● online
Keris Panimbal Kinatah Emas Pamor Untu Walang
Rp 55.000.000| Kode | P033 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Panimbal |
| Jenis | : Keris Luk 9 |
| Dhapur | : Panimbal |
| Pamor | : Untu Walang |
| Tangguh | : Mataram Kartasura |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Bahan Kayu Trembalo |
Keris Panimbal Kinatah Emas Pamor Untu Walang
Keris Panimbal Kinatah Emas Pamor Untu Walang
Dhapur Panimbal merupakan salah satu bentuk keris luk sembilan yang memiliki ciri khas fisik yang mudah dikenali. Bilahnya berukuran sedang dengan pemukaan memakai ada-ada, sehingga tampilannya tampak nggigir lembu. Ricikan yang menyertai di antaranya kembang kacang, lambe gajah, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, serta greneng. Dhapur ini termasuk populer dan banyak dijumpai, terutama pada masa lalu ketika kalangan abdi dalem banyak memakai keris jenis ini. Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena Panimbal diyakini memiliki tuah yang membuat pemiliknya dipercaya oleh atasan, termasuk raja, untuk melaksanakan tugas-tugas penting. Dengan kata lain, Panimbal menjadi simbol kesetiaan, tanggung jawab, dan kelayakan seseorang untuk memikul amanah.
Makna filosofis Panimbal tidak dapat dilepaskan dari nama dan fungsi alat yang menjadi inspirasinya. Dalam tradisi perbesalen, panimbal adalah jenis palu kecil yang bentuknya memanjang, biasanya terbuat dari kayu atau bambu, dan merupakan instrumen yang sangat penting dalam proses pembuatan keris. Panimbal memiliki beberapa jenis, seperti Panimbal Kemlaku yang lebih berat dan digunakan untuk menempa serta melipat besi secara keras; Panimbal Panuding yang digunakan sang Empu untuk memberi petunjuk atau arahan kepada panjak; serta Panimbal Pepehan yang fungsinya hampir serupa namun lebih ringan. Menariknya, komunikasi antara Empu dan panjak saat menempa dilakukan tanpa kata-kata, hanya melalui ritme pukulan dan arah palu panimbal. Dengan demikian palu ini bukan sekadar alat, melainkan simbol bagaimana arahan diberikan: tepat, tenang, dan tidak banyak bicara.
Jika dilihat dari sudut makna yang lebih luas, Panimbal menjadi lambang kearifan dalam memberikan petunjuk dan keadilan. Palu panimbal bukanlah sumber kebenaran itu sendiri, melainkan alat untuk menyampaikan petunjuk. Yang menentukan makna pukulan bukan palunya, tetapi siapa yang memegangnya. Dari sinilah lahir pemahaman bahwa keadilan, amanah, dan kebenaran tidak terletak pada sarana, melainkan pada pribadi yang bertanggung jawab di baliknya. Dhapur Panimbal kemudian menjadi simbol seseorang yang mampu mengatur, mengarahkan, dan dipercaya memikul tugas dengan kepemimpinan yang tenang, tidak banyak bicara, tetapi tepat dalam tindakan—sebagaimana Empu yang bekerja diam-diam, namun menentukan arah dan hasil dari setiap tempaan besi. Kearifan inilah yang menjadikan Panimbal tidak sekadar bentuk keris, tetapi pengingat tentang pentingnya kualitas batin seseorang ketika diberi amanah untuk memimpin dan membimbing orang lain.
P033
Keris Panimbal Kinatah Emas Pamor Untu Walang
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.182 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Tilam Upih Dalam tradisi Jawa, tilam upih bermakna tikar dari anyaman daun yang digunakan untuk tidur—sebuah simbol ketenteraman dalam rumah tangga. Karena itu, dhapur Tilam Upih menjadi salah satu pusaka keluarga yang paling sering diwariskan turun-temurun. Para sesepuh memberikan dhapur ini kepada anak-cucu yang menikah sebagai doa agar rumah tangga mereka senantiasa tenteram, mulia, dan berkecukupan…. selengkapnya
Rp 2.500.000Dhapur Keris Tilam Upih Menurut kitab sejarah Narendra Ing Tanah Jawi (1928) dhapur Tilam Upih (diberi nama Jaka Piturun) dibuat bebarengan dengan dhapur Balebang (diberi nama Pamunah) pada tahun 261 Saka pada era pemerintahan Nata Prabu Dewa Budhawaka. Dhapur Tilam Upih merupakan dhapur yang paling populer di seluruh wilayah Nusantara dan relatif bisa dijumpai pada… selengkapnya
Rp 2.500.000Dhapur Jalak Ngore Keris dapur jalak ngore secara umum merupakan simbolisasi pencapaian kebahagiaan dan melepaskan dari segala permasalahan hidup ( terkait dengan nafkah). Burung Jalak menurut pandangan orang jawa : Kukila Tumraping tiyang Jawi, mujudaken simbul panglipur, saget andayani renaning penggalih, satemah saget ngicalaken raos bebeg, sengkeling penggalih. Candrapasemonanipun : pindha keblaking swiwi kukila, ingkang… selengkapnya
Rp 3.500.000Pandhawa Cinarita Dhapur Luk Lima | Pamor Adeg Rambut | Tangguh Mataram Amangkurat Pandhawa Cinarita adalah salah satu dhapur keris luk lima yang memiliki tempat istimewa dalam khazanah perkerisan Jawa. Bilahnya dijumpai dalam dua perawakan, nglimpa maupun nggigir sapi, dilengkapi ricikan kembang kacang, lambe gajah, sogokan rangkap, sraweyan, dan greneng, serta memakai ada-ada. Dahulu dhapur… selengkapnya
Rp 4.500.000Dhapur Tilam Upih Dalam adat Jawa, terdapat tiga peristiwa penting dalam kehidupan manusia, yaitu Metu, Manten, dan Mati—atau kelahiran, perkawinan, dan kematian. Peristiwa perkawinan memiliki tradisi khusus berupa keris Kancing Gelung, di mana pada masa lampau, orang tua pihak mempelai perempuan memiliki kewajiban utama memberikan keris pusaka kepada mempelai pria sebagai Kancing Gelung. Jika pihak… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Brojol Tuban Singasari Dhapur Brojol merupakan dhapur keris lurus yang menekankan kesederhanaan bentuk dan keteguhan makna. Tanpa luk dan tanpa ornamen yang berlebihan, Brojol melambangkan kelugasan, kejujuran niat, serta kesiapan menapaki laku hidup dengan sikap terbuka dan apa adanya. Dalam tradisi tosan aji, dhapur ini kerap dimaknai sebagai simbol awal mula, kelahiran, dan kesiapan… selengkapnya
Rp 5.111.000Dhapur Carita Keprabon Kehidupan manusia seperti lakon dramatis yang terpampang di atas panggung dunia, bermain dalam skenario yang telah tertulis oleh Sang Pencipta. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, manusia tampil sebagai pemeran utama, menari di atas lingkaran waktu yang terus berputar. Carita, dalam konteks ini, melambangkan peristiwa atau gambaran sifat manusia dalam kehidupan sehari-hari…. selengkapnya
Rp 25.000.000Keris Murma Malela Mataram Amangkurat Nama Murma Malela sendiri berasal dari dua kata Jawa kuno: murma yang berarti tenang, sabar, dan pasrah, serta malela yang berarti berani, teguh, dan tidak gentar. Maka, filosofi dari Murma Malela adalah keteguhan dalam ketenangan — keberanian yang tidak lahir dari amarah, melainkan dari keyakinan. Ia menjadi simbol pribadi yang… selengkapnya
Rp 3.700.000








Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.