● online
- Keris Kidang Soka Luk 7 Pamor Adeg Rambut
- Keris Dholog Pedaringan Kebak
- Keris Sabuk Inten Amangkurat
- Keris Sinom Sekar Kacang Nggelung Wayang
- Keris Carita Gandhu Pamor Lar Gangsir
- Keris Jalak Sumelang Gandring Mageti Sepuh
- Keris Carita Keprabon Luk 11 Mataram Sultan Agung
- Keris Putut Tangguh Tuban Sepuh
Keris Jalak Dinding Pamor Tunggak Semi Wirasat
Rp 10.000.000| Kode | P182 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Jalak Dinding, Keris |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Jalak Dinding |
| Pamor | : Tunggak Semi + Wirasat |
| Tangguh | : Kesultanan Demak |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Bahan Tanduk Kerbau |
| Deder/Handle | : Yuydawinatan, Bahan Tanduk Kerbau |
| Mendak | : Widengan Bahan Kuningan |
| Pendok | : Bunton Bahan Perak Motif Lung Sersat |
Keris Jalak Dinding Pamor Tunggak Semi Wirasat
Keris Jalak Dinding Pamor Tunggak Semi Wirasat
Demak selalu memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Jawa. Julukannya sebagai “Kota Wali” bukan sekadar predikat manis, tetapi representasi dari peran penting Demak sebagai poros penyebaran Islam di tanah Jawa. Di sinilah kerajaan Islam pertama berdiri, di sinilah para Wali Songo bertemu gagasan, membangun tradisi, dan meninggalkan jejak budaya yang hingga kini masih hidup.
Tradisi besar seperti Grebeg Besar, Apitan, hingga warisan arsitektur Masjid Agung Demak menjadi bukti betapa kuat dan majunya peradaban Demak pada masanya. Bahkan dalam ranah seni, Demak melahirkan gaya tersendiri—dari kaligrafi, ukiran, hingga motif batik yang lembut namun penuh karakter.
Namun bagi para pecinta tosan aji, daya tarik Demak justru hadir dalam bentuk yang lebih sunyi: Tangguh Demak. Ia bukan tangguh yang banyak literasinya; tidak semasyhur Majapahit atau Mataram. Ia justru berada pada lapis kedua—second line—tetapi memiliki pesona halus yang kuat, terutama ketika tampil dalam pusaka sebagus ini.
Pusaka ini tampil dengan busana yang sangat istimewa. Warangka dan jejeran (deder) dibuat dari tanduk kerbau, dibentuk dalam gaya gayaman gagrak Surakarta. Bagian deder-nya dibuat dengan model yudawinatan khas Surakarta, garapnya tegas dengan detail ukiran tampak rapi dan jelas.
Pendoknya menggunakan model bunton berbahan perak tebal bermotif lung sersat. Tatahannya tampak sangat halus, detail, dan penuh ketelitian.
Perpaduan warna hitam–putih dari tanduk dan perak memberikan kesan wangun, guwaya, wingit, dan tentu saja ndudut ati.
Dhapur Jalak Dinding sekilas memang mirip dengan Brojol, namun memiliki pembeda penting: adanya ricikan tingil pada bagian belakang gonjo. Ricikan kecil inilah yang menegaskan identitas dhapur Jalak Dinding.
Maknanya pun dalam:
Jalak melambangkan kecerdasan, kepekaan, naluri membaca situasi.
Dinding melambangkan batas, perlindungan, penjagaan diri.
Keduanya menyatu menjadi pesan kewaspadaan, keteguhan batin, serta kemampuan menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik. Sebuah nilai yang sangat sesuai dengan karakter spiritual masyarakat Demak pada masa para wali.
Pada bilah ini hadir dua pamor yang sangat menarik:
1. Pamor Tunggak Semi
Terletak pada area sor-soran, motifnya nyepret dan tampak tumbuh dari tengah bilah.
Maknanya: kebangkitan, harapan baru, rezeki yang terus bertunas, serta perlindungan dari kemacetan hidup.
2. Pamor Wirasat
Sebagian pola pamor tampak lebih dominan dibanding keseluruhan motif.
Maknanya: isyarat atau pertanda halus—bukan tuah, tetapi tanda yang mengajak pemiliknya lebih mawas diri dan peka terhadap perjalanan hidup.
Kedua pamor ini memberi karakter yang unik: indah secara visual, kaya secara makna.
Literasi tentang tangguh Demak tidak banyak. Sumber utama yang sering dirujuk justru berasal dari Babad Tanah Jawi, yang bercampur antara sejarah, mitos, dan legitimasi politik.
Namun ada satu catatan penting dari luar Jawa yang sangat membantu: Tomé Pires dalam Suma Oriental (1512–1515). Dari dialah kita mendapat gambaran bagaimana pesisir Jawa—terutama Demak—muncul sebagai pusat perdagangan dan pusat dakwah Islam setelah Majapahit melemah.
Raden Patah mendirikan Demak sebagai kekuatan baru dengan dukungan para wali.
Pati Unus tampil sebagai pemimpin pemberani yang menyerang Portugis di Malaka.
Sultan Trenggana membawa Demak ke puncak kejayaan, memperluas pengaruh hingga pedalaman Jawa.
Meski akhirnya terjadi perebutan kekuasaan setelah Trenggana, nilai-nilai Demak tetap hidup hingga sekarang—dalam seni, tradisi, dan tentu saja dalam keris-keris tangguh Demak.
Meskipun minim literasi, beberapa referensi klasik seperti Bambang Harsrinuksmo, S. Lumintu, hingga sumber primbon mencatat beberapa ciri umum:
Condong leleh sedikit menunduk.
Wasuhan besi basah seperti Majapahit, kadang bersemu kuning.
Sirah cecak kecil dan menguncup, dengan gulu meled pendek.
Pamor umumnya bagus, mengambang, dan menarik hati.
Pusaka ini menunjukkan semua karakter tersebut dengan sangat jelas.
P182
Keris Jalak Dinding Pamor Tunggak Semi Wirasat
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 51 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Parungsari Pamor Udan Mas Tiban Amangkurat Dhapur Parungsari memiliki kemiripan yang kuat dengan dhapur Sengkelat, baik dari jumlah luk maupun ricikannya. Yang membedakan hanya lambe gajah, di mana Sengkelat memiliki satu lambe gajah, sedangkan Parungsari memiliki dua. Perbedaan kecil seperti ini—tingil, lambe gajah, sraweyan, atau odo-odo—sering kali menjadi penentu identitas dhapur keris, sehingga keliru… selengkapnya
Rp 9.000.000Dhapur Keris Tilam Upih Menurut kitab sejarah Narendra Ing Tanah Jawi (1928) dhapur Tilam Upih (diberi nama Jaka Piturun) dibuat bebarengan dengan dhapur Balebang (diberi nama Pamunah) pada tahun 261 Saka pada era pemerintahan Nata Prabu Dewa Budhawaka. Dhapur Tilam Upih merupakan dhapur yang paling populer di seluruh wilayah Nusantara dan relatif bisa dijumpai pada… selengkapnya
Rp 5.500.000Dhapur Sengkelat Sengkelat, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan, ri pandan, greneng, dan kruwingan. Membicarakan… selengkapnya
Rp 6.000.000Dhapur Sempana Bungkem Pusaka yang istimewa ini memiliki nama dhapur yang begitu fenomenal. Namanya Sempono Bungkem.. Ciri khas otentik yang gampang sekali kita lihat adalah sekar kacang pada gandiknya yang menancap dan menyatu dengan gandiknya. Sekar kacang inilah yang disebut dengan sekar kacang mbungkem. Konon Keris Sempono Bungkem memiliki angsar yang baik untuk membungkam lawan… selengkapnya
Rp 20.000.000Dhapur Jalak Ngore Keris dapur jalak ngore secara umum merupakan simbolisasi pencapaian kebahagiaan dan melepaskan dari segala permasalahan hidup ( terkait dengan nafkah). Burung Jalak menurut pandangan orang jawa : Kukila Tumraping tiyang Jawi, mujudaken simbul panglipur, saget andayani renaning penggalih, satemah saget ngicalaken raos bebeg, sengkeling penggalih. Candrapasemonanipun : pindha keblaking swiwi kukila, ingkang… selengkapnya
Rp 1.900.000Dhapur Sura Luk 9 Keris di belahan Nusantara ini secara umum memang memiliki dasar aspek yang sama. Namun pada beberapa daerah tertentu memiliki gaya atau style yang khas dan berbeda-beda. Salah satunya adalah keris dengan tangguh Bugis ini. Secara bentuk dasar ia tetap memenuhi aspek keris yang sama, namun secara khusus ia memiliki karakteristik yang… selengkapnya
Rp 3.500.000Dhapur Pulanggeni Pulanggeni merupakan salah satu bentuk dhapur keris luk lima yang cukup populer di dunia perkerisan di Pulau Jawa. Pulang Geni bermakna ratus, hio atau dupa atau juga kemenyan (keharuman yang bersifat religius), memberikan makna bahwa dalam kehidupan banyaklah berbuat kebaikan agar jati diri menebar harum dan selalu dikenang walau hayat sudah tidak dikandung… selengkapnya
Rp 2.500.000






















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.