Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Ferdi
● online
Ferdi
● online
Halo, perkenalkan saya Ferdi
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Beranda » Wedhung » Wedung Kuno Tangguh Kediri
click image to preview activate zoom

Wedung Kuno Tangguh Kediri

Rp 3.500.000
KodeTAG338
Stok Tersedia (1)
Kategori Wedhung
Jenis : Wedhung
Dhapur Wedhung
Pamor Keleng
Tangguh Kediri (tahun 1042–1222)
Warangka : Kayu Cendana Jawa
Deder/Handle : Kayu Cendana Jawa
Mendak : Metok
Tentukan pilihan yang tersedia!
Bagikan ke

Wedung Kuno Tangguh Kediri

Wedung Kuno Tangguh Kediri

Wedhung merupakan salah satu jenis tosan aji yang dikenal dalam tradisi Jawa dan Bali. Berbeda dengan keris yang lebih sering ditempatkan sebagai pusaka pribadi dan simbol status, wedhung pada awalnya berkembang sebagai senjata pendek bermata satu yang memiliki fungsi praktis. Seiring perjalanan waktu, sebagian wedhung kemudian memperoleh kedudukan sebagai pusaka, terutama yang dibuat oleh empu, diwariskan turun-temurun, atau menjadi bagian dari lingkungan keraton dan keluarga bangsawan.

Secara bentuk, wedhung memiliki bilah lurus bermata satu, dengan bagian ujung yang melebar sekaligus meruncing. Dalam perkembangannya, bentuk sederhana tersebut tidak hanya dipertahankan sebagai perangkat senjata, tetapi juga mengalami penghalusan garap. Beberapa wedhung bahkan dibuat dengan teknik tempa dan pengerjaan yang memiliki kedekatan dengan tradisi pembuatan keris, termasuk penggunaan pamor dan tatahan.

Menariknya, keberadaan wedhung telah dikenal jauh sebelum masa Mataram Islam. Istilah wedhung ditemukan dalam sejumlah prasasti Jawa Kuno, antara lain Prasasti Humanding, Poh, dan Rukam, yang berasal dari sekitar abad ke-9 hingga ke-10 Masehi. Penyebutan tersebut menunjukkan bahwa wedhung telah dikenal sebagai salah satu jenis senjata pada masa Mataram Kuno, meskipun bentuk dan fungsinya tentu mengalami perkembangan dari masa ke masa.

Pada masa Mataram Islam, wedhung semakin berkembang dan kemudian menjadi bagian dari perlengkapan busana resmi keraton (ageman). Dalam lingkungan Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta, wedhung tidak hanya dipandang sebagai senjata, tetapi juga sebagai perlengkapan yang memiliki nilai simbolis. Bahkan, dalam paugeran busana tertentu, wedhung dapat dikenakan oleh perempuan, sesuatu yang membedakannya dari keris yang secara umum lebih identik dengan busana laki-laki.

Dari sisi filosofi, wedhung dapat dimaknai sebagai perlambang kesiapan untuk bekerja, mengabdi, dan menjalankan tanggung jawab. Ia mengingatkan bahwa pusaka tidak selalu harus dipahami sebagai lambang kekuasaan, tetapi juga sebagai simbol kesiapan seseorang dalam menjalankan peran dan kewajibannya.

Karena itu, wedhung menjadi menarik bukan hanya sebagai benda bersejarah atau senjata tradisional, tetapi sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan Nusantara. Dari sebuah alat yang bersifat praktis, wedhung berkembang menjadi pusaka, perlengkapan kebesaran, sekaligus simbol identitas dan pengabdian yang terus diwariskan lintas generasi.

TAG338

Wedung Kuno Tangguh Kediri

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 36 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Produk Rekomendasi