● online
- Keris Mangkurat Pamor Pedaringan Kebak
- Keris Panji Nom Kinatah Emas Gonjo Wilut
- Keris Jalak Tilam Sari Mataram Amangkurat
- Keris Tilam Sari Pamor Beras Wutah
- Keris Karacan Luk 11 Kinatah Emas
- Keris Naga Penganten Kinatah Emas
- Keris Carita Gandhu Pamor Lar Gangsir
- Keris Sepokal Luk 7 Mataram Amangkurat
Tombak Seken Biring Jaler Sepuh
Rp 850.000| Kode | P180 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Biring Jaler, Keris, Tombak |
| Jenis | : Tomnbak Lurus |
| Dhapur | : Biring Jaler |
| Pamor | : Adeg |
| Tangguh | : Tuban |
| Warangka | : Seken Ukir Kayu Sono Keling |
Tombak Seken Biring Jaler Sepuh
Tombak Seken Biring Jaler Sepuh
Dhapur tombak Biring Jaler, yang juga dikenal sebagai Biring Lanang, memiliki nama asli Biring Ing Palanangan. Secara etimologis, istilah ini tersusun dari kata biri yang berarti kebiri, ing yang berarti untuk atau pada, serta palanangan yang berarti kemaluan laki-laki. Jika disatukan, maknanya menjadi “tombak sebagai senjata untuk mengebiri kemaluan laki-laki.” Konotasinya terdengar sangat keras dan vulgar, sehingga dalam penyebutannya sering diperhalus menjadi Biring Lanang atau Biring Jaler.
Meski terdengar sadis, budaya Jawa lama kerap memakai nama-nama tegas dan ekstrem sebagai bentuk kejujuran simbolik. Biring Ing Palanangan adalah salah satu contohnya. Di balik nama yang garang itu, tersembunyi pesan moral yang jauh lebih luhur. Tombak ini bukan sekadar menggambarkan kekerasan fisik, melainkan menyimbolkan tindakan “memotong” sifat-sifat buruk dalam diri seorang laki-laki—nafsu rendah, angkara murka, kesewenang-wenangan, dan dorongan untuk bertindak di luar batas.
Dalam tradisi spiritual Jawa, makna ini sejalan dengan konsep ngendhaleni hawa lan napsu. Seorang lanang sejati bukanlah yang paling galak atau paling berani menyerang, tetapi yang mampu mengendalikan ego, amarah, dan berjalan dalam batas-batas kehormatan. Tombak Biring Lanang mengajarkan bahwa kekuatan tanpa pengendalian hanya akan menghancurkan pemiliknya. Karena itu, pusaka ini dipandang sebagai simbol pengendalian diri, kedewasaan, dan penataan batin.
Lebih jauh lagi, Biring Jaler menjadi metafora tentang batas yang harus dijaga oleh seorang laki-laki. Ia menegaskan bahwa kehormatan seorang pria tidak terletak pada kemampuannya melukai atau berkuasa, tetapi pada integritasnya ketika dihadapkan pada godaan, kesempatan, atau tekanan. Dalam konteks kehidupan modern, makna ini tetap relevan: kekuatan sejati adalah kemampuan menahan diri ketika seseorang justru memiliki peluang untuk bertindak sebaliknya.
Dengan demikian, dhapur tombak Biring Ing Palanangan bukan hanya pusaka dengan nama keras, tetapi representasi filosofis tentang bagaimana seorang laki-laki menata dirinya—memotong sifat buruk, menghaluskan tabiat, menjaga sikap, dan mengarahkan kekuatan ke arah yang benar. Garang di nama, namun luhur dalam makna.
Warangka Seken
Warangka seken adalah salah satu bentuk warangka tombak tradisional yang banyak digunakan oleh masyarakat Jawa. Berbeda dari bentuk umum warangka tombak yang dipasang pada landeyan lengkap dengan tutup model kudup, warangka seken hadir dengan gaya yang lebih ramping, sederhana, namun sangat fungsional. Secara visual, bentuknya merupakan perpaduan antara sandang walikat dan tongkat komando—langsing, ergonomis, dan mudah dibawa.
Warangka model ini biasanya digunakan untuk tombak-tombak yang tidak berbilah lebar ataupun terlalu panjang, sehingga sangat cocok untuk dipasang pada jenis tombak ringan atau tombak pusaka yang lebih sering dibawa daripada dipegang dalam keadaan upacara. Karena bentuknya yang praktis, warangka seken memudahkan tombak untuk disengkelit, disampirkan, atau dibawa dalam perjalanan tanpa merepotkan pemiliknya.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, warangka seken kerap dipakai pada tombak pusaka milik pribadi—tombak yang diwariskan, dijaga, dan dibawa dalam aktivitas tertentu, baik untuk keperluan simbolis, pengabdian, atau pengawalan. Sifatnya yang ringkas membuatnya menjadi pilihan ideal bagi mereka yang membutuhkan mobilitas, namun tetap ingin menjaga tata krama dan martabat dalam membawa sebuah pusaka.
Meski tampil sederhana, warangka seken tetap mengemban fungsi budaya yang penting: melindungi bilah, menjaga citra tombak, sekaligus menjadi identitas visual dari pusaka itu sendiri. Kesederhanaannya justru menjadi keunggulan tersendiri—mewakili gaya warangka yang fungsional, sigap, dan siap pakai, sebagaimana sifat tombak pusaka yang sering diperuntukkan bagi pemilik yang aktif bergerak.
Dengan karakter ramping, praktis, dan sarat fungsi, warangka seken menjadi salah satu wujud warangka tombak yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat, mencerminkan perpaduan antara kegunaan dan nilai tradisi yang tetap dijaga hingga kini.
P180
Tombak Seken Biring Jaler Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 39 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Megantara Kinatah Emas Pusaka yang betul-betul istimewa. Saya, dengan prejengan remukan karak seperti ini, merasa sangat beruntung dapat menanting dan merawatnya hingga hari ini. Jika kita amati bersama, pusaka ini tampil dengan pasikutan yang prigel, memiliki aura wingit, serta bentuk yang proporsional. Ornamen kinatah yang terukir hampir di seluruh bilahnya menjadi keistimewaan tersendiri. Hal… selengkapnya
Rp 65.000.000Keris Naga Raja Kinatah Emas Sepuh Keris berdhapur Naga Raja merupakan salah satu bentuk pusaka yang memiliki kedudukan istimewa dalam dunia perkerisan. Sebagaimana namanya, Naga Raja berarti “raja dari para naga” — simbol tertinggi dari kekuasaan, kebijaksanaan, dan pengendalian diri. Dalam pandangan budaya Jawa, naga bukan sekadar makhluk mitologis, melainkan lambang kekuatan kosmis yang menjaga… selengkapnya
Rp 55.000.000Keris Parungsari Pamor Udan Mas Tiban Amangkurat Dhapur Parungsari memiliki kemiripan yang kuat dengan dhapur Sengkelat, baik dari jumlah luk maupun ricikannya. Yang membedakan hanya lambe gajah, di mana Sengkelat memiliki satu lambe gajah, sedangkan Parungsari memiliki dua. Perbedaan kecil seperti ini—tingil, lambe gajah, sraweyan, atau odo-odo—sering kali menjadi penentu identitas dhapur keris, sehingga keliru… selengkapnya
Rp 9.000.000Keris Murma Malela Mataram Amangkurat Nama Murma Malela sendiri berasal dari dua kata Jawa kuno: murma yang berarti tenang, sabar, dan pasrah, serta malela yang berarti berani, teguh, dan tidak gentar. Maka, filosofi dari Murma Malela adalah keteguhan dalam ketenangan — keberanian yang tidak lahir dari amarah, melainkan dari keyakinan. Ia menjadi simbol pribadi yang… selengkapnya
Rp 3.700.000Dhapur Santan Keris Dhapur Santan adalah satu dhapur keris luk 11 yang sekarang sangat jarang dijumpai dan termasuk dhapur langka. Memiliki ricikan pejetan, tikel alis, sogokan depan, kembang kacang, lambe gajah, greneng. Pada tahun jawa 522, Empu Sugati membuat pusaka ber-dhapur Santan dan Karacan atas perintah dari Prabu Kala di Negeri Purwacarito, Prabu Kala merupakan… selengkapnya
Rp 4.111.000








Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.