● online
- Keris Naga Raja Kinatah Emas Sepuh
- Keris Singo Barong Pamor Pedaringan Kebak
- Keris Naga Sapta Kinatah Emas Sepuh
- Keris Tilam Upih Tuban Pajajaran
- Keris Tilam Sari Majapahit
- Keris Parungsari Pamor Udan Mas Tiban Amangkurat
- Keris Carita Keprabon Luk 11 Mataram Sultan Agung
- Keris Pasupati Tangguh Mataram Kartasura
Keris Jangkung Mataram HB Sepuh
Rp 6.000.000| Kode | MAR231 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Jangkung, Keris |
| Jenis | : Keris Luk 3 |
| Dhapur | : Jangkung |
| Pamor | : Wos Wutah |
| Tangguh | : Mataram HB Sepuh |
| Warangka | : Gayaman Yogyakarta, Kayu Timoho |
| Deder/Handle | : Banaran, Kayu Kemuning Bang |
| Pendok | : Bunton Slorok, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Widengan, Bahan Kuningan |
Keris Jangkung Mataram HB Sepuh
Keris Jangkung Mataram HB Sepuh
Pusaka luk tiga ini menghadirkan perbincangan menarik, khususnya pada aspek identifikasi dhapurnya. Bila dicermati dari ricikan yang tampak—gandik lugas, tikel alis, pejetan, sraweyan, dan greneng—pusaka ini memang sempat membuka ruang perdebatan antara dhapur Jangkung dan Tebu Saoyotan.
Dalam buku keris salinan Keraton Surakarta, dhapur Tebu Saoyotan terlihat cukup mendekati, sebab pada catatan tersebut dhapur Jangkung di bagian greneng hanya disebut memiliki ri pandan. Namun ketika dirujuk pada tabel dhapur dalam Buku Keris Jawa, susunan ricikan pusaka ini justru sangat selaras dengan dhapur Jangkung. Menariknya, dalam tabel tersebut tidak tercatat dhapur Tebu Saoyotan, melainkan Tebu Sauyun yang secara ricikan cukup berbeda dengan pusaka ini.
Dari sini tampak jelas bahwa perbedaan “mashab” literasi dalam dunia perkerisan memang nyata adanya. Maka, sikap paling bijak adalah membuka ruang kemungkinan, tanpa memaksakan satu kebenaran tunggal. Diskusi yang tidak menuntut siapa paling benar justru membuat khazanah pengetahuan terasa lebih hidup dan menyenangkan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, pusaka ini akhirnya diidentifikasi sebagai dhapur Jangkung—terlebih dalam tradisi lama, banyak keris luk tiga memang kerap disebut cukup sebagai Jangkung saja.
Makna dhapur Jangkung sendiri tersirat indah dalam Serat Centhini melalui petuah:
“Dhapur Jangkung panganggenya, kudu jinangkung dèn-eling.”
Petuah ini mengajarkan sikap hidup agar manusia senantiasa eling—ingat untuk mendekatkan diri kepada Gusti Allah dengan hati yang sumarah, sumeleh, dan mituhu. Sumarah berarti berserah dan percaya sepenuhnya kepada kehendak-Nya, menyadari keterbatasan manusia di hadapan Yang Maha Kuasa. Sumeleh bukanlah menyerah, melainkan tetap berikhtiar sekuat tenaga sambil menyerahkan hasil akhirnya pada ridho-Nya. Sedangkan mituhu mengajarkan kepatuhan dan hormat pada nasihat orang tua, sebagai salah satu pintu awal menuju keberkahan hidup.
Dengan sikap hidup seperti itulah, manusia diharapkan menjadi jinangkung-jinampangan—senantiasa dijunjung, dilindungi, dan diberkahi dalam perjalanan hidupnya.
Secara fisik, pusaka ini berasal dari masa Hamengkubuwana awal (HB Sepuh) dan hingga kini masih terjaga dalam kondisi relatif utuh. Bilahnya terawat, ricikannya jelas, dan ornamennya tetap tegas, seolah waktu memilih untuk bersikap hormat kepadanya. Keris-keris tangguh Yogyakarta memang dikenal memiliki rasa tersendiri: pasikutan yang prasaja namun mrabu, sederhana tanpa gemerlap, tetapi berwibawa dan memancarkan sifat kepemimpinan.
Ciri khas tersebut tampak dari besi yang lumer, terasa halus saat diraba, kering, nyaman digenggam, serta bilah berukuran sedang yang semakin ke atas semakin ramping dan lancip. Karakter ini menunjukkan kesinambungan estetika dari masa Hamengkubuwana I hingga generasi penerusnya, bahkan menyimpan kemiripan dengan pusaka-pusaka peninggalan Majapahit.
Hamengkubuwana adalah gelar raja Kesultanan Yogyakarta, penerus Kerajaan Mataram Islam—wangsa yang tercatat gigih memperjuangkan negeri. Dari Pangeran Mangkubumi (Hamengkubuwana I), hingga Hamengkubuwana IX yang pernah mengemban amanah sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, nilai kepemimpinan, adab, dan tradisi terus dijaga. Hingga hari ini, Keraton Yogyakarta tetap berdiri kokoh, menjaga pusaka-pusaka leluhur bukan hanya dari sisi bentuk, tetapi juga ruh dan nilainya.
Sebuah warisan adi luhung—yang mengajarkan bahwa keindahan sejati pusaka tidak hanya terletak pada wujudnya, tetapi pada makna hidup yang ia titipkan kepada generasi setelahnya.
MAR231
Keris Jangkung Mataram HB Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 130 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Keris Tilam Upih Menurut kitab sejarah Narendra Ing Tanah Jawi (1928) dhapur Tilam Upih (diberi nama Jaka Piturun) dibuat bebarengan dengan dhapur Balebang (diberi nama Pamunah) pada tahun 261 Saka pada era pemerintahan Nata Prabu Dewa Budhawaka. Dhapur Tilam Upih merupakan dhapur yang paling populer di seluruh wilayah Nusantara dan relatif bisa dijumpai pada… selengkapnya
Rp 2.500.000Keris Pasupati Tangguh Mataram Kartasura Keris Pasopati merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat populer. Karakteristik utamanya adalah bilahnya dengan permukaan nggigir sapi, serta beberapa ricikan khas seperti kembang kacang pogog, lambe gajah satu, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, greneng, ri pandan dan terkadang dilengkapi dengan gusen serta lis-lisan. Keberadaan dhapur Pasopati telah tercatat… selengkapnya
Rp 8.000.000Dhapur Keris Parungsari Parungsari adalah salah satu bentuk dhapur keris berluk tiga belas. Ukuran Panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot ada yang tidak, lambe gajahnya dua, sraweyan, sogokan rangkap, pejetan dan greneng. Sekilas mirip dengan dhapur Sengkelat, perbedaan diantara keduanya hanyalah; Keris dhapur Parungsari mempunyai dua (2) lambe gajah,… selengkapnya
Rp 4.600.000Dhapur Pasopati Dhapur Pasopati adalah salah satu keris lurus paling populer, dikenal dengan bilah ramping, ada-ada tegas, permukaan nggigir sapi, serta ricikan khas berupa kembang kacang pogog, lambe gajah satu, sogokan rangkap, greneng, kadang disertai gusen dan lis-lisan. Dalam catatan kuno seperti Serat Pustakaraja Purwa dan Pratelan, Pasopati sudah disebut sejak abad XII. Bahkan menurut… selengkapnya
Rp 20.000.000Keris Parungsari Pamor Udan Mas Tiban Amangkurat Dhapur Parungsari memiliki kemiripan yang kuat dengan dhapur Sengkelat, baik dari jumlah luk maupun ricikannya. Yang membedakan hanya lambe gajah, di mana Sengkelat memiliki satu lambe gajah, sedangkan Parungsari memiliki dua. Perbedaan kecil seperti ini—tingil, lambe gajah, sraweyan, atau odo-odo—sering kali menjadi penentu identitas dhapur keris, sehingga keliru… selengkapnya
Rp 9.000.000Dhapur Panji Anom Dhapur Keris Panji Anom atau Panji Nom dikenal dengan salah satu keris yang memiliki bentuk lurus ini merupakan salah satu pusaka yang masih dicari oleh kebanyakan orang terutama untuk para pecinta keris. Bentuk dari keris pusaka panji anom ini seperti membungkuk dan mempunyai ukuran panjang yang sedang, permukaan bilahnya nggigir sapi. Keris… selengkapnya
Rp 25.500.000Dhapur Carita Keprabon Kehidupan manusia seperti lakon dramatis yang terpampang di atas panggung dunia, bermain dalam skenario yang telah tertulis oleh Sang Pencipta. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, manusia tampil sebagai pemeran utama, menari di atas lingkaran waktu yang terus berputar. Carita, dalam konteks ini, melambangkan peristiwa atau gambaran sifat manusia dalam kehidupan sehari-hari…. selengkapnya
Rp 5.700.000Dhapur Brojol Secara dhapur, pusaka ini tampak sederhana. Ia berdhapur Brojol — bilahnya lurus, polos, tanpa banyak ricikan. Hanya terdapat pejetan sederhana dengan gandhik yang lugas, tanpa hiasan sekar kacang, ganan, atau ornamen lainnya. Namun justru di situlah letak kejujurannya. Ia tampil apa adanya, tegas, lugas, dan jernih dalam makna. Dhapur Brojol memang termasuk salah… selengkapnya
Rp 21.000.000Keris Pasupati Kinatah Emas Panji Wilis Keris Pasopati merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat populer. Karakteristik utamanya adalah bilahnya dengan permukaan nggigir sapi, serta beberapa ricikan khas seperti kembang kacang pogog, lambe gajah satu, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, greneng, ri pandan dan terkadang dilengkapi dengan gusen serta lis-lisan. Keberadaan dhapur Pasopati telah… selengkapnya
Rp 17.000.000






















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.