● online
- Keris Pasupati Kinatah Emas Panji Wilis
- Keris Sengkelat Kinatah Emas 9 Wadana
- Keris Dholog Luk 5 Cirebon Sultan Agung
- Keris Tilam Upih Pamor Jung Isi Dunyo
- Keris Sempono Bungkem Pamor Slewah
- Keris Jalak Ngore Pamor Wos Wutah
- Keris Panji Penganten Kinatah Kalacakra
- Keris Carita Gandhu Pamor Lar Gangsir
Tombak Seken Biring Jaler Sepuh
Rp 850.000| Kode | P180 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Biring Jaler, Keris, Tombak |
| Jenis | : Tomnbak Lurus |
| Dhapur | : Biring Jaler |
| Pamor | : Adeg |
| Tangguh | : Tuban |
| Warangka | : Seken Ukir Kayu Sono Keling |
Tombak Seken Biring Jaler Sepuh
Tombak Seken Biring Jaler Sepuh
Dhapur tombak Biring Jaler, yang juga dikenal sebagai Biring Lanang, memiliki nama asli Biring Ing Palanangan. Secara etimologis, istilah ini tersusun dari kata biri yang berarti kebiri, ing yang berarti untuk atau pada, serta palanangan yang berarti kemaluan laki-laki. Jika disatukan, maknanya menjadi “tombak sebagai senjata untuk mengebiri kemaluan laki-laki.” Konotasinya terdengar sangat keras dan vulgar, sehingga dalam penyebutannya sering diperhalus menjadi Biring Lanang atau Biring Jaler.
Meski terdengar sadis, budaya Jawa lama kerap memakai nama-nama tegas dan ekstrem sebagai bentuk kejujuran simbolik. Biring Ing Palanangan adalah salah satu contohnya. Di balik nama yang garang itu, tersembunyi pesan moral yang jauh lebih luhur. Tombak ini bukan sekadar menggambarkan kekerasan fisik, melainkan menyimbolkan tindakan “memotong” sifat-sifat buruk dalam diri seorang laki-laki—nafsu rendah, angkara murka, kesewenang-wenangan, dan dorongan untuk bertindak di luar batas.
Dalam tradisi spiritual Jawa, makna ini sejalan dengan konsep ngendhaleni hawa lan napsu. Seorang lanang sejati bukanlah yang paling galak atau paling berani menyerang, tetapi yang mampu mengendalikan ego, amarah, dan berjalan dalam batas-batas kehormatan. Tombak Biring Lanang mengajarkan bahwa kekuatan tanpa pengendalian hanya akan menghancurkan pemiliknya. Karena itu, pusaka ini dipandang sebagai simbol pengendalian diri, kedewasaan, dan penataan batin.
Lebih jauh lagi, Biring Jaler menjadi metafora tentang batas yang harus dijaga oleh seorang laki-laki. Ia menegaskan bahwa kehormatan seorang pria tidak terletak pada kemampuannya melukai atau berkuasa, tetapi pada integritasnya ketika dihadapkan pada godaan, kesempatan, atau tekanan. Dalam konteks kehidupan modern, makna ini tetap relevan: kekuatan sejati adalah kemampuan menahan diri ketika seseorang justru memiliki peluang untuk bertindak sebaliknya.
Dengan demikian, dhapur tombak Biring Ing Palanangan bukan hanya pusaka dengan nama keras, tetapi representasi filosofis tentang bagaimana seorang laki-laki menata dirinya—memotong sifat buruk, menghaluskan tabiat, menjaga sikap, dan mengarahkan kekuatan ke arah yang benar. Garang di nama, namun luhur dalam makna.
Warangka Seken
Warangka seken adalah salah satu bentuk warangka tombak tradisional yang banyak digunakan oleh masyarakat Jawa. Berbeda dari bentuk umum warangka tombak yang dipasang pada landeyan lengkap dengan tutup model kudup, warangka seken hadir dengan gaya yang lebih ramping, sederhana, namun sangat fungsional. Secara visual, bentuknya merupakan perpaduan antara sandang walikat dan tongkat komando—langsing, ergonomis, dan mudah dibawa.
Warangka model ini biasanya digunakan untuk tombak-tombak yang tidak berbilah lebar ataupun terlalu panjang, sehingga sangat cocok untuk dipasang pada jenis tombak ringan atau tombak pusaka yang lebih sering dibawa daripada dipegang dalam keadaan upacara. Karena bentuknya yang praktis, warangka seken memudahkan tombak untuk disengkelit, disampirkan, atau dibawa dalam perjalanan tanpa merepotkan pemiliknya.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, warangka seken kerap dipakai pada tombak pusaka milik pribadi—tombak yang diwariskan, dijaga, dan dibawa dalam aktivitas tertentu, baik untuk keperluan simbolis, pengabdian, atau pengawalan. Sifatnya yang ringkas membuatnya menjadi pilihan ideal bagi mereka yang membutuhkan mobilitas, namun tetap ingin menjaga tata krama dan martabat dalam membawa sebuah pusaka.
Meski tampil sederhana, warangka seken tetap mengemban fungsi budaya yang penting: melindungi bilah, menjaga citra tombak, sekaligus menjadi identitas visual dari pusaka itu sendiri. Kesederhanaannya justru menjadi keunggulan tersendiri—mewakili gaya warangka yang fungsional, sigap, dan siap pakai, sebagaimana sifat tombak pusaka yang sering diperuntukkan bagi pemilik yang aktif bergerak.
Dengan karakter ramping, praktis, dan sarat fungsi, warangka seken menjadi salah satu wujud warangka tombak yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat, mencerminkan perpaduan antara kegunaan dan nilai tradisi yang tetap dijaga hingga kini.
P180
Tombak Seken Biring Jaler Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.685 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sabuk Inten Keris Sabuk Inten adalah salah satu pusaka yang begitu populer dalam khazanah tosan aji. Popularitasnya tak hanya karena keindahan bentuk dan garapnya, tetapi juga karena kisah dan simbolisme yang melekat di baliknya. Dalam berbagai babad dan tutur, Sabuk Inten sering digambarkan sebagai pusaka para bangsawan—lambang kemuliaan, kemakmuran, kesuksesan, dan kejayaan. Namun, berbeda… selengkapnya
Rp 25.500.000Keris Udan Mas Tangguh Tuban Sepuh Menurut kisah tutur, Sunan Kalijaga pernah memberikan wejangan kepada para pengikutnya bahwa keris pertama yang sebaiknya dimiliki adalah Keris Tilam Upih. Sekilas, pilihan ini tampak ganjil. Mengapa bukan keris-keris yang dianggap lebih indah dan megah, seperti Sengkelat dengan lekuk tiga belas yang memikat, Pasopati dengan lambang kesatrianya, atau Megantara… selengkapnya
Rp 25.000.000Keris Sengkelat Tangguh Blambangan Sengkelat, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan, ri pandan, greneng, dan… selengkapnya
Rp 13.000.000Tongkat Komando Isi Tombak Biring Jaler Biring Jaler tersusun dari dua unsur kata yang sarat makna simbolik.Kata “biring” dalam khazanah Jawa merujuk pada garis, deret, atau alur yang lurus dan tegas—sering pula dipahami sebagai penunjuk arah, penegasan batas, atau tanda yang jelas tanpa keraguan. Dalam konteks senjata pusaka, biring melambangkan ketepatan, fokus, dan konsistensi laku:… selengkapnya
Rp 2.000.000Dhapur Tilam Upih TILAM UPIH, dalam terminologi Jawa bermakna tikar yang terbuat dari anyaman daun untuk tidur, diistilahkan untuk menunjukkan ketenteraman keluarga atau rumah tangga. Oleh karena itu, banyak sekali pusaka keluarga yang diberikan secara turun-temurun dalam dapur Tilam Upih. Ini menunjukkan adanya harapan dari para sesepuh keluarga agar anak-cucunya nanti bisa memperoleh ketenteraman dan… selengkapnya
Rp 3.000.000Dhapur Keris Tilam Upih Menurut kitab sejarah Narendra Ing Tanah Jawi (1928) dhapur Tilam Upih (diberi nama Jaka Piturun) dibuat bebarengan dengan dhapur Balebang (diberi nama Pamunah) pada tahun 261 Saka pada era pemerintahan Nata Prabu Dewa Budhawaka. Dhapur Tilam Upih merupakan dhapur yang paling populer di seluruh wilayah Nusantara dan relatif bisa dijumpai pada… selengkapnya
Rp 2.500.000Dhapur Sengkelat Sengkelat, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan, ri pandan, greneng, dan kruwingan. Membicarakan… selengkapnya
Rp 20.000.000Keris Parungsari Pamor Udan Mas Tiban Amangkurat Dhapur Parungsari memiliki kemiripan yang kuat dengan dhapur Sengkelat, baik dari jumlah luk maupun ricikannya. Yang membedakan hanya lambe gajah, di mana Sengkelat memiliki satu lambe gajah, sedangkan Parungsari memiliki dua. Perbedaan kecil seperti ini—tingil, lambe gajah, sraweyan, atau odo-odo—sering kali menjadi penentu identitas dhapur keris, sehingga keliru… selengkapnya
Rp 9.000.000








Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.