Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Ferdi
● online
Ferdi
● online
Halo, perkenalkan saya Ferdi
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Beranda » Buto Ijo » Keris Buto Ijo Mataram Senopaten
click image to preview activate zoom

Keris Buto Ijo Mataram Senopaten

Rp 4.500.000
KodeF228
Stok Tersedia (1)
Kategori Buto Ijo, Keris
Jenis : Keris Luk 9
Dhapur Buto Ijo
Pamor Tunggak Semi
Tangguh Mataram Senopaten
Warangka : Gayaman Surakarta, Kayu Trembalo
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Trembalo
Pendok : Blewah, Bahan Mamas
Mendak : Widengan, Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Bagikan ke

Keris Buto Ijo Mataram Senopaten

Dhapur Buto Ijo

Dalam khazanah budaya Jawa, istilah buto merujuk pada sosok raksasa, sementara ijo berarti hijau. Dalam dunia pewayangan, para raksasa—disebut pula denawa atau golongan Asura—digambarkan jauh dari sifat ketuhanan (a-sura: bukan dewa). Bentuknya besar, buruk rupa, dan menakutkan: hidung melengkung seperti tepi perahu (canthiking baita), mata membulat lebar, mulut bergigi besar, taring panjang, rambut gimbal, bulu lebat (dhiwut), dan ekspresi bengis yang mencerminkan sifat jahat.

Tokoh Buto Ijo telah hidup dalam narasi pewayangan maupun cerita rakyat sejak masa Mataram. Pada pemerintahan Mas Jolang (Pangeran Seda Krapyak, 1601–1613), muncul pembuatan wayang denawa jenis baru seperti buto cakil, dengan taring mencuat ke atas dan gerakan tangan yang luwes. Pada masa Sultan Agung (1631 M) muncul pula buto rambut geni, lalu di era Amangkurat I lahir wayang buto alasan atau buto ijo—raksasa bercawat yang membawa parang. Tradisi penciptaan karakter raksasa ini berlanjut hingga Kartasura dengan hadirnya buto gundul atau buto endhog, berhidung besar seperti terung dan bermata satu.

Dalam gambaran masyarakat, Buto Ijo adalah sosok raksasa besar berwarna hijau, berambut gimbal, berhidung besar, dan bertaring melengkung. Ia hidup dalam kerasnya hutan belantara dan ditempa menjadi prajurit tangguh—selalu berada di garis depan dan pantang mundur demi perintah rajanya. Namun di sisi lain, ia juga melambangkan sifat keserakahan manusia: keinginan memiliki semua hal tanpa peduli batas, aturan, atau kepemilikan orang lain. Buto Ijo menjadi cermin sifat rakus yang harus diberantas dalam diri manusia, sekaligus simbol kekuatan destruktif seperti imperialisme dan penindasan.

Meski demikian, dalam ranah spiritual dan esoteri, keris Buto Ijo justru dianggap sebagai pusaka piyandel. Ia dipercaya sebagai “satpam gaib” yang menjaga harta dan usaha pemiliknya, tak mudah diganggu oleh makhluk halus lain. Namun bila ditarik pada pemahaman yang lebih dalam, segala harta dan kekuasaan pada hakikatnya hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa—semuanya dapat diberikan maupun dicabut kapan saja.

Pamor Tunggak Semi

Pamor merupakan motif pada bilah keris yang tercipta melalui proses tempa-lipat besi, baja, dan bahan pamor. Selain memunculkan keindahan visual, pamor juga memuat simbol, doa, serta harapan tertentu.

Pada keris ini, tampak pamor ceprit, motif tidak beraturan yang menjadi ciri khas keris Majapahit. Ia berkesan wingit, sepuh, dan kuat—termasuk pamor tiban yang hadir secara alami dalam proses tempa. Pamor ceprit sering dimaknai sebagai perlindungan diri, ketahanan menghadapi situasi sulit, kemampuan beradaptasi, hingga kemudahan dalam mencari nafkah yang bahkan sekecil apa pun tetap dapat diperoleh.

Di bagian sor-soran bilah juga tampak Pamor Tunggak Semi. Tunggak ialah sisa batang atau akar pohon yang masih tertanam, sedangkan semi berarti tumbuh kembali. Filosofinya sangat dalam: sesuatu yang dianggap telah mati atau tamat, di tangan Tuhan dapat hidup kembali dan tumbuh jauh lebih besar. Itulah sebabnya pamor ini disukai para pedagang dan pemilik usaha—melambangkan pulihnya keadaan dari keterpurukan menuju keberhasilan.

Pamor Tunggak Semi termasuk pamor tiban, bukan pamor rekan, sehingga dianggap sebagai anugerah yang muncul dengan sendirinya dalam bilah. Pesannya jelas: manusia berusaha sekuat mungkin, namun keberhasilan pada akhirnya adalah pemberian Yang Maha Kuasa.

Tangguh Mataram Senopaten

Menurut Keris & Tombak Jawa Dwipa (Sugiri Suganda, 2012), karakter umum keris tangguh Mataram Senopaten memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Tanting : cenderung enteng

  • Besi : dominan ngrekes, sebagian halus

  • Pamor : tampak agak banyak

  • Baja : proporsional, sepuhan sebatas wadidang

  • Bilah : ukuran cukup, tidak berlebihan

  • Gonjo : nyecak-nyander, tidak terlalu nglempreh

  • Gandik : agak tipis; sekar kacang kecil

  • Pejetan : tidak terlalu dalam, berbentuk persegi

  • Sogokan : relatif dangkal dan sempit

  • Ada-ada : hanya sampai luk ke-3

  • Kruwingan : samar di atas luk ke-3

  • Luk : sedikit kemba

  • Wedidang : cenderung mblancir

Keris Mataram Senopaten menggambarkan masa awal kebangkitan Mataram Islam di tangan Panembahan Senapati. Garapannya lugas, tegas, namun tetap menyimpan aura wingit sebagai warisan Majapahit. Para empu pada masa Senopaten adalah penerus langsung empu Majapahit, sehingga teknik tempa, pakem bentuk, dan gaya lama tetap melekat kuat.

Kekuatan keris pada masa ini bukan hanya pada fisiknya, tetapi juga pada nilai yang ia wariskan—ketegasan laku, kedisiplinan diri, dan spiritualitas yang kokoh.

F228

Keris Buto Ijo Mataram Senopaten

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 904 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Produk Terkait