Beranda » Keris » Keris Sambada Luk 3 Pamor Ron Genduru
click image to preview activate zoom

Keris Sambada Luk 3 Pamor Ron Genduru

Rp 15.000.000
KodeP185
Stok Tersedia (1)
Kategori Keris, Sambada
Jenis : Keris Luk 3
Dhapur Sambada
Pamor Ron Genduru
Tangguh Blambangan
Warangka : Gayaman Yogyakarta, Bahan Kayu Timoho
Deder/Handle : Banaran, Bahan Kayu Kemuning Bang
Mendak : Widengan Bahan Kuningan
Pendok : Bunton Slorok Kemalo Merah Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Bagikan ke

Keris Sambada Luk 3 Pamor Ron Genduru

Keris Sambada Luk 3 Pamor Ron Genduru

“Ora saben pusaka kudu muni, nanging yen wis tumarima, atimu bakal krasa gumrenggah.”

Sebuah ungkapan sederhana yang mengandung kedalaman rasa. Ada pusaka-pusaka yang tidak perlu bersuara, namun kehadirannya saja sudah mampu menggetarkan batin. Begitu pula pusaka ini—tidak hanya mencolok secara visual, tetapi juga memancarkan wibawa yang halus sekaligus kuat.

Warangkanya menggunakan gaya gayaman Yogyakarta, dipahat dari kayu timoho pilihan—kayu yang telah lama menjadi kebanggaan para penggemar tosan aji karena corak serat alaminya yang indah, mriyayeni, dan menghadirkan nuansa leluhur yang kental. Pada warangka ini tampak motif pelet nyeret, guratan-guratan halus menyerupai marmer alami yang menegaskan keanggunannya.

Busana pusaka tersebut dilengkapi pendok bunton slorok kemalo merah. Warna merah kemalo bukan sembarang hiasan, tetapi sebuah penanda tatanan sosial. Pada masa lalu, terutama di lingkungan keraton, pendok kemalo merah hanya dikenakan oleh raja, kerabat dalem, pangeran, dan kaum bangsawan. Warna hijau diperuntukkan bagi abdi dalem berpangkat bupati, penewu, dan mantri; warna coklat bagi bekel; sedangkan kemalo hitam dikenakan oleh abdi dalem biasa serta rakyat jelata. Dengan demikian, busana pusaka ini tidak hanya menampilkan estetika, tetapi juga merekam jejak struktur sosial masa lampau.

Bilahan keris ini menghadirkan kombinasi langka: dhapur Sambada dengan pamor Ron Genduru Sinebit. Dapur Sambada, salah satu pakem luk 3, ditandai ricikan seperti sekar kacang pogog, jalen, lambe gajah satu, dan greneng yang memperkuat karakter estetika sekaligus filosofi yang dikandungnya. Kata sambada sendiri berarti “cukup” atau “terpenuhi”, sebuah doa agar pemiliknya hidup dalam kecukupan, keseimbangan, dan kebijaksanaan—tidak berlebihan namun tidak berkekurangan.

Kesederhanaan bentuknya justru menghadirkan keanggunan yang tenang. Ia seolah mengajarkan bahwa kemuliaan tidak harus dipamerkan; sering kali ia tersembunyi dalam keteduhan sikap dan ketulusan hati. Dalam ranah kepemimpinan, dhapur Sambada melambangkan pemimpin yang adil, bijaksana, dan membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Pamor Ron Genduru Sinebit menambah nilai keistimewaan bilah ini. Terinspirasi dari bentuk daun pakis—simbol ketahanan, pertumbuhan, dan keindahan alami—pamor ini merupakan pamor rekan yang hanya dapat ditempa oleh empu berkemampuan tinggi. Kata sinebit, yang berarti “ditutupi sebagian”, mengisyaratkan bahwa sebagian kekuatan tidak perlu ditampakkan secara terang-terangan. Ia melambangkan pribadi yang memiliki potensi besar, namun tetap rendah hati dan penuh kebijaksanaan. Dalam bahasa esoteris, pamor ini diyakini menjadi doa perlindungan dari bahaya-bahaya tak kasat mata dan pengaruh negatif yang tersembunyi.

Tekstur pamornya tampak ngawat, pandes, dan terasa landep ketika diraba—sebuah ciri kuat keris-keris Tangguh Blambangan yang kokoh dan berkarakter.

Keris ini memikul narasi panjang dari masa ketika Kerajaan Blambangan berdiri sebagai kekuatan mandiri setelah runtuhnya Majapahit pada 1527. Selama berabad-abad Blambangan menjadi perebutan kekuasaan antara Demak, Mataram, serta kerajaan-kerajaan Bali seperti Gelgel, Buleleng, hingga Mengwi. Konflik yang berkepanjangan menimbulkan pemberontakan besar antara tahun 1655–1697 dan memaksa istana berpindah-pindah: dari Kedawung, Bayu, Macanputih, Kutalateng, hingga akhirnya bermuara di Banyuwangi pada 1774.

Di tengah badai politik dan militer itulah para empu Blambangan seperti Ki Mendung, Ki Tembarok, Ki Supagati, hingga Pangeran Pitrang mencipta pusaka-pusaka yang tidak hanya menjadi senjata, tetapi juga simbol martabat, spiritualitas, dan identitas masyarakat Blambangan. Keris-keris mereka terkenal tangguh, dengan pamor miring khas yang menjadi ciri seni tempa kawasan ujung timur Jawa.

Pusaka ini adalah salah satu saksi bisu perjalanan itu. Dalam bentuknya yang elok tersimpan keteguhan, dalam pamornya tersimpan falsafah hidup, dan dalam sejarahnya tersimpan napas panjang perjuangan.

P185

Keris Sambada Luk 3 Pamor Ron Genduru

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 29 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Produk Terkait