● online
Tombak Seken Biring Jaler Sepuh
Rp 850.000| Kode | P180 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Biring Jaler, Keris, Tombak |
| Jenis | : Tomnbak Lurus |
| Dhapur | : Biring Jaler |
| Pamor | : Adeg |
| Tangguh | : Tuban |
| Warangka | : Seken Ukir Kayu Sono Keling |
Tombak Seken Biring Jaler Sepuh
Tombak Seken Biring Jaler Sepuh
Dhapur tombak Biring Jaler, yang juga dikenal sebagai Biring Lanang, memiliki nama asli Biring Ing Palanangan. Secara etimologis, istilah ini tersusun dari kata biri yang berarti kebiri, ing yang berarti untuk atau pada, serta palanangan yang berarti kemaluan laki-laki. Jika disatukan, maknanya menjadi “tombak sebagai senjata untuk mengebiri kemaluan laki-laki.” Konotasinya terdengar sangat keras dan vulgar, sehingga dalam penyebutannya sering diperhalus menjadi Biring Lanang atau Biring Jaler.
Meski terdengar sadis, budaya Jawa lama kerap memakai nama-nama tegas dan ekstrem sebagai bentuk kejujuran simbolik. Biring Ing Palanangan adalah salah satu contohnya. Di balik nama yang garang itu, tersembunyi pesan moral yang jauh lebih luhur. Tombak ini bukan sekadar menggambarkan kekerasan fisik, melainkan menyimbolkan tindakan “memotong” sifat-sifat buruk dalam diri seorang laki-laki—nafsu rendah, angkara murka, kesewenang-wenangan, dan dorongan untuk bertindak di luar batas.
Dalam tradisi spiritual Jawa, makna ini sejalan dengan konsep ngendhaleni hawa lan napsu. Seorang lanang sejati bukanlah yang paling galak atau paling berani menyerang, tetapi yang mampu mengendalikan ego, amarah, dan berjalan dalam batas-batas kehormatan. Tombak Biring Lanang mengajarkan bahwa kekuatan tanpa pengendalian hanya akan menghancurkan pemiliknya. Karena itu, pusaka ini dipandang sebagai simbol pengendalian diri, kedewasaan, dan penataan batin.
Lebih jauh lagi, Biring Jaler menjadi metafora tentang batas yang harus dijaga oleh seorang laki-laki. Ia menegaskan bahwa kehormatan seorang pria tidak terletak pada kemampuannya melukai atau berkuasa, tetapi pada integritasnya ketika dihadapkan pada godaan, kesempatan, atau tekanan. Dalam konteks kehidupan modern, makna ini tetap relevan: kekuatan sejati adalah kemampuan menahan diri ketika seseorang justru memiliki peluang untuk bertindak sebaliknya.
Dengan demikian, dhapur tombak Biring Ing Palanangan bukan hanya pusaka dengan nama keras, tetapi representasi filosofis tentang bagaimana seorang laki-laki menata dirinya—memotong sifat buruk, menghaluskan tabiat, menjaga sikap, dan mengarahkan kekuatan ke arah yang benar. Garang di nama, namun luhur dalam makna.
Warangka Seken
Warangka seken adalah salah satu bentuk warangka tombak tradisional yang banyak digunakan oleh masyarakat Jawa. Berbeda dari bentuk umum warangka tombak yang dipasang pada landeyan lengkap dengan tutup model kudup, warangka seken hadir dengan gaya yang lebih ramping, sederhana, namun sangat fungsional. Secara visual, bentuknya merupakan perpaduan antara sandang walikat dan tongkat komando—langsing, ergonomis, dan mudah dibawa.
Warangka model ini biasanya digunakan untuk tombak-tombak yang tidak berbilah lebar ataupun terlalu panjang, sehingga sangat cocok untuk dipasang pada jenis tombak ringan atau tombak pusaka yang lebih sering dibawa daripada dipegang dalam keadaan upacara. Karena bentuknya yang praktis, warangka seken memudahkan tombak untuk disengkelit, disampirkan, atau dibawa dalam perjalanan tanpa merepotkan pemiliknya.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, warangka seken kerap dipakai pada tombak pusaka milik pribadi—tombak yang diwariskan, dijaga, dan dibawa dalam aktivitas tertentu, baik untuk keperluan simbolis, pengabdian, atau pengawalan. Sifatnya yang ringkas membuatnya menjadi pilihan ideal bagi mereka yang membutuhkan mobilitas, namun tetap ingin menjaga tata krama dan martabat dalam membawa sebuah pusaka.
Meski tampil sederhana, warangka seken tetap mengemban fungsi budaya yang penting: melindungi bilah, menjaga citra tombak, sekaligus menjadi identitas visual dari pusaka itu sendiri. Kesederhanaannya justru menjadi keunggulan tersendiri—mewakili gaya warangka yang fungsional, sigap, dan siap pakai, sebagaimana sifat tombak pusaka yang sering diperuntukkan bagi pemilik yang aktif bergerak.
Dengan karakter ramping, praktis, dan sarat fungsi, warangka seken menjadi salah satu wujud warangka tombak yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat, mencerminkan perpaduan antara kegunaan dan nilai tradisi yang tetap dijaga hingga kini.
P180
Tombak Seken Biring Jaler Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.294 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Jalak Ngore Pamor Ron Genduru Sinebit Winengku Keris dapur jalak ngore secara umum merupakan simbolisasi pencapaian kebahagiaan dan melepaskan dari segala permasalahan hidup ( terkait dengan nafkah). Burung Jalak menurut pandangan orang jawa : Kukila Tumraping tiyang Jawi, mujudaken simbul panglipur, saget andayani renaning penggalih, satemah saget ngicalaken raos bebeg, sengkeling penggalih. Candrapasemonanipun :… selengkapnya
Rp 15.500.000Dhapur Panji Anom Dhapur Keris Panji Anom atau Panji Nom dikenal dengan salah satu keris yang memiliki bentuk lurus ini merupakan salah satu pusaka yang masih dicari oleh kebanyakan orang terutama untuk para pecinta keris. Bentuk dari keris pusaka panji anom ini seperti membungkuk dan mempunyai ukuran panjang yang sedang, permukaan bilahnya nggigir sapi. Keris… selengkapnya
Rp 25.500.000Dhapur Tilam Sari Menurut cerita pitutur lisan, salah satu wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih kemudian pasangannya adalah Tilam Sari. Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka, disaat prihatin dan… selengkapnya
Rp 45.000.000Keris Gumbeng Tangguh Tuban Sepuh Gumbeng adalah salah satu dapur Keris yang sangat sederhana. Memiliki ricikan seperti Kebo Lajer, tetapi bilahnya lebih lebar. Gandik panjang dan umumnya berasal dari tangguh sepuh seperti era Pajajaran atau Tuban. Istilah Gumbeng, selain untuk menyebut dapur Keris, juga merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional masyarakat Jogjakarta, terutama di wilayah… selengkapnya
Rp 4.500.000Dhapur Sempana Luk 9 SEMPONO, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sembilan, yang tergolong sederhana. Keris ini hanya memakai kembang kacang, lambe gajahnya satu dan greneng. Ricikan lainnya tidak ada. Walaupun sederhana penampilannya, Sempana termasuk dhapur keris yang populer dan sering dijumpai. Pada jaman dahulu keris dengan dhapur sempono banyak dimiliki oleh para abdi… selengkapnya
Rp 3.500.000Tombak Biring Jaler Sepuh Nama lainnya dalah Biring Lanang dimana dhapur tombak ini mempunyai arti atau konotasi yang sadis. Nama sesungguhnya adalah Biring ing Palanangan, dari asal kata biri artinya kebiri (dikebiri), ing artinya untuk atau pada, sedangkan palanangan berarti kemaluan laki-laki. Jadi artinya adalah tombak sebagai senjata untuk mengebiri kemaluan laki-laki. Orang barangkali tidak… selengkapnya
Rp 950.000Dhapur Sempana Luk 9 SEMPONO, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sembilan, yang tergolong sederhana. Keris ini hanya memakai kembang kacang, lambe gajahnya satu dan greneng. Ricikan lainnya tidak ada. Walaupun sederhana penampilannya, Sempana termasuk dhapur keris yang populer dan sering dijumpai. Pada jaman dahulu keris dengan dhapur sempono banyak dimiliki oleh para abdi… selengkapnya
Rp 2.200.000Keris Naga Sapta Kinatah Emas Sepuh Naga adalah salah satu makhluk mitologis yang jejaknya hadir hampir di seluruh belahan dunia. Setiap peradaban memiliki tafsir dan rupa tersendiri tentang naga, termasuk masyarakat Jawa yang mengenalnya sebagai makhluk agung, penjaga kesucian, sekaligus simbol kekuatan yang berasal dari alam adikodrati. Dalam tradisi Jawa, kisah-kisah tentang naga bukan sekadar… selengkapnya
Rp 150.000.000








Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.