● online
- Keris Jalak Ngore Pamor Ron Genduru Sinebit Wineng
- Keris Tilam Upih Pamor Junjung Derajat
- Keris Condong Campur Pamor Pedaringan Kebak
- Keris Tilam Upih Pamor Pedaringan Kebak
- Keris Singa Barong Luk 13 Kinatah Emas
- Keris Sengkelat Tinatah Panji Wilis
- Keris Jalak Ngore Pamor Wos Wutah
- Keris Jalak Ngore Pamor Blarak Sineret
Keris Jalak Sangu Tumpeng
Rp 2.850.000| Kode | TAG247 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Jalak Sangu Tumpeng, Keris |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Jalak Sangu Tumpeng |
| Pamor | : Kulit Semangka |
| Tangguh | : Mataram Amangkurat |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Kayu Timoho |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang |
| Pendok | : Blewah, Bahan Kuningan Mamas |
| Mendak | : Kendhit, Bahan Kuningan |
Keris Jalak Sangu Tumpeng
Jalak Sangu Tumpeng Sepuh
Dalam catatan tradisi keraton, dhapur Jalak Sangu Tumpeng menempati kedudukan yang istimewa. Salah satu pusaka Keraton Yogyakarta yang paling dihormati adalah KKA Kopek, keris andalan raja yang berdhapur Jalak Sangu Tumpeng, dengan sor-soran berlapis emas menyerupai Panji Wilis sebagai penanda pusaka keraton. Keberadaannya tidak sekadar dimuliakan sebagai senjata pusaka, tetapi juga sebagai lambang ajaran hidup yang diwariskan lintas generasi. Legenda menyebutkan bahwa pusaka ini menyimpan rahasia kehidupan: manusia, dalam menempuh perjalanan hidupnya, harus membawa sangu—bekal lahir dan batin. Tumpeng dalam konteks ini bukan semata makanan jasmani, melainkan simbol kesiapan spiritual, keteguhan niat, dan keseimbangan hidup.
Filosofi tumpeng berakar kuat dalam pandangan hidup masyarakat Jawa. Bentuknya yang kerucut mencerminkan gunung, yang sejak lama dipandang sebagai simbol kekuatan agung sekaligus tempat bersemayamnya kekuasaan ilahi. Puncak kerucut melambangkan Tuhan Yang Maha Esa sebagai pusat dan tujuan tertinggi kehidupan. Ajaran ini menegaskan keyakinan bahwa segala sesuatu bermula dari Tuhan dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.
Hubungan manusia dengan alam juga tercermin jelas dalam simbol tumpeng. Nasi kerucut yang diletakkan di tengah dan dikelilingi berbagai lauk pauk melambangkan gunung beserta tanah subur di sekitarnya. Aneka sayur, lauk, dan hasil bumi menjadi perlambang bahwa kesejahteraan manusia bersumber dari alam yang harus dijaga keseimbangannya. Dengan demikian, tumpeng merepresentasikan ekosistem kehidupan: harmoni antara Tuhan, manusia, dan alam semesta.
Dalam ranah sosial, prosesi pemotongan pucuk tumpeng mengandung makna yang mendalam. Tindakan ini dilakukan oleh sosok yang paling dituakan atau dihormati sebagai simbol penghargaan terhadap kebijaksanaan, pengalaman, dan peran orang tua atau pemimpin. Nilai ini selaras dengan falsafah Jawa mikul dhuwur mendhem jero—mengangkat setinggi-tingginya jasa para pendahulu dan menghargainya sedalam-dalamnya.
Makna kebersamaan pun tercermin dalam sesanti Jawa mangan ora mangan waton kumpul. Ungkapan ini bukan ajaran pasrah terhadap kekurangan, melainkan penegasan bahwa kebersamaan, kerukunan, dan ikatan keluarga lebih utama daripada kemewahan materi. Di mana pun manusia berada, ia diingatkan untuk senantiasa membawa bekal nilai kekeluargaan dan menjaga tali silaturahmi.
Dengan demikian, Keris Jalak Sangu Tumpeng bukan sekadar pusaka bermakna rezeki, melainkan simbol utuh perjalanan hidup manusia—tentang bekal lahir dan batin, hubungan dengan Tuhan, keharmonisan dengan alam, serta tanggung jawab sosial dalam menjaga kebersamaan dan penghormatan terhadap sesama.
Pamor Kulit Semangka
Pamor Kulit Semangka, atau Ngulit Semangka, dinamai demikian karena coraknya menyerupai kulit buah semangka—berlapis, teratur, dan tampak hidup. Dalam filsafat Jawa, pamor ini dimaknai sebagai lambang rezeki yang berlapis dan berkesinambungan: tidak datang secara tiba-tiba lalu habis, melainkan mengalir seiring usaha, ketekunan, dan kecermatan pemiliknya.
Secara tuah, pamor Kulit Semangka dipercaya mendukung sifat optimis, keluwesan dalam pergaulan, serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Ia mengajarkan kemampuan menyesuaikan diri tanpa kehilangan prinsip—fleksibel nanging ora kecalan waton. Rezeki yang dibawa pamor ini bukan hanya bersifat materi, tetapi juga berupa kemudahan relasi, kejernihan berpikir, dan kematangan rasa dalam menghadapi persoalan hidup.
Tangguh Mataram Amangkurat
Keris ini bertangguh Mataram Amangkurat, sebuah era pada abad ke-17 yang dikenal berat, kaku, dan sarat tekanan sejarah. Ciri-ciri tangguh ini tampak jelas pada tantingan bilah yang berat dan nggindel, besi ngrasak dengan pamor kasap serta tlotor-tlotor, baja tebal dengan sepuhan tua, serta bentuk bilah yang corok dan terkesan adheg-kaku. Gonjo yang besar, gandik rendah, serta pejetan yang jarang namun dalam semakin menegaskan watak zaman yang keras dan penuh konflik.
Era Amangkurat adalah masa ketika Mataram menghadapi pergolakan internal sekaligus tekanan kuat dari VOC. Dalam situasi demikian, pusaka tidak lagi semata simbol estetika, melainkan perlambang kekuatan batin dan keteguhan sikap. Keris Jalak Sangu Tumpeng bertangguh Mataram Amangkurat hadir sebagai saksi sejarah—bahwa di tengah kekuasaan yang diuji dan zaman yang berat, manusia tetap diingatkan untuk memegang keindahan budi, menjaga kepercayaan, dan tidak kehilangan arah dalam menjalani hidup.
Keris Jalak Sangu Tumpeng
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.407 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Tilam Sari Menurut cerita pitutur lisan, salah satu wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih kemudian pasangannya adalah Tilam Sari. Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka, disaat prihatin dan… selengkapnya
Rp 9.500.000Keris Pusaka Sengkelat: Simbol Kesatria dan Peralihan Zaman Kepopuleran keris Sengkelat tidak dapat dilepaskan dari latar sejarah politik masa lalu, terutama ketika kejayaan Majapahit mulai meredup. Dalam berbagai babad, terdapat dua versi mengenai asal-usulnya. Versi pertama menyebut bahwa keris ini dipesan oleh Sunan Ampel kepada Mpu Supo, sementara versi lainnya mengatakan bahwa pemesannya adalah Sunan… selengkapnya
Rp 70.000.000Dhapur Brojol Secara dhapur, pusaka ini tampak sederhana. Ia berdhapur Brojol — bilahnya lurus, polos, tanpa banyak ricikan. Hanya terdapat pejetan sederhana dengan gandhik yang lugas, tanpa hiasan sekar kacang, ganan, atau ornamen lainnya. Namun justru di situlah letak kejujurannya. Ia tampil apa adanya, tegas, lugas, dan jernih dalam makna. Dhapur Brojol memang termasuk salah… selengkapnya
Rp 2.500.000Keris Brojol Pamor Mayang Mekar Keris Brojol dikenal sebagai salah satu dhapur yang paling sederhana sekaligus paling tua dalam dunia perkerisan Nusantara. Ia tidak memiliki luk, bentuk bilahnya lurus dengan ujung agak meruncing, gandik polos tanpa kembang kacang, dan ricikan yang sangat minimalis. Namun, justru dalam kesederhanaannya itulah tersimpan makna yang dalam. Kata brojol dalam… selengkapnya
Rp 13.000.000Keris Pasupati Kinatah Emas Panji Wilis Keris Pasopati merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat populer. Karakteristik utamanya adalah bilahnya dengan permukaan nggigir sapi, serta beberapa ricikan khas seperti kembang kacang pogog, lambe gajah satu, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, greneng, ri pandan dan terkadang dilengkapi dengan gusen serta lis-lisan. Keberadaan dhapur Pasopati telah… selengkapnya
Rp 17.000.000Dhapur Tilam Sari Menurut cerita pitutur lisan, salah satu wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih kemudian pasangannya adalah Tilam Sari. Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka, disaat prihatin dan… selengkapnya
Rp 26.000.000Dhapur Sengkelat Sengkelat, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan, ri pandan, greneng, dan kruwingan. Membicarakan… selengkapnya
Rp 6.000.000Dhapur Jalak Ngore Keris dapur jalak ngore secara umum merupakan simbolisasi pencapaian kebahagiaan dan melepaskan dari segala permasalahan hidup ( terkait dengan nafkah). Burung Jalak menurut pandangan orang jawa : Kukila Tumraping tiyang Jawi, mujudaken simbul panglipur, saget andayani renaning penggalih, satemah saget ngicalaken raos bebeg, sengkeling penggalih. Candrapasemonanipun : pindha keblaking swiwi kukila, ingkang… selengkapnya
Rp 3.500.000Dhapur Carubuk Luk 7 Keris dhapur Carubuk memiliki makna mendalam dalam filosofi Jawa, yang secara harfiah diartikan sebagai “bagaikan bumi.” Artinya, manusia harus mampu bersikap “Momot, Bakuh, Pengkuh, aja tampik ingkang den arepi among marang ingkang becik kewolo, Kang ala aja den emohi” — yakni menerima segala hal, baik yang disukai maupun yang tidak, karena… selengkapnya
Rp 4.500.000Dhapur Tilam Upih TILAM UPIH, dalam terminologi Jawa bermakna tikar yang terbuat dari anyaman daun untuk tidur, diistilahkan untuk menunjukkan ketenteraman keluarga atau rumah tangga. Oleh karena itu, banyak sekali pusaka keluarga yang diberikan secara turun-temurun dalam dapur Tilam Upih. Ini menunjukkan adanya harapan dari para sesepuh keluarga agar anak-cucunya nanti bisa memperoleh ketenteraman dan… selengkapnya
Rp 3.555.000


















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.