● online
- Keris Carang Soka Luk 9 Pamor Miring Dwi Warna
- Keris Kelap Lintah Pamor Singkir
- Keris Korowelang Mataram Amangkurat
- Keris Tilam Upih Pamor Junjung Derajat
- Keris Jalak Nyucup Madu Pamor Wos Wutah
- Keris Naga Liman Kinatah Emas
- Keris Karno Tinanding Luk 17 Bali Sepuh
- Keris Tilam Upih Pamor Pedaringan Kebak
Keris Tilam Upih Keleng Pajajaran
Rp 2.500.000| Kode | F191 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Tilam Upih |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Tilam Upih |
| Pamor | : Keleng |
| Tangguh | : Pajajaran |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Kayu Trembalo |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang |
| Mendak | : Kendhit Bahan Kuningan |
| Pendok | : Blewah, Bahan Kuningan |
Keris Tilam Upih Keleng Pajajaran
Dhapur Keris Tilam Upih
Menurut kitab sejarah Narendra Ing Tanah Jawi (1928) dhapur Tilam Upih (diberi nama Jaka Piturun) dibuat bebarengan dengan dhapur Balebang (diberi nama Pamunah) pada tahun 261 Saka pada era pemerintahan Nata Prabu Dewa Budhawaka.
Dhapur Tilam Upih merupakan dhapur yang paling populer di seluruh wilayah Nusantara dan relatif bisa dijumpai pada setiap tangguh, mulai dari tangguh sepuh sanget hingga tangguh kamardikan sekarang ini.
Dhapur Tilam Upih bentuknya hampir sama dengan dhapur Brojol dan dhapur Tilam Sari, perbedaanya dhapur Brojol tidak dilengkapi dengan ricikan: tikel alis, sedangkan dhapur Tilam Sari sama dengan dhapur Tilam Upih menggunakan tikel alis ditambah lagi ricikan: tingil.
Keris dhapur Tilam Upih tergolong jenis keris yang bukan pemilih, sehingga semua dapat dikenakan oleh masyarakat umum hingga para bangsawan.
Pada umumnya keris ini dikenakan oleh mereka yang sudah berkeluarga, atau mereka yang telah lanjut usia, namun juga tidak menutup kemungkinan dikenakan oleh mereka yang masih muda.
FILOSOFI, Tilam Upih berarti pembaringan yang putih suci dan indah. Makna mendalam yang terkandung dalam dhapur Tilam Upih adalah tujuan dan harapan setiap manusia ketika kembali ke pangkuan Tuhan Sang Maha Pencipta, oleh karenanya dhapur keris ini sebagai pameling untuk senantiasa dapat menjalankan perintah dan menjauhkan larangan-Nya selama di dunia.
Pamor Keleng
Penempaan keris ini biasanya sangat matang, sehingga memiliki pesona tersendiri bagi penikmat tosan aji. Keris keleng lebih mengutamakan kematangan tempa juga kesempurnaan garap. Garap di sini yang dimaksud adalah meliputi keindahan bentuk bilah, termasuk di dalamnya ricikan.
Kesempurnaan garap bermakna ketepatan etika dan sopan santun kita. Juga bermakna keselarasan dengan lingkungan hidup sehari hari. Keris Keleng juga bisa menjadi bahasa untuk memahami tingkat kematangan Si Empu, secara lahir maupun batin.
Secara lahir bisa dilihat kesanggupan Sang Empu dalam mengolah besi untuk menjadi matang dan presisi. Dalam penggarapan keris tersebut juga dibutuhkan kecermatan dan kedalaman batin. Kedalaman batin Empu diterjemahkan dalam pamor yang hitam polos tidak bergambar.
Empu sudah menep (mengendap) dari keinginan duniawi. Makna yang disampaikan harus diterjemahkan dengan kedalaman rasa yang bersahaja.
Efek yang ditimbulkan dari sugesti terhadap keris keleng tersebut adalah, bahwa keris tersebut mampu menjadi inspirasi tentang ketulusan / keikhlasan. Ada juga yang beranggapan bahwa keris keleng memiliki kekuatan secara isoteri lebih multifungsi, dibanding dengan keris yang berpamor.
Tangguh Pajajaran
Pusaka dari era Pajajaran ini masih menyisakan pesona yang luar biasa.
Ia bukan hanya artefak, tetapi warisan peradaban yang membawa jejak masa keemasan tanah Sunda.
Jika menelusuri akar sejarahnya, Pajajaran bukan sekadar nama kerajaan, melainkan puncak perjalanan panjang kebudayaan Sunda.
Ia merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan besar sebelumnya: Tarumanegara, Galuh, Kawali, dan Sunda, yang membentuk fondasi politik dan budaya di tanah Pasundan.
Berdasarkan Prasasti Sanghyang Tapak, kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-10 Masehi, dipimpin oleh Sri Jayabhupati.
Namun puncak keemasan Pajajaran terjadi di bawah pemerintahan Prabu Siliwangi, atau Sri Baduga Maharaja, yang naik tahta pada tahun 1428 Masehi.
Pada masa itu, rakyat hidup tenteram dan sejahtera di bawah ajaran silih asah, silih asih, silih asuh — saling mengasah pengetahuan, saling mengasihi, dan saling menjaga.
Prabu Siliwangi dikenal bijaksana, menegakkan keadilan, serta memajukan agama dan kebudayaan.
Ia juga memperkuat pertahanan dengan seratus ribu prajurit dan puluhan gajah perang — simbol kejayaan dan kemakmuran Pajajaran.
Namun waktu tak pernah berhenti.
Seiring datangnya pengaruh Islam dan menguatnya Kesultanan Banten, sinar Pajajaran perlahan meredup.
Tahun 1579 menjadi penanda berakhirnya masa gemilang itu, ketika Maulana Yusuf dari Banten menyerang Pakuan dan membawa Palangka Sriman Sriwacana, singgasana kebesaran Pajajaran, ke Surosowan.
Sejak saat itu, nama Pajajaran hanya tinggal legenda — bergema dalam naskah-naskah kuno dan ingatan rakyat.
Para bangsawan yang tersisa mengasingkan diri ke pedalaman Lebak, mempertahankan cara hidup lama yang berpadu dengan alam.
Mereka inilah yang kini dikenal sebagai masyarakat Baduy, pewaris nilai-nilai luhur Pajajaran yang tetap hidup hingga hari ini.
Begitulah hakikat sebuah keris — ia tidak hanya bisa dibaca dari bentuk dan keindahannya saja,
tetapi juga dari nilai filosofi, kisah sejarah, dan pesan peradaban yang dikandungnya.
Dalam sebilah bilah besi, tersimpan kisah manusia, doa, dan kebijaksanaan dari masa silam.
F191
Keris Tilam Upih Keleng Pajajaran
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 2.042 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Tilam Upih Dalam tradisi Jawa, tilam upih bermakna tikar dari anyaman daun yang digunakan untuk tidur—sebuah simbol ketenteraman dalam rumah tangga. Karena itu, dhapur Tilam Upih menjadi salah satu pusaka keluarga yang paling sering diwariskan turun-temurun. Para sesepuh memberikan dhapur ini kepada anak-cucu yang menikah sebagai doa agar rumah tangga mereka senantiasa tenteram, mulia, dan berkecukupan…. selengkapnya
Rp 2.500.000Dhapur Brojol Secara dhapur, pusaka ini tampak sederhana. Ia berdhapur Brojol — bilahnya lurus, polos, tanpa banyak ricikan. Hanya terdapat pejetan sederhana dengan gandhik yang lugas, tanpa hiasan sekar kacang, ganan, atau ornamen lainnya. Namun justru di situlah letak kejujurannya. Ia tampil apa adanya, tegas, lugas, dan jernih dalam makna. Dhapur Brojol memang termasuk salah… selengkapnya
Rp 2.900.000Pandhawa Cinarita Dhapur Luk Lima | Pamor Adeg Rambut | Tangguh Mataram Amangkurat Pandhawa Cinarita adalah salah satu dhapur keris luk lima yang memiliki tempat istimewa dalam khazanah perkerisan Jawa. Bilahnya dijumpai dalam dua perawakan, nglimpa maupun nggigir sapi, dilengkapi ricikan kembang kacang, lambe gajah, sogokan rangkap, sraweyan, dan greneng, serta memakai ada-ada. Dahulu dhapur… selengkapnya
Rp 4.500.000Keris Singa Barong Luk 5 Madura Sepuh Keris Singo Barong memiliki ciri khas yaitu gandhiknya diukir hiasan singa dengan kelamin yang tegang sebagai simbol kejantanan. Motif singa pada gandhik Keris Singo Barong tampak mirip dengan kilin, yaitu arca binatang mitologi penunggu gerbang dalam budaya China yang banyak terdapat di klenteng. Artinya, hal itu menunjukkan adanya… selengkapnya
Rp 15.555.000Keris Naga Liman Kinatah Emas NAGA LIMAN, adalah salah satu bentuk dhapur keris, dimana bagian gandik keris diukir dengan bentuk kepala gajah, lengkap dengan belalainya (kadang dibuat sangat detail lengkap dengan bagian gading dan telinga) tetapi tanpa badan sang gajah itu sendiri karena badan naga liman merupakan perwujudan dari sosok ular (biasanya dibuat tersamar mirip… selengkapnya
Rp 37.000.000Dhapur Singa Sangu Tumpeng Singa Sangu Tumpeng merupakan salah satu dhapur keris yang cukup langka. Ia termasuk jenis dhapur ganan yang banyak dicari oleh para pecinta tosan aji. Secara ricikan, dhapur Singa Sangu Tumpeng itu memiliki ciri khas yang sangat mudah ditengarai yakni ornaman singa lar atau singa bersayap pada gandiknya, lalu untuk ricikan lainnya… selengkapnya
Rp 65.000.000Keris Naga Penganten Kinatah Emas Naga Penganten secara harfiah berarti sepasang pengantin naga. Naga kembar pada sor-soran ibarat pasangan mempelai pria dan wanita. Di Indonesia, salah satu daerah yang punya prosesi pernikahan panjang adalah Jawa. Pengantin dalam pandangan orang Jawa adalah Raja dan Ratu sehari. Kelengkapann busana raja pada motif naga pengantin dapat diintrepetasikan bahwa… selengkapnya
Rp 50.000.000Dhapur Sinom Sinom adalah salah satu dhapur keris lurus dengan ricikan antara lain sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, pejetan, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Sinom, dalam arti harfiah, merujuk pada daun pohon asem yang masih muda atau pada rambut halus di dahi—bathuk dalam bahasa Jawa—yang lembut dan tipis. Dari sifat alamiahnya, sinom melambangkan kelembutan,… selengkapnya
Rp 15.000.000Dhapur Kidang Soka Keris berdhapur Kidang Soka mengandung filosofi yang kaya, diambil dari karakter kidang (rusa) yang menjadi simbol utama dhapur ini. Kidang dikenal sebagai hewan yang lincah, tangkas, dan penuh kehati-hatian; sifat-sifat ini menjadi cerminan watak yang diharapkan bagi pemilik keris. Secara spiritual, keris Kidang Soka mengajarkan keanggunan dalam bertindak, ketepatan dalam mengambil keputusan,… selengkapnya
Rp 2.300.000




















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.