● online
Keris Tilam Upih Tangguh Madiun
Rp 2.500.000| Kode | F244 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Tilam Upih |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Tilam Upih |
| Pamor | : Kulit Semangka |
| Tangguh | : Madiun |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Kayu Timoho |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Sono Keling |
| Pendok | : Blewah, Bahan Kuningan Mamas |
| Mendak | : Widengan, Bahan Tembaga |
Keris Tilam Upih Tangguh Madiun
Dhapur Tilam Upih
Dalam tradisi Jawa, tilam upih bermakna tikar dari anyaman daun yang digunakan untuk tidur—sebuah simbol ketenteraman dalam rumah tangga. Karena itu, dhapur Tilam Upih menjadi salah satu pusaka keluarga yang paling sering diwariskan turun-temurun. Para sesepuh memberikan dhapur ini kepada anak-cucu yang menikah sebagai doa agar rumah tangga mereka senantiasa tenteram, mulia, dan berkecukupan. Tidak mengherankan jika Tilam Upih bahkan dikenal sebagai Ibu dari semua Keris (The Mother of Kris). Konon, Sunan Kalijaga pun menasihatkan kepada murid-muridnya bahwa keris pertama yang sebaiknya dimiliki adalah Tilam Upih, sebagai dasar pondasi spiritual dan moral dalam berumah tangga.
Pamor Ngulit Semangka
Disebut pamor ngulit semangka, karena pamor yang dibuat oleh sang Empu mirip sekali dengan corak pada kulit buah semangka. Dalam filosofi budaya Jawa, Keris dengan Pamor Ngulit Semangka ini dipercaya mempunyai tuah yakni mendatangkan rejeki yang berlimpah, membuat pemilik Keris dengan Pamor Ngulit Semangka ini menjadi orang yang lebih percaya diri (optimis), bijaksana dalam memutuskan suatu permasalahan (dinamis), dan pandai dalam pergaulan untuk menyesuaikan dengan segala keadaan (flexible).
Tangguh Madiun
Madiun tidak dapat dipandang sebelah mata dalam pembahasan dunia perkerisan. Sejarah Madiun adalah sejarah keris dan tosan aji. Hampir setiap peristiwa penting di wilayah ini berkaitan erat dengan pusaka senjata. Bahkan hingga kini, keris dijadikan ikon utama yang terpampang di tengah lambang Kabupaten Madiun—sebuah penegasan identitas budaya yang kuat.
Sebagaimana lazimnya sejarah keris di berbagai daerah, perkembangan keris Madiun sangat ditentukan oleh karakter masyarakat, situasi politik, dan peta kekuasaan pada masanya. Setelah runtuhnya Pajang sebagai kelanjutan Demak, Mataram yang masih muda muncul sebagai ancaman bagi kerajaan-kerajaan kecil dan kadipaten di Jawa Timur, termasuk Madiun yang enggan berada di bawah kekuasaan Mataram. Kondisi ini mendorong Madiun untuk memperkuat diri, salah satunya dengan memproduksi sebanyak mungkin senjata—keris dan tombak—demi mempertahankan kedaulatan. Keris-keris Madiun pun lahir sesuai tuntutan zaman yang penuh pergolakan, sehingga aspek keindahan garap kerap dikesampingkan.
Tak sedikit pihak yang mencibir keris Madiun karena bentuknya dianggap wagu, menyimpang dari pakem umum, serta jarang dijumpai dalam kemewahan kinatah emas. Kalaupun ada, detail ukirannya sering kali tampak kasar, dengan batas emas yang tidak rapi. Namun di balik kesederhanaan itu, justru tersimpan perbawa yang kuat. Dalam bahasa esoteri perkerisan, banyak keris Madiun memancarkan kesan nggegirisi dan angker—sebuah watak batin yang dipercaya menjadi keunggulan utama keris-keris tangguh Madiun.
Tak mengherankan bila sejarah Madiun begitu erat dengan pusaka-pusaka yang diyakini sangat bertuah. Bahkan Panembahan Senopati dari Mataram pernah mengalami dua kali kegagalan dalam upaya menundukkan Purubaya (Madiun) pada tahun 1587 dan 1589. Kegagalan ini secara turun-temurun diyakini berkaitan dengan keampuhan sebilah keris pusaka legendaris, Kanjeng Kiai Kala Gumarang. Hingga akhirnya, melalui taktik “pura-pura takluk”, ekspansi Mataram berhasil dijalankan. Konon, sebagai penanda peristiwa tersebut, sejak 16 November 1950 nama Purubaya resmi diubah menjadi Mbediyun atau Madiun.
Keris Tilam Upih Tangguh Madiun
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 965 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sinom Robyong Kinatah Emas Keris Sinom Robyong adalah salah satu pusaka yang sarat makna, terutama dalam kaitannya dengan harapan, pertumbuhan, dan keseimbangan hidup. Nama sinom berasal dari kata “enom” atau “muda,” yang melambangkan semangat baru, kesegaran, dan permulaan yang dipenuhi harapan. Sementara itu, robyong berarti “berkembang,” “menyebar,” atau “memenuhi ruang,” layaknya tunas muda yang… selengkapnya
Rp 45.900.000Keris Karno Tinanding Luk 17 Bali Sepuh Keris Pusaka Karno Tinanding merupakan salah satu dhapur yang tergolong langka sekaligus unik dalam khazanah perkerisan Nusantara. Keunikan pusaka ini terletak pada ricikannya yang berbeda dari kebanyakan keris. Ia memiliki sekar kacang kembar di kedua sisinya, dihiasi dengan jalen, lambe gajah, dan jenggot yang menghias pada keduanya, menjadikan… selengkapnya
Rp 55.000.000Dhapur Sempaner SEMPANA BENER, ada yang menyebutnya dengan nama sempaner, adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan biasanya permukaan bilahnya nglimpa. Sempaner mempunyai ricikan sebagai berikut; kembang kacang, jalen, lambe gajah, tikel alis dan ri pandan. Menurut mitos atau dongeng Dhapur Sempaner dibabar oleh Mpu Ciptagati pada masa pemerintahan Nata… selengkapnya
Rp 5.000.000Keris Kebo Dhungkul Dwi Pamor Dhapur Kebo Dhungkul merupakan salah satu bentuk bilah yang sarat simbol keteguhan dan ketahanan. Sosoknya sederhana, cenderung membulat dan merunduk, melambangkan watak rendah hati, kuat menanggung beban, serta kesabaran dalam menjalani laku kehidupan. Dalam tradisi tosan aji, dhapur ini kerap dimaknai sebagai pusaka penyangga hidup—diam, namun bekerja tanpa henti. Keistimewaan… selengkapnya
Rp 2.500.000Keris Tilam Sari Pamor Sumur Sineba Menurut cerita pitutur lisan, salah satu wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih kemudian pasangannya adalah Tilam Sari. Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka,… selengkapnya
Rp 4.000.000Dhapur Sinom Sinom adalah salah satu dhapur keris lurus dengan ricikan antara lain sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, pejetan, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Sinom, dalam arti harfiah, merujuk pada daun pohon asem yang masih muda atau pada rambut halus di dahi—bathuk dalam bahasa Jawa—yang lembut dan tipis. Dari sifat alamiahnya, sinom melambangkan kelembutan,… selengkapnya
Rp 3.000.000Keris Mangkurat Pamor Pedaringan Kebak Dhapur Mangkurat pada sebuah keris merupakan simbol sosok pemimpin yang memikul amanah besar. Kata Mangkurat atau Amangkurat secara harfiah berasal dari “amangku” (memangku atau mengemban) dan “rat” (bumi atau negara), sehingga berarti pemangku negara, pengemban bumi, atau pihak yang menanggung tanggung jawab terhadap kehidupan banyak orang. Filosofi ini menggambarkan seorang… selengkapnya
Rp 4.000.000Keris Sepokal Luk 7 Mataram Amangkurat Siapa yang tak kenal pohon pisang? Tanaman sederhana yang tumbuh di mana-mana, namun penuh makna kehidupan. Dari akar hingga daun, dari batang hingga buahnya — semua memberi manfaat, tak ada yang sia-sia darinya. Dari pohon inilah para empu leluhur kita mengambil ilham, lalu menurunkannya dalam wujud pusaka yang disebut… selengkapnya
Rp 4.000.000Keris Naga Liman Kinatah Emas NAGA LIMAN, adalah salah satu bentuk dhapur keris, dimana bagian gandik keris diukir dengan bentuk kepala gajah, lengkap dengan belalainya (kadang dibuat sangat detail lengkap dengan bagian gading dan telinga) tetapi tanpa badan sang gajah itu sendiri karena badan naga liman merupakan perwujudan dari sosok ular (biasanya dibuat tersamar mirip… selengkapnya
Rp 37.000.000
























Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.