● online
- Keris Pasopati Damar Murub Urubing Dilah
- Keris Sengkelat Luk 13 Amangkurat
- Keris Mesem Pamor Segoro Muncar Amangkurat
- Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Wos Wutah Sepuh
- Keris Carita Keprabon Mataram Sultan Agung
- Keris Karacan Luk 11 Kinatah Emas
- Keris Tilam Sari Pamor Beras Wutah
- Keris Brojol Pamor Melati Sinebar
Keris Korowelang Mataram Amangkurat
Rp 5.500.000| Kode | F102 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Korowelang |
| Jenis | : Keris Luk 13 |
| Dhapur | : Korowelang |
| Pamor | : Kulit Semangka |
| Tangguh | : Mataram Amangkurat |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Bahan Kayu Trembalo |
Keris Korowelang Mataram Amangkurat
Keris Korowelang Mataram Amangkurat
Sebuah pusaka langka yang kini kian jarang dijumpai. Pada bilahnya, ricikan klasik seperti sekar kacang masih tampak nggelung anggun, memancarkan keindahan di tengah kegagahan. Disusul oleh jalen, lambe gajah, pejetan, serta tingil yang menjadi ciri khasnya—meski kini mulai aus, meninggalkan jejak waktu yang halus dan jujur.
Pasikutan pusaka ini membawa wibawa yang galak, garang, dan birowo. Besinya sedikit ngrasak, dengan kandungan baja yang tebal dan sepuhan yang sudah sangat tua. Pejetan-nya dalam, dan pamornya bertekstur kasap, tlotor-tlotor, menandakan ketuaan yang luhur.
Ciri ini menggambarkan karakter kuat dari keris-keris tangguh Mataram era Amangkurat. Bentuk guwaya-nya yang kaku seakan mewakili watak para raja Mataram pada masa itu—bukan keras kepala, melainkan teguh memegang prinsip yang diyakini benar.
Nama “Amangkurat” bukan sekadar gelar raja, melainkan simbol sebuah era besar—masa ketika Mataram berdiri di persimpangan antara kejayaan dan kemunduran.
Dari Amangkurat I hingga generasi berikutnya, kekuasaan Mataram perlahan tergerus oleh intrik internal dan cengkeraman VOC.
Ketegasan berujung pemberontakan, kompromi berujung kehilangan kedaulatan.
Dan akhirnya, Mataram pun terpecah menjadi Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman.
Namun, warisan Amangkurat tak pernah benar-benar hilang. Ia adalah jejak perjalanan dari kekuasaan mutlak menuju kebijaksanaan berbagi peran; dari istana megah menuju panggung ujian batin sejarah.
Pusaka Korowelang berdiri sebagai arsip hidup dari masa itu—penyaksi bisu perjalanan peradaban Nusantara.
Lebih dari sekadar bilah logam, ia adalah lambang nilai dan petuah yang diwariskan dalam bentuk dan rasa.
Secara etimologis, “Korowelang” dipercaya sebagai akronim dari Perkoro, Piweling, lan Piwulang—yang berarti peringatan sekaligus ajaran.
Pesan lembut dari para leluhur agar manusia senantiasa waspada terhadap waktu, sebab waktu yang terbuang dapat berubah menjadi racun bagi kehidupan dan batin.
Dalam tafsir lain, Korowelang atau Kolowelang berasal dari kata kala (waktu) dan welang (ular berbisa)—sebuah simbol bahwa waktu yang tak dimanfaatkan dengan bijak bisa menggigit balik kehidupan itu sendiri.
Karena itu, dhapur Korowelang menjadi pengingat agar kita senantiasa memanfaatkan waktu dengan kesadaran, menjalani hidup dengan manfaat, dan tak lupa manembah marang Gusti Akarya Jagad sebagaimana ajaran para leluhur.
Dengan luk tiga belas, Korowelang termasuk dalam jajaran pusaka kalawijan—keris langka yang melampaui kelaziman. Luk tiga belas melambangkan perbawa, kekuatan batin, dan keseimbangan antara daya pikir serta rasa.
Seperti halnya dhapur agung lain—Sengkelat, Parungsari, Nagasasra, Johan Mangan Kolo—Korowelang tidak sekadar ditempa, melainkan dibabar dengan tujuan besar: menjadi cermin spiritualitas, keteguhan prinsip, serta pesan tentang waktu yang abadi.
P102
Keris Korowelang Mataram Amangkurat
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.421 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sambada Luk 3 Pamor Ron Genduru “Ora saben pusaka kudu muni, nanging yen wis tumarima, atimu bakal krasa gumrenggah.” Sebuah ungkapan sederhana yang mengandung kedalaman rasa. Ada pusaka-pusaka yang tidak perlu bersuara, namun kehadirannya saja sudah mampu menggetarkan batin. Begitu pula pusaka ini—tidak hanya mencolok secara visual, tetapi juga memancarkan wibawa yang halus sekaligus… selengkapnya
Rp 13.000.000Keris Dholog Tangguh Mataram Senopaten Dholog adalah salah satu bentuk dhapur keris luk lima. Ukuran panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai gandik lugas, sogokan rangkap, tikel alis dan sraweyan. Ricikan lainnya tidak ada. “Jati nom arane dholog” Dholog berasal dari bahasa sansekerta yang artinya pohon jati muda. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada… selengkapnya
Rp 4.222.000Dhapur Tilam Upih Dalam tradisi Jawa, tilam upih merujuk pada tikar sederhana dari anyaman daun yang digunakan untuk tidur—sebuah simbol ketenteraman, kehangatan, dan kemapanan rumah tangga. Itulah sebabnya dhapur Tilam Upih sering dijadikan pusaka keluarga yang diwariskan turun-temurun, terutama kepada anak-cucu yang memasuki kehidupan berumah tangga. Para sesepuh menjadikannya sebagai doa yang berwujud pusaka: harapan agar keluarga… selengkapnya
Rp 2.800.000Dhapur Sinom Sinom adalah salah satu dhapur keris lurus dengan ricikan antara lain sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, pejetan, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Sinom, dalam arti harfiah, merujuk pada daun pohon asem yang masih muda atau pada rambut halus di dahi—bathuk dalam bahasa Jawa—yang lembut dan tipis. Dari sifat alamiahnya, sinom melambangkan kelembutan,… selengkapnya
Rp 15.000.000Dhapur Jalak Ngore Keris dapur jalak ngore secara umum merupakan simbolisasi pencapaian kebahagiaan dan melepaskan dari segala permasalahan hidup ( terkait dengan nafkah). Burung Jalak menurut pandangan orang jawa : Kukila Tumraping tiyang Jawi, mujudaken simbul panglipur, saget andayani renaning penggalih, satemah saget ngicalaken raos bebeg, sengkeling penggalih. Candrapasemonanipun : pindha keblaking swiwi kukila, ingkang… selengkapnya
Rp 1.900.000Keris Sinom Robyong Pamor Tumpal Keli Keris Sinom Robyong adalah salah satu pusaka yang sarat makna, terutama dalam kaitannya dengan harapan, pertumbuhan, dan keseimbangan hidup. Nama sinom berasal dari kata “enom” atau “muda,” yang melambangkan semangat baru, kesegaran, dan permulaan yang dipenuhi harapan. Sementara itu, robyong berarti “berkembang,” “menyebar,” atau “memenuhi ruang,” layaknya tunas muda… selengkapnya
Rp 6.000.000









Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.