● online
- Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Wos Wutah Sepuh
- Keris Brojol Pamor Tejo Kinurung
- Keris Tilam Sari Mataram Kartasura
- Keris Condong Campur Pamor Pedaringan Kebak
- Keris Mangkurat Pamor Pedaringan Kebak
- Keris Dholog Luk 5 Cirebon Sultan Agung
- Keris Pasopati Kinatah Emas Tangguh PB X
- Tombak Seken Biring Jaler Sepuh
Keris Jalak Dinding Pamor Tunggak Semi Wirasat
Rp 20.000.000| Kode | P182 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Jalak Dinding, Keris |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Jalak Dinding |
| Pamor | : Tunggak Semi + Wirasat |
| Tangguh | : Kesultanan Demak |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Bahan Tanduk Kerbau |
| Deder/Handle | : Yuydawinatan, Bahan Tanduk Kerbau |
| Mendak | : Widengan Bahan Kuningan |
| Pendok | : Bunton Bahan Perak Motif Lung Sersat |
Keris Jalak Dinding Pamor Tunggak Semi Wirasat
Keris Jalak Dinding Pamor Tunggak Semi Wirasat
Demak selalu memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Jawa. Julukannya sebagai “Kota Wali” bukan sekadar predikat manis, tetapi representasi dari peran penting Demak sebagai poros penyebaran Islam di tanah Jawa. Di sinilah kerajaan Islam pertama berdiri, di sinilah para Wali Songo bertemu gagasan, membangun tradisi, dan meninggalkan jejak budaya yang hingga kini masih hidup.
Tradisi besar seperti Grebeg Besar, Apitan, hingga warisan arsitektur Masjid Agung Demak menjadi bukti betapa kuat dan majunya peradaban Demak pada masanya. Bahkan dalam ranah seni, Demak melahirkan gaya tersendiri—dari kaligrafi, ukiran, hingga motif batik yang lembut namun penuh karakter.
Namun bagi para pecinta tosan aji, daya tarik Demak justru hadir dalam bentuk yang lebih sunyi: Tangguh Demak. Ia bukan tangguh yang banyak literasinya; tidak semasyhur Majapahit atau Mataram. Ia justru berada pada lapis kedua—second line—tetapi memiliki pesona halus yang kuat, terutama ketika tampil dalam pusaka sebagus ini.
Pusaka ini tampil dengan busana yang sangat istimewa. Warangka dan jejeran (deder) dibuat dari tanduk kerbau, dibentuk dalam gaya gayaman gagrak Surakarta. Bagian deder-nya dibuat dengan model yudawinatan khas Surakarta, garapnya tegas dengan detail ukiran tampak rapi dan jelas.
Pendoknya menggunakan model bunton berbahan perak tebal bermotif lung sersat. Tatahannya tampak sangat halus, detail, dan penuh ketelitian.
Perpaduan warna hitam–putih dari tanduk dan perak memberikan kesan wangun, guwaya, wingit, dan tentu saja ndudut ati.
Dhapur Jalak Dinding sekilas memang mirip dengan Brojol, namun memiliki pembeda penting: adanya ricikan tingil pada bagian belakang gonjo. Ricikan kecil inilah yang menegaskan identitas dhapur Jalak Dinding.
Maknanya pun dalam:
Jalak melambangkan kecerdasan, kepekaan, naluri membaca situasi.
Dinding melambangkan batas, perlindungan, penjagaan diri.
Keduanya menyatu menjadi pesan kewaspadaan, keteguhan batin, serta kemampuan menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik. Sebuah nilai yang sangat sesuai dengan karakter spiritual masyarakat Demak pada masa para wali.
Pada bilah ini hadir dua pamor yang sangat menarik:
1. Pamor Tunggak Semi
Terletak pada area sor-soran, motifnya nyepret dan tampak tumbuh dari tengah bilah.
Maknanya: kebangkitan, harapan baru, rezeki yang terus bertunas, serta perlindungan dari kemacetan hidup.
2. Pamor Wirasat
Sebagian pola pamor tampak lebih dominan dibanding keseluruhan motif.
Maknanya: isyarat atau pertanda halus—bukan tuah, tetapi tanda yang mengajak pemiliknya lebih mawas diri dan peka terhadap perjalanan hidup.
Kedua pamor ini memberi karakter yang unik: indah secara visual, kaya secara makna.
Literasi tentang tangguh Demak tidak banyak. Sumber utama yang sering dirujuk justru berasal dari Babad Tanah Jawi, yang bercampur antara sejarah, mitos, dan legitimasi politik.
Namun ada satu catatan penting dari luar Jawa yang sangat membantu: Tomé Pires dalam Suma Oriental (1512–1515). Dari dialah kita mendapat gambaran bagaimana pesisir Jawa—terutama Demak—muncul sebagai pusat perdagangan dan pusat dakwah Islam setelah Majapahit melemah.
Raden Patah mendirikan Demak sebagai kekuatan baru dengan dukungan para wali.
Pati Unus tampil sebagai pemimpin pemberani yang menyerang Portugis di Malaka.
Sultan Trenggana membawa Demak ke puncak kejayaan, memperluas pengaruh hingga pedalaman Jawa.
Meski akhirnya terjadi perebutan kekuasaan setelah Trenggana, nilai-nilai Demak tetap hidup hingga sekarang—dalam seni, tradisi, dan tentu saja dalam keris-keris tangguh Demak.
Meskipun minim literasi, beberapa referensi klasik seperti Bambang Harsrinuksmo, S. Lumintu, hingga sumber primbon mencatat beberapa ciri umum:
Condong leleh sedikit menunduk.
Wasuhan besi basah seperti Majapahit, kadang bersemu kuning.
Sirah cecak kecil dan menguncup, dengan gulu meled pendek.
Pamor umumnya bagus, mengambang, dan menarik hati.
Pusaka ini menunjukkan semua karakter tersebut dengan sangat jelas.
P182
Keris Jalak Dinding Pamor Tunggak Semi Wirasat
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.348 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Jalak Sumelang Gandring Mageti Sepuh Keris Jalak Sumelang Gandring memancarkan aura waspada dan keteguhan yang dalam. Nama Sumelang Gandring berarti selalu siaga dan tidak lengah, sebuah perlambang dari jiwa yang sadar penuh, senantiasa eling lan waspada dalam menapaki kehidupan. Dhapur Jalak menggambarkan karakter yang teguh, sederhana, namun berisi kekuatan sejati. Seperti burung jalak yang… selengkapnya
Rp 4.555.000Keris Tilam Sari Pamor Sumur Sineba Menurut cerita pitutur lisan, salah satu wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih kemudian pasangannya adalah Tilam Sari. Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka,… selengkapnya
Rp 4.000.000Dhapur Carubuk Luk 7 Keris Carubuk adalah salah satu dhapur luk 7 yang cukup populer dan memiliki kisah yang sangat menarik di balik kehadirannya. Menurut cerita rakyat, pusaka ini diyakini sebagai salah satu peninggalan Sunan Kalijaga, hasil karya Empu Supa Anom, sang pandai besi legendaris yang hidup sezaman dengan para wali. Konon, awalnya Sunan Kalijaga… selengkapnya
Rp 7.777.000Dhapur Sempana Luk 9 SEMPONO, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sembilan, yang tergolong sederhana. Keris ini hanya memakai kembang kacang, lambe gajahnya satu dan greneng. Ricikan lainnya tidak ada. Walaupun sederhana penampilannya, Sempana termasuk dhapur keris yang populer dan sering dijumpai. Pada jaman dahulu keris dengan dhapur sempono banyak dimiliki oleh para abdi… selengkapnya
Rp 2.200.000Keris Paksi Naga Liman Kinatah Emas Secara prejengan-nya, pusaka ini tampil dengan kemegahan yang sulit diabaikan. Indah, anggun, dan seolah memancarkan kesempurnaan dari setiap sisinya. Mulai dari material besi dan pamornya yang luar biasa, pasikutannya yang gagah, hingga ornamen tinatah emas yang menegaskan kewibawaannya. Motif pamor Uler Lulut yang menjalar di sepanjang bilah tampak hidup… selengkapnya
Rp 100.000.000Keris Pusaka Sengkelat: Simbol Kesatria dan Peralihan Zaman Kepopuleran keris Sengkelat tidak dapat dilepaskan dari latar sejarah politik masa lalu, terutama ketika kejayaan Majapahit mulai meredup. Dalam berbagai babad, terdapat dua versi mengenai asal-usulnya. Versi pertama menyebut bahwa keris ini dipesan oleh Sunan Ampel kepada Mpu Supo, sementara versi lainnya mengatakan bahwa pemesannya adalah Sunan… selengkapnya
Rp 70.000.000Dhapur Tilam Upih TILAM UPIH, dalam terminologi Jawa bermakna tikar yang terbuat dari anyaman daun untuk tidur, diistilahkan untuk menunjukkan ketenteraman keluarga atau rumah tangga. Oleh karena itu, banyak sekali pusaka keluarga yang diberikan secara turun-temurun dalam dapur Tilam Upih. Ini menunjukkan adanya harapan dari para sesepuh keluarga agar anak-cucunya nanti bisa memperoleh ketenteraman dan… selengkapnya
Rp 10.000.000Keris Sengkelat Luk 13 Pamor Beras Wutah Sengkelat, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan, ri… selengkapnya
Rp 5.000.000Dhapur Dholog Dholog adalah salah satu bentuk dhapur keris luk lima. Ukuran panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai gandik lugas, sogokan rangkap, tikel alis dan sraweyan. Ricikan lainnya tidak ada. “Jati nom arane dholog” Dholog berasal dari bahasa sansekerta yang artinya pohon jati muda. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada masanya. Ada masa… selengkapnya
Rp 3.600.000Keris Carita Genengan Pajajaran Carito berarti sesuatu yang sedang berjalan atau suatu peristiwa, atau gambaran sifat manusia dalam kehidupan manusia sehari hari. Manusia dalam hidupnya memainkan alur cerita (carito) dan lakonnya sendiri-sendiri. Hidup yang kita jalani sekarang adalah hasil dari pemilihan seseorang tentang keputusan dan peran kehidupan yang akan dijalaninya. Genengan / Gunungan adalah salah… selengkapnya
Rp 3.000.000






















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.