● online
Keris Parungsari Luk 13 Pamor Wos Wutah
Rp 3.500.000| Kode | F346 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Parungsari |
| Jenis | : Keris Leres |
| Dhapur | : Parungsari |
| Pamor | : Wos Wutah |
| Tangguh | : Mataram Amangkurat |
| Warangka | : Ladrang Suakarta, Kayu Sono Keling Iras |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Sono Keling |
| Pendok | : Bleweh, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Kendhit, Bahan Kuningan |
Keris Parungsari Luk 13 Pamor Wos Wutah
DHAPUR PARUNGSARI
Parungsari adalah keris luk 13, dengan ricikan sekar kacang, jalen, lambe gajah dua, pejetan, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, dan greneng.
Nama Parungsari dapat dimaknai dari kata parung dan sari. Parung menggambarkan aliran yang melewati lekukan, sedangkan sari berarti inti atau sesuatu yang utama.
Dari sini, Parungsari dapat dibaca sebagai gambaran perjalanan manusia dalam mencari inti kehidupan.
Luk yang berkelok mengingatkan bahwa hidup tidak selalu berjalan lurus. Ada belokan, perubahan, bahkan jalan yang harus ditempuh dengan susah payah.
Namun seperti air yang tetap mencari jalannya, manusia juga perlu terus berjalan dan menemukan sarinya.
Jalannya boleh berliku, tetapi tujuan jangan sampai hilang.
Sebab terkadang, justru dari perjalanan yang panjang dan berliku itulah seseorang menemukan apa yang sebenarnya paling berarti dalam hidupnya.
Pemaknaan ini merupakan interpretasi budaya, bukan filosofi baku yang memiliki satu pengertian tunggal.
PAMOR WOS WUTAH
Wos Wutah, atau Beras Wutah, menggambarkan butiran-butiran kecil yang tersebar di sepanjang bilah, seperti beras yang tumpah.
Pada keris ini, teknik tempa pamornya mlumah, dengan kemunculan motif tiban.
Beras bagi masyarakat Jawa bukan sekadar makanan. Ia adalah gambaran kehidupan, kecukupan, dan sumber penghidupan.
Sementara wutah berarti tumpah atau tercecer. Dari situlah pamor ini sering dimaknai sebagai simbol rezeki yang berlimpah.
Namun kelimpahan bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki.
Sebab rezeki yang hanya berhenti di tangan sendiri mungkin cukup untuk diri sendiri. Tetapi rezeki yang mengalir dan bermanfaat bagi orang lain, akan memiliki makna yang lebih panjang.
Kaya bukan hanya karena banyak memiliki, tetapi karena banyak memberi manfaat.
Wos Wutah menjadi pengingat untuk bersyukur atas kecukupan, sekaligus tidak lupa berbagi ketika memiliki lebih.
Pemaknaan tersebut merupakan simbolisme budaya dan doa atau harapan pemilik, bukan sifat objektif atau jaminan tuah yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
TANGGUH MATARAM AMANGKURAT
Tangguh Mataram Amangkurat merupakan bagian dari klasifikasi tradisional untuk membaca perkiraan zaman dan karakter garap sebuah keris.
Pasikutannya sering memberikan kesan galak, tegas, gagah, dan birowo. Pamornya cenderung pandes, besinya dapat terlihat grasak, dengan wasuhan yang relatif sederhana. Baja cenderung tebal dan sepuhnya dalam istilah tradisional disebut tua.
Beberapa bagian seperti sirah cecak dan greneng juga memiliki karakter tertentu yang menjadi bahan pembanding dalam mengenali tangguh.
Namun, semua itu bukan rumus yang mutlak.
Sebuah tangguh tidak cukup dibaca dari satu ciri.
Ia perlu dilihat dari keseluruhan: pasikutan, besi, baja, pamor, ricikan, bentuk luk, hingga garapannya.
Masa Amangkurat merupakan salah satu bagian penting dalam perjalanan Mataram. Dari zaman itulah kita dapat melihat bagaimana perubahan politik, budaya, teknologi, dan selera estetika turut meninggalkan jejak pada karya tosan aji.
Maka ketika kita melihat sebuah keris yang diperkirakan Mataram Amangkurat, sebenarnya kita sedang membaca jejak sebuah zaman yang ditinggalkan dalam sebilah besi.
Dan mungkin, di situlah menariknya keris.
Ia tidak hanya berbicara tentang bentuk, tetapi juga tentang waktu, manusia, dan kebudayaan yang pernah hidup bersamanya.
Karena itu, penyebutan Tangguh Mataram Amangkurat sebaiknya tetap ditempatkan sebagai hasil pembacaan tradisional berdasarkan kumpulan ciri, bukan kepastian mutlak.
F346
Keris Parungsari Luk 13 Pamor Wos Wutah
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 656 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
DHAPUR SABUK INTEN Sabuk Inten secara harfiah dapat dimaknai sebagai ikat pinggang berlian atau permata. Secara filosofi, nama ini dapat dimaknai sebagai simbol tekad, keteguhan, dan nilai diri. Sebagaimana permata yang bernilai, manusia juga diingatkan untuk menjaga kualitas diri melalui laku, kejujuran, dan tanggung jawab. PAMOR KULIT SEMANGKA Pamor Kulit Semangka mengambil nama dari kemiripannya… selengkapnya
Rp 5.000.000Dhapur Parungsari Dhapur Parungsari memiliki kemiripan yang kuat dengan dhapur Sengkelat, baik dari jumlah luk maupun ricikannya. Yang membedakan hanya lambe gajah, di mana Sengkelat memiliki satu lambe gajah, sedangkan Parungsari memiliki dua. Perbedaan kecil seperti ini—tingil, lambe gajah, sraweyan, atau odo-odo—sering kali menjadi penentu identitas dhapur keris, sehingga keliru mengenalinya juga berarti keliru memahami… selengkapnya
Rp 4.300.000Dhapur Tilam Upih Dalam adat Jawa, terdapat tiga peristiwa penting dalam kehidupan manusia, yaitu Metu, Manten, dan Mati—atau kelahiran, perkawinan, dan kematian. Peristiwa perkawinan memiliki tradisi khusus berupa keris Kancing Gelung, di mana pada masa lampau, orang tua pihak mempelai perempuan memiliki kewajiban utama memberikan keris pusaka kepada mempelai pria sebagai Kancing Gelung. Jika pihak… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Kebo Lajer Pamor Slewah Tuban Pajajaran Keris ini memiliki dhapur Kebo Lajer, salah satu dhapur keris lurus dengan bentuk yang tegas dan sederhana. Ciri khasnya terdapat pada gandhik yang memanjang dan lugas, memberikan kesan kokoh dan berwibawa. Nama Kebo Lajer mengambil simbol dari kerbau yang dalam budaya Jawa dikenal sebagai perlambang kekuatan, ketekunan, kesabaran,… selengkapnya
Rp 3.500.000Pandhawa Prasaja Nama Pandawa Prasaja menyimpan ajaran luhur tentang keseimbangan antara kekuatan lahir dan kejernihan batin.Kata Pandawa merujuk pada lima kesatria utama dalam epos Mahabharata — Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.Kelima tokoh ini bukan sekadar sosok dalam cerita pewayangan, tetapi simbol dari laku manusia yang berjuang menegakkan kebenaran dengan caranya masing-masing. Yudhistira melambangkan kejujuran… selengkapnya
Rp 1.800.000Keris Kebo Kantong Luk 5 Madiun Sepuh Keris dhapur Kebo Kantong mengandung filosofi tentang kekuatan batin, kesabaran, dan kemampuan menampung. Nama “Kebo” mengingatkan pada kerbau yang teguh dan sabar, melambangkan keteguhan hati seseorang dalam menghadapi tantangan hidup. Sementara “Kantong” menjadi simbol kapasitas untuk menerima dan menyimpan berkah, ilmu, atau pengalaman hidup, yang kelak dapat dibagikan… selengkapnya
Rp 10.000.000Dhapur Sengkelat Sengkelat, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan, ri pandan, greneng, dan kruwingan. Membicarakan… selengkapnya
Rp 35.000.000Dhapur Jalak Ngore Keris dapur jalak ngore secara umum merupakan simbolisasi pencapaian kebahagiaan dan melepaskan dari segala permasalahan hidup ( terkait dengan nafkah). Burung Jalak menurut pandangan orang jawa : Kukila Tumraping tiyang Jawi, mujudaken simbul panglipur, saget andayani renaning penggalih, satemah saget ngicalaken raos bebeg, sengkeling penggalih. Candrapasemonanipun : pindha keblaking swiwi kukila, ingkang… selengkapnya
Rp 3.500.000






















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.