa pesan dan nilai yang khas. Bila tidak pada bentuk dhapurnya, bisa jadi pada pamor, tangguh, atau garapnya. Karena dalam dunia tosan aji, tak ada keris yang benar-benar “tidak bernilai.” Yang ada hanyalah mata yang belum cukup peka untuk membacanya.
Dwi Pamor Kul Buntet dan Sekar Lampes
Nah, pusaka ini contohnya. Ia tergolong istimewa — bahkan langka. Keistimewaannya bukan pada bentuk dhapurnya yang megah, melainkan pada pamor dwipamor-nya: dua motif pamor yang berpadu harmonis dalam satu bilah. Pada bagian sor-soran tampak pamor Kul Buntet, sementara dari tengah hingga ujung bilahnya tergurat pamor Sekar Lampes yang tak kalah memesona. Indah sekali, bukan?
Lebih dari sekadar perpaduan dua pamor, kualitas garapnya menunjukkan kelas tersendiri. Pola pamornya tampak nggajih, khas garapan Madura, dengan sap-sapan yang presisi dan halus tanpa nerjang landhep sedikit pun. Guratan pamor yang tegas, kontras, berpadu dengan warna besi yang matang dan berlapis gradasi. Luar biasa…
Dengan mutu garap sebaik ini, besar kemungkinan pusaka ini adalah karya dari empu dalem keraton pada masanya. Sebab biasanya, pusaka-pusaka keraton dibuat oleh empu pilihan yang memiliki rasa dan laku tinggi. Meski begitu, penilaian ini tentu bersifat subyektif, karena banyak hal dalam dunia pakerisan yang tak tercatat dalam literasi, melainkan diwariskan melalui cerita tutur dan lisan.
Filosofinya pun dalam. Pamor Kul Buntet bermakna “tertutup rapat,” melambangkan perlindungan, penjagaan, dan kewaspadaan. Ia menggambarkan jiwa yang tenang, tidak suka menonjol, namun memiliki daya tahan dan kebijaksanaan dalam menghadapi hidup. Seperti rumah batin yang senantiasa menjaga apa yang berharga di dalamnya.
Sementara pamor Sekar Lampes melengkapi dengan makna yang halus dan spiritual. Sekar Lampes adalah bunga yang mekar, lalu luruh dengan tenang — simbol keikhlasan, kematangan rasa, dan kebesaran jiwa yang memberi tanpa pamrih. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan bukan tentang menonjolkan diri, melainkan tentang memberi makna dalam diam.
Tangguh Madura
Pusaka sepuh ini berasal dari era Kadipaten Madura, masih utuh dengan karakter besi dan pamornya yang kuat rasa. Dari kualitas garap hingga bilah yang padat dan tegas, semuanya memancarkan aura masa lalu yang megah.
Jika kita menilik sejarah, pada abad ke-17 Masehi, Madura menempati posisi penting — baik secara politik, militer, maupun budaya. Saat itu, Madura bukan sekadar pulau kecil di timur Jawa, tetapi wilayah yang berpengaruh besar, terutama di bawah kepemimpinan Raden Tumenggung Cakraningrat I dan para penerusnya.
Madura kala itu dikenal sebagai lumbung para prajurit tangguh Kerajaan Mataram. Banyak bangsawan dan empu Madura yang turut serta membangun kekuatan kerajaan, baik di medan perang maupun dalam pembuatan pusaka. Dari situ lahirlah banyak keris tangguh Madura yang dikenal tegas dalam bentuk, padat dalam isi, dan lugas dalam rasa.
Ciri khas keris Madura tampak pada pasikutan yang cenderung galak, gandhik yang miring, serta warna bilah yang hitam keabu-abuan dengan kesan kering dan pamor yang mubyar. Semua ciri itu tampak pula pada pusaka berdhapur Brojol ini.
Dan menariknya, meski zaman telah berganti, pesona pusaka ini tetap hidup. Ia menyimpan jejak dari sebuah masa ketika kesederhanaan beriring dengan kekuatan, dan ketegasan menyatu dengan kelembutan rasa. Dari bilah yang lugas hingga pamor yang saling melengkapi, pusaka ini seolah menjadi jembatan antara kekuatan sejarah dan keheningan batin.
Sebab sejatinya, pusaka bukan sekadar sebilah besi tempa. Ia adalah saksi bisu perjalanan zaman, penjaga nilai, dan pengingat tentang laku manusia yang pernah menggenggamnya dengan rasa dan kehormatan.
P167
Keris Brojol Pamor Kul Buntet Sekar Lampes
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 3.414 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Brojol Secara dhapur, pusaka ini tampak sederhana. Ia berdhapur Brojol — bilahnya lurus, polos, tanpa banyak ricikan. Hanya terdapat pejetan sederhana dengan gandhik yang lugas, tanpa hiasan sekar kacang, ganan, atau ornamen lainnya. Namun justru di situlah letak kejujurannya. Ia tampil apa adanya, tegas, lugas, dan jernih dalam makna. Dhapur Brojol memang termasuk salah… selengkapnya
Rp 5.000.000Keris Sinom Robyong Kinatah Emas Keris Sinom Robyong adalah salah satu pusaka yang sarat makna, terutama dalam kaitannya dengan harapan, pertumbuhan, dan keseimbangan hidup. Nama sinom berasal dari kata “enom” atau “muda,” yang melambangkan semangat baru, kesegaran, dan permulaan yang dipenuhi harapan. Sementara itu, robyong berarti “berkembang,” “menyebar,” atau “memenuhi ruang,” layaknya tunas muda yang… selengkapnya
Rp 45.900.000Keris Kebo Dhungkul Dwi Pamor Dhapur Kebo Dhungkul merupakan salah satu bentuk bilah yang sarat simbol keteguhan dan ketahanan. Sosoknya sederhana, cenderung membulat dan merunduk, melambangkan watak rendah hati, kuat menanggung beban, serta kesabaran dalam menjalani laku kehidupan. Dalam tradisi tosan aji, dhapur ini kerap dimaknai sebagai pusaka penyangga hidup—diam, namun bekerja tanpa henti. Keistimewaan… selengkapnya
Rp 2.500.000Dhapur Panimbal Dhapur Panimbal merupakan salah satu bentuk keris luk sembilan yang memiliki ciri khas fisik yang mudah dikenali. Bilahnya berukuran sedang dengan pemukaan memakai ada-ada, sehingga tampilannya tampak nggigir lembu. Ricikan yang menyertai di antaranya kembang kacang, lambe gajah, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, serta greneng. Dhapur ini termasuk populer dan banyak dijumpai, terutama pada… selengkapnya
Rp 3.000.000Dhapur Tilam Upih Dalam tradisi Jawa, tilam upih merujuk pada tikar sederhana dari anyaman daun yang digunakan untuk tidur—sebuah simbol ketenteraman, kehangatan, dan kemapanan rumah tangga. Itulah sebabnya dhapur Tilam Upih sering dijadikan pusaka keluarga yang diwariskan turun-temurun, terutama kepada anak-cucu yang memasuki kehidupan berumah tangga. Para sesepuh menjadikannya sebagai doa yang berwujud pusaka: harapan agar keluarga… selengkapnya
Rp 2.800.000Keris Paksi Naga Liman Kinatah Emas Secara prejengan-nya, pusaka ini tampil dengan kemegahan yang sulit diabaikan. Indah, anggun, dan seolah memancarkan kesempurnaan dari setiap sisinya. Mulai dari material besi dan pamornya yang luar biasa, pasikutannya yang gagah, hingga ornamen tinatah emas yang menegaskan kewibawaannya. Motif pamor Uler Lulut yang menjalar di sepanjang bilah tampak hidup… selengkapnya
Rp 100.000.000Dhapur Sinom Sinom adalah salah satu dhapur keris lurus dengan ricikan antara lain sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, pejetan, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Sinom, dalam arti harfiah, merujuk pada daun pohon asem yang masih muda atau pada rambut halus di dahi—bathuk dalam bahasa Jawa—yang lembut dan tipis. Dari sifat alamiahnya, sinom melambangkan kelembutan,… selengkapnya
Rp 3.000.000Dhapur Sempana Bungkem Pusaka yang istimewa ini memiliki nama dhapur yang begitu fenomenal. Namanya Sempono Bungkem.. Ciri khas otentik yang gampang sekali kita lihat adalah sekar kacang pada gandiknya yang menancap dan menyatu dengan gandiknya. Sekar kacang inilah yang disebut dengan sekar kacang mbungkem. Konon Keris Sempono Bungkem memiliki angsar yang baik untuk membungkam lawan… selengkapnya
Rp 20.000.000Dhapur Kidang Soka Luk 7 Berdasarkan buku keris terbitan Keraton Surakarta, dhapur Kidang Soka dicirikan oleh ricikan sekar kacang, jalen, lambe gajah dua, tikel alis, sraweyan, dan ri pandan. Merujuk pada pakem inilah pusaka ini diidentifikasi sebagai Kidang Soka. Meski dalam Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar karya Haryono Haryoguritno dhapur Kidang Soka lebih sering… selengkapnya
Rp 3.300.000




















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.