● online
Keris Sinom Kinatah Emas Mataram Amangkurat
Rp 15.000.000| Kode | P051 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Sinom |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Sinom |
| Pamor | : Segoro Muncar |
| Tangguh | : Mataram Amangkurat |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Bahan Kayu Cendana |
| KODE | : P051 |
Keris Sinom Kinatah Emas Mataram Amangkurat
Dhapur Sinom
Sinom adalah salah satu dhapur keris lurus dengan ricikan antara lain sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, pejetan, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng.
Sinom, dalam arti harfiah, merujuk pada daun pohon asem yang masih muda atau pada rambut halus di dahi—bathuk dalam bahasa Jawa—yang lembut dan tipis. Dari sifat alamiahnya, sinom melambangkan kelembutan, kesopanan, dan keteduhan. Ia mencitrakan karakter yang enom, muda, dan segar, layaknya seorang anak yang baru mulai mengenal dunia dan belajar menempatkan diri.
Dalam konteks sosial, nilai sinom mengajarkan bahwa dalam berinteraksi dengan sesama, seseorang idealnya menjaga intonasi suara yang lembut, ramah, murah senyum, dan menghargai lawan bicara. Tidak hanya fasih bertutur kata, tetapi juga mampu mendengarkan dengan empati. Sikap demikian membuat kehadiran seseorang terasa nyaman dan menyejukkan, hingga orang yang diajak berinteraksi dapat merasa kesengsem—terkesima oleh kelembutan dan budi pekertinya.
Lebih jauh, sinom juga menjadi simbol jiwa muda: semangat yang segar, optimis, terbuka, dan penuh rasa ingin tahu. Ia menggambarkan energi yang memancar dari seseorang yang tetap berpikiran hangat dan mudah beradaptasi, apa pun usia biologisnya. Jiwa muda bukan hanya soal umur, tetapi tentang kemampuan menjaga hati tetap ringan, pikiran tetap lentur, dan sikap tetap bersahaja dalam menjalani hidup.
Dengan demikian, sinom mencerminkan perpaduan antara kelembutan budi, kesantunan dalam bertutur, serta semangat muda yang memberi warna pada perjalanan hidup manusia.
Pamor Segoro Muncar
Untuk mencapai cita cita dan tujuan, diperlukan kesungguhan, ketekunan, kewaspadaan dan kesabaran. Tidak ada orang sejahtera / kaya mendadak, semua harus dirintas dari bawah.Sedangkan Pamor Segoro Muncar bermakna untuk memudahkan/meluaskan rezeki ,memperluas pergaulan, keselamatan. Disamping yang dimaksud dengan memperluas pergaulan, bahwa dalam setiap pertemanan kita harus bisa memperbanyak teman serta menyerap hal yang baik untuk perkembangan diri. Otomatis dengan sendirinya pintu rejeki kita akan terbuka dengan sendirinya.
Tangguh Mataram Amangkurat
Keris Tangguh Mataram Amangkurat, beberapa orang perkerisan menyebutnya dengan tangguh Kartasura. Menurut Buku Keris & Tombak Jawa Dwipa (Sugiri Suganda, 2012) secara umum tangguh Amangkurat/Kartasura adalah sebagai berikut:
- Tanting : berat, nggindel
- Besi : ngrasak, kurang wasuhan
- Pamor : kasap dan tlotor-tlotor
- Baja : agak tebal, sepuhannya tua sekali
- Bilah : corok (besar, tinggi) adhegnya kaku
- Gonjo : besar, mbedog, huruf Dha greneng agal-agal
- Gandik : besar dan agak rendah
- Pejetan : jarang dan dalam
- Sogokan : sempit, dangkal dan agak ngeri (menduri)
- Ada-ada : seperti umumnya saja
- Kruwingan : kaku dan tidak dalam
- Luk : kaku
- Wedidang : kebanyakan memakai ron dha nunut.
Mataram amangkurat (abad 17) termasuk dalam kekuasaan kerajaan mataram yang berlandaskan keislaman. Kita ketahui jika pada masa itu pengaruh dunia timur tengah sangat kental menghiasi seluruh seluk beluk dari pemerintahan kerajaan mataram.
Pada masa itu memang tengah menghadapi berbagai permasalahan yang menimbulkan banyak sekali konflik dan perpecahan karena kita ketahui pula belanda dengan VOC nya berusaha melemahkan para penguasa kerajaan mataram pada masa itu tetapi sangatlah sulit karena masih solidnya kerajaan tersebut.
Kerajaan mataram ini dipimpin oleh seorang keturunan dari ki ageng sela dan ki ageng pemanahan. Seorang tokoh yang telah mengabdikan diri dan menjadikan kerajaan mataram pada saat itu menjadi sebuah kerajaan yang mampu meluaskan wilayahnya tanpa peperangan tetapi dengan sebuah ajakan kerja sama.
P051
Keris Sinom Kinatah Emas Mataram Amangkurat
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 2.431 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Brojol Dhapur Brojol merupakan salah satu dhapur keris lurus dengan bentuk yang relatif sederhana. Karakternya yang tidak banyak menampilkan ragam ricikan menjadikan dhapur ini menarik untuk diamati dari sisi keselarasan bentuk dan garap bilahnya. Dalam tradisi perkerisan Jawa, Brojol kerap dikaitkan dengan makna kelahiran, kelancaran, dan harapan agar seseorang dapat melewati berbagai tahapan kehidupan… selengkapnya
Rp 6.000.000Dhapur Brojol Secara dhapur, pusaka ini tampak sederhana. Ia berdhapur Brojol — bilahnya lurus, polos, tanpa banyak ricikan. Hanya terdapat pejetan sederhana dengan gandhik yang lugas, tanpa hiasan sekar kacang, ganan, atau ornamen lainnya. Namun justru di situlah letak kejujurannya. Ia tampil apa adanya, tegas, lugas, dan jernih dalam makna. Dhapur Brojol memang termasuk salah… selengkapnya
Rp 3.000.000Dhapur Parungsari Dhapur Parungsari memiliki kemiripan yang kuat dengan dhapur Sengkelat, baik dari jumlah luk maupun ricikannya. Yang membedakan hanya lambe gajah, di mana Sengkelat memiliki satu lambe gajah, sedangkan Parungsari memiliki dua. Perbedaan kecil seperti ini—tingil, lambe gajah, sraweyan, atau odo-odo—sering kali menjadi penentu identitas dhapur keris, sehingga keliru mengenalinya juga berarti keliru memahami… selengkapnya
Rp 4.300.000Dhapur Kidang Soka Luk 7 Berdasarkan buku keris terbitan Keraton Surakarta, dhapur Kidang Soka dicirikan oleh ricikan sekar kacang, jalen, lambe gajah dua, tikel alis, sraweyan, dan ri pandan. Merujuk pada pakem inilah pusaka ini diidentifikasi sebagai Kidang Soka. Meski dalam Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar karya Haryono Haryoguritno dhapur Kidang Soka lebih sering… selengkapnya
Rp 3.300.000Keris Pamor Singkir Tangguh Blambangan Keris ini berdhapur Sempana Luk 11, salah satu dhapur klasik yang dikenal dengan bentuknya yang sederhana, proporsional, dan elegan. Dhapur Sempana telah lama menjadi favorit dalam dunia perkerisan, bahkan digunakan pada sejumlah pusaka penting. Nama Sempana dimaknai sebagai harapan atau cita-cita, melambangkan perjalanan hidup yang ditempuh dengan keteguhan, pembelajaran, dan… selengkapnya
Rp 5.000.000DHAPUR SABUK INTEN Sabuk Inten secara harfiah dapat dimaknai sebagai ikat pinggang berlian atau permata. Secara filosofi, nama ini dapat dimaknai sebagai simbol tekad, keteguhan, dan nilai diri. Sebagaimana permata yang bernilai, manusia juga diingatkan untuk menjaga kualitas diri melalui laku, kejujuran, dan tanggung jawab. PAMOR KULIT SEMANGKA Pamor Kulit Semangka mengambil nama dari kemiripannya… selengkapnya
Rp 5.000.000Keris Pulanggeni Keleng Tangguh Majapahit Keris Pulanggeni dengan pamor keleng ini menghadirkan pesona klasik yang sederhana namun berwibawa. Bilah tanpa pamor yang menonjol menampilkan keindahan besi tempa secara alami, memperlihatkan kualitas garap yang matang sekaligus memberikan karakter teduh dan elegan. Ditinjau dari garap, bentuk bilah, serta karakter tempa, keris ini bertangguh Majapahit, salah satu periode… selengkapnya
Rp 5.500.000Dhapur Tilam Upih Dalam adat Jawa, terdapat tiga peristiwa penting dalam kehidupan manusia, yaitu Metu, Manten, dan Mati—atau kelahiran, perkawinan, dan kematian. Peristiwa perkawinan memiliki tradisi khusus berupa keris Kancing Gelung, di mana pada masa lampau, orang tua pihak mempelai perempuan memiliki kewajiban utama memberikan keris pusaka kepada mempelai pria sebagai Kancing Gelung. Jika pihak… selengkapnya
Rp 3.500.000DHAPUR SEMPANER Sempaner merupakan salah satu nama dhapur dalam tradisi perkerisan Jawa. Secara filosofis, nama ini dapat dimaknai sebagai simbol keteguhan, kesungguhan, dan kemampuan menjaga pendirian. Piwulangnya mengingatkan agar manusia tetap memiliki arah dan prinsip dalam menjalani kehidupan. PAMOR WOS WUTAH Wos Wutah secara harfiah berarti beras yang tumpah. Beras merupakan simbol pangan dan kecukupan… selengkapnya
Rp 2.500.000DHAPUR JALAK NYUCUP MADU Dhapur Jalak Nyucup Madu menggambarkan seekor burung jalak yang sedang mengisap madu. Gambaran tersebut dapat dimaknai sebagai perlambang manusia yang tekun mencari sesuatu yang baik dan bermanfaat dalam kehidupannya. Madu menjadi simbol sesuatu yang manis dan bernilai, sementara proses mencarinya mengingatkan bahwa hasil yang baik membutuhkan ketekunan dan kesungguhan. PAMOR WENGKON… selengkapnya
Rp 4.500.000











Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.