● online
- Keris Mangkurat Pamor Pedaringan Kebak....
- Keris Panji Nom Kinatah Emas Makoro....
- Keris Jalak Sangu Tumpeng Pajajaran....
- Keris Brojol Pamor Lawe Saukel....
- Keris Carang Soka Pamor Lintang Kemukus....
- Keris Parungsari Kesultanan Cirebon....
- Keris Tilam Upih Pamor Bendo Segodo Sepuh....
- Keris Dhapur Sura Tangguh Bugis Sepuh....
Keris Pasopati Kinatah Emas Panji Wilis Mataram Senopaten
Rp 20.000.000| Kode | P183 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Pasupati |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Pasupati |
| Pamor | : Tunggak Kukus + Wos Wutah |
| Tangguh | : Mataram Senopaten |
| Warangka | : Gayaman Yogyakarta, Bahan Kayu Timoho Pelet Sampir |
| Deder/Handle | : Banaran, Bahan Kayu Kemuning Bang |
| Mendak | : Parijata Bahan Perak |
| Pendok | : Bunton Slorok Bahan Kuningan |
Keris Pasopati Kinatah Emas Panji Wilis Mataram Senopaten
Dhapur Pasopati
Dhapur Pasopati adalah salah satu keris lurus paling populer, dikenal dengan bilah ramping, ada-ada tegas, permukaan nggigir sapi, serta ricikan khas berupa kembang kacang pogog, lambe gajah satu, sogokan rangkap, greneng, kadang disertai gusen dan lis-lisan.
Dalam catatan kuno seperti Serat Pustakaraja Purwa dan Pratelan, Pasopati sudah disebut sejak abad XII. Bahkan menurut riwayat tradisi, dhapur ini termasuk yang paling awal dibuat—bersama Lar Ngatap dan Cundrik—sekitar tahun 230 M di Medhangkamulan oleh Mpu Ramadi (152 Saka).
Dalam dunia pewayangan, Pasopati bukan keris, melainkan panah pusaka Wulan Tumanggal yang diperoleh Arjuna setelah laku tapa dalam lakon Arjuna Wiwaha. Pasopati menjadi simbol ketangguhan Arjuna sebagai lelananging jagad, jagoning dewa: sosok yang unggul dalam budaya, perang, spiritualitas, dan pengendalian diri.
Makna inilah yang kemudian dilekatkan pada keris dhapur Pasopati. Ia mengajarkan pentingnya keteguhan hati, optimisme, dan perjuangan dalam menghadapi masa sulit. Sebagaimana panah Pasopati yang “sekali lepas menjadi seribu dan selalu tepat sasaran”, pemiliknya diharapkan memiliki fokus, keyakinan, dan usaha yang maksimal dalam meraih tujuan.
Secara spiritual, Pasopati melambangkan jihad melawan hawa nafsu—senjata Arjuna untuk menaklukkan sifat kehewanan dalam diri. Karena itu pada masa lalu, keris Pasopati identik dengan para senopati dan pemimpin perang, simbol kepemimpinan dan kesetiaan pada dharma.
Kesederhanaan bentuknya justru menjadi keanggunan tersendiri. Pasikutan yang ramping, bilah yang lurus tanpa luk, serta ricikan yang tidak berlebihan menjadikan Pasopati memancarkan aura merbawani: halus, anggun, namun tegas. Tak heran hingga kini keris dhapur Pasopati tetap diburu oleh mereka yang berkarakter pemimpin—baik di dunia militer, politik, maupun mereka yang menghayati nilai-nilai laku batin.
Pamor Wos Wutah Tungguk Kukus
Seperti pada keris-keris era Mataram Senopaten yang mana memiliki ciri khas pamor pada bagian sor-soran yang lebih penuh lalu mengerucut ke atas seperti asap atau biasa disebut dengan pamor tunggul kukus, sehingga jika dilihat seperti pola segitiga.
Untuk bagian lain ia disertai pamor Wos Wutah yang motifnya berupa bulatan-bulatan yang menyebar di bilahnya.
Secara makna Tunggul berarti lambang atau panji, sedangkan Kukus bermakna asap. Nama ini merujuk pada bentuk garis pamor yang tidak lurus sada sakler, tetapi mengikuti alur lembut menyerupai kepulan asap atau kukusan awan.
Secara tuah, pamor Tunggul Kukus diyakini memberikan wibawa dan disegani banyak orang, menjadikan pemiliknya berhati jujur, terhindar dari niat jahat orang lain, serta diberkahi kemudahan sehingga doa-doanya lebih mudah dikabulkan.
Lalu Wos Wutah sendiri artinya beras tumpah, sebagai lambang doa dan harapan agar rejekinya senantiasa berkelimpahan.
Tangguh Mataram Senopaten
Pusaka yang lahir dari era Panembahan Senapati ini benar-benar mewariskan sebuah kakayaan nilai yang luar biasa.
Tak hanya makna, tetapi juga karya adiluhung yang hingga kini masih dikagumi bahkan oleh bangsa-bangsa asing di luar sana.
Sebuah pusaka dengan garap yang begitu khas sekali, mewakili corak perkerisan agung dari masa Mataram Panembahan Senapati.
Pasikutannya itu tampak prigel, galak tapi tampan, luwes namun memiliki kesan wingit.
Besinya itu berwarna hitam kebiruan dengan pamor yang menancap pandes pada bilahnya.
Ia memang masih membawa aroma keris-keris era Majapahit. Sebab, keris-keris tangguh Mataram Senopaten memang banyak mewarisi gaya dan karakter dari keris tangguh Majapahit.
Meski jumlah lapisan dan lipatan besi dalam penempaan bilahnya memang cenderung lebih sedikit, namun secara rancang bangun, ia masih memiliki banyak kesamaan.
Mulai dari rancang bangun, karakter pamor yang cenderung ngirid atau ceprit-ceprit, hingga aura wingit yang masih terasa kuat — semua itu adalah jejak-jejak lama yang tak benar-benar hilang.
Hal ini tak lepas dari kenyataan bahwa para Empu di masa Mataram Senopaten kebanyakan adalah penerus baik secara keilmuan maupun keturunan dari para Empu Majapahit.
Warisan teknik tempa, pakem bentuk, hingga gaya atau karakter di balik penciptaan sebuah pusaka, semuanya dibawa dan dilanjutkan.
Jika kita runtut dari sejarahnya, Kerajaan Majapahit adalah kerajaan adidaya yang mencapai puncak kejayaan pada abad ke-14, terutama di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk bersama Patih Gajah Mada.
Namun, setelah wafatnya dua tokoh besar tersebut, Majapahit mulai mengalami kemunduran. Konflik internal antar bangsawan, perebutan tahta, serta melemahnya pusat kekuasaan menyebabkan kerajaan ini perlahan-lahan runtuh.
Di saat bersamaan, Islam mulai menyebar luas, terutama di pesisir utara Jawa. Di tengah masa transisi itu, muncul Raden Patah — tokoh penting yang disebut sebagai keturunan Majapahit — yang kemudian mendirikan Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Demak pun menjadi pusat kekuasaan baru, menggantikan Majapahit.
Namun kejayaan Demak tidak bertahan lama. Setelah wafatnya Sultan Trenggana, kekuasaan kembali diperebutkan, terutama antara Arya Penangsang dan Joko Tingkir.
Dalam pertarungan itu, Joko Tingkir keluar sebagai pemenang dan mendirikan Kesultanan Pajang, memindahkan pusat kekuasaan dari wilayah pesisir ke pedalaman Jawa Tengah.
Joko Tingkir, yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya, memiliki anak angkat bernama Danang Sutawijaya.
Kepadanya diberikan amanah untuk membuka alas di hutan Mentaok — wilayah yang dulunya bagian dari tanah Majapahit. Dari situlah Danang Sutawijaya mulai membangun kekuatan politik dan spiritual.
Setelah kekuasaan Pajang melemah, Danang Sutawijaya menyatakan berdirinya kerajaan baru: Mataram.
Ia pun menyandang gelar Panembahan Senapati ing Alaga, dan sejak saat itu muncul apa yang dikenal sebagai keris-keris tangguh Mataram Senopaten.
Mataram bukan sekadar kelahiran kekuasaan baru, tetapi juga kelanjutan dari warisan lama. Para Empu, seniman, dan pemikir dari zaman Majapahit melanjutkan pengabdiannya di bawah panji baru ini.
Tak heran, pusaka-pusaka dari era Senopaten masih membawa roh, bentuk, dan filosofi dari zaman Majapahit.
Dengan berdirinya Mataram, kekuasaan di tanah Jawa beralih secara penuh dari kerajaan Hindu-Buddha menuju kerajaan Islam.
Namun, perpindahan ini tidak serta-merta menghapus jejak masa lalu. Banyak nilai, bentuk, dan laku lama yang tetap dirawat, bahkan diakulturasikan ke dalam budaya baru.
Proses pertemuan dua zaman ini tak hanya tercermin dalam laku hidup masyarakatnya, tetapi juga dalam pusaka, dalam keris, dalam tosan aji.
P183
Keris Pasopati Kinatah Emas Panji Wilis Mataram Senopaten
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.961 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Sempana Luk 9 SEMPONO, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sembilan, yang tergolong sederhana. Keris ini hanya memakai kembang kacang, lambe gajahnya satu dan greneng. Ricikan lainnya tidak ada. Walaupun sederhana penampilannya, Sempana termasuk dhapur keris yang populer dan sering dijumpai. Pada jaman dahulu keris dengan dhapur sempono banyak dimiliki oleh para abdi… selengkapnya
Rp 2.200.000Keris Sinom Robyong Pamor Tumpal Keli Keris Sinom Robyong adalah salah satu pusaka yang sarat makna, terutama dalam kaitannya dengan harapan, pertumbuhan, dan keseimbangan hidup. Nama sinom berasal dari kata “enom” atau “muda,” yang melambangkan semangat baru, kesegaran, dan permulaan yang dipenuhi harapan. Sementara itu, robyong berarti “berkembang,” “menyebar,” atau “memenuhi ruang,” layaknya tunas muda… selengkapnya
Rp 6.000.000Dhapur Keris Parungsari Parungsari adalah salah satu bentuk dhapur keris berluk tiga belas. Ukuran Panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot ada yang tidak, lambe gajahnya dua, sraweyan, sogokan rangkap, pejetan dan greneng. Sekilas mirip dengan dhapur Sengkelat, perbedaan diantara keduanya hanyalah; Keris dhapur Parungsari mempunyai dua (2) lambe gajah,… selengkapnya
Rp 5.000.000Dhapur Sinom Sinom adalah salah satu dhapur keris lurus dengan ricikan antara lain sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, pejetan, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Sinom, dalam arti harfiah, merujuk pada daun pohon asem yang masih muda atau pada rambut halus di dahi—bathuk dalam bahasa Jawa—yang lembut dan tipis. Dari sifat alamiahnya, sinom melambangkan kelembutan,… selengkapnya
Rp 15.000.000Dhapur Sabuk Inten Menurut cerita rakyat dhapur Sabuk Inten diciptakan oleh 800 empu tahun jawa 1381 pada masa Prabu Brawijaya Akhir. Karena dibabar oleh empu Domas (domas, menurut Kamus Bahasa Sunda-Inggris , Jonathan Rigg, 1862 ; berarti 800 dengan asal kata dwa yang artinya dua dan mas yang berarti 400, di samping mempunyai arti sebagai… selengkapnya
Rp 21.000.000Keris Waluring Luk 15 Kalawijan Pusaka ini hadir dengan busana Gayaman gagrak Surakarta yang dibuat dari kayu trembalo Aceh lawasan. Meski berusia tua, kondisinya masih sangat terjaga. Serat trembalo tampak tegas, nginden, dan memberi kesan estetis yang kuat pada keseluruhan wadag pusaka. Gaya busananya semakin lengkap dengan pendok mamas model blewah Surakarta yang menjadi penutup… selengkapnya
Rp 10.000.000Keris Kyai Bagong Astrajingga Kamardikan Kontemporer Keris ini bukan termasuk Pusaka sepuh, ia adalah Pusaka Kamardikan dengan gaya kontemporer. Kami pesan khusus kepada salah seorang Empu dengan ornamen yang berupa sosok Bagong. Bagong adalah tokoh punakawan dalam cerita pewayangan. Ia melambangkan kritik sosial dan kecerdasan yang dibalut kepolosan. Ornamen Bagong pada keris mengajarkan bahwa kebenaran… selengkapnya
Rp 7.200.000Keris Tilam Upih Pamor Wos Wutah Dhapur Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang dikenal dengan kesederhanaannya yang tenang. Bentuk bilahnya tidak mencari perhatian, namun justru memancarkan kesan mapan dan tertata. Dalam pemaknaan tradisi tosan aji, Tilam Upih kerap diartikan sebagai simbol alas hidup—tempat seseorang berpijak, beristirahat, dan menata keseimbangan antara lahir dan… selengkapnya
Rp 2.500.000Keris Jalak Ngore Tuban Winongan Pada abad ke-15, Tuban dikenal sebagai daerah yang gemerlap dan dinamis. Letaknya sebagai pelabuhan besar dan kota kesyahbandaran Kerajaan Majapahit menjadikan wilayah ini sebagai ruang pertemuan berbagai budaya, gagasan, dan karakter manusia. Sebagai masyarakat pesisir, watak yang tumbuh pun cenderung terbuka, lugas, blak-blakan, serta toleran—nilai-nilai yang tercermin kuat dalam hasil… selengkapnya
Rp 7.000.000






















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.