● online
- Keris Pandhawa Prasaja Pengawak Waja
- Keris Sabuk Inten Kinatah Gajah Singa
- Keris Naga Sapta Kinatah Emas Sepuh
- Keris Brojol Tangguh Madura Empu Koso
- Keris Brojol Pamor Kendit Cirebon Sepuh
- Keris Carang Soka Pamor Lintang Kemukus
- Keris Naga Liman Kinatah Emas
- Keris Singa Sangu Tumpeng Kinatah Emas HB V
Keris Sepokal Luk 7 Mataram Amangkurat
Rp 4.000.000| Kode | P129 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Keris, Sepokal |
| Jenis | : Keris Luk 7 |
| Dhapur | : Sepokal |
| Pamor | : Kulit Semangka |
| Tangguh | : Mataram Amangkurat |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Kayu Trembalo Kuno |
Keris Sepokal Luk 7 Mataram Amangkurat
Keris Sepokal Luk 7 Mataram Amangkurat
Siapa yang tak kenal pohon pisang? Tanaman sederhana yang tumbuh di mana-mana, namun penuh makna kehidupan. Dari akar hingga daun, dari batang hingga buahnya — semua memberi manfaat, tak ada yang sia-sia darinya. Dari pohon inilah para empu leluhur kita mengambil ilham, lalu menurunkannya dalam wujud pusaka yang disebut dhapur Sepokal.
Sepokal berarti anak pohon pisang, tunas muda yang tumbuh di samping induknya. Ia menjadi lambang kehidupan baru, pertumbuhan, dan semangat untuk menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Dhapur Sepokal mengingatkan kita bahwa hidup bukan sekadar tentang diri sendiri, tetapi bagaimana diri ini memberi arti bagi kehidupan di sekitarnya. Seperti tunas pisang yang tumbuh berdampingan dengan induknya, keris Sepokal mengajarkan makna kebersamaan, kesederhanaan, dan ketulusan dalam memberi manfaat.
Keris Sepokal merupakan salah satu dhapur luk 7, dengan ricikan seperti gandik lugas, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, dan kepet. Luk tujuh, yang dalam tradisi Jawa disebut pitu, tidak sekadar angka. Dalam jarwo dosok, pitu berarti pitutur, piwulang, lan pitulungan — ajaran, tuntunan, dan pertolongan bagi manusia dalam menempuh jalan hidup. Luk tujuh melambangkan jalan hidup yang penuh tuntunan agar manusia tidak tersesat, dan sekaligus menjadi simbol ketentraman, kebahagiaan, kewibawaan, dan kesuksesan.
Angka tujuh juga menembus berbagai aspek kehidupan: tujuh lapisan langit, tujuh hari dalam sepekan, tujuh bulan dalam kandungan, hingga tujuh hari setelah kematian ketika arwah dikenang dalam doa keluarga. Maka, bilah Sepokal yang berluk tujuh ini bukan sekadar pusaka; ia adalah pitutur kehidupan, agar manusia bertumbuh dengan budi, berjalan dengan tuntunan, dan hidupnya menjadi berkah bagi orang lain. Ia mengajarkan bahwa setiap tunas kehidupan mengandung pelajaran: pitutur yang menuntun, piwulang yang mendewasakan, dan pitulungan yang membawa manusia kembali pada kesejatian dirinya. Pada akhirnya, semua ini mengajarkan satu hal hakiki: “Urip aja mung urip, nanging kudu migunani tumrap liyan.” — hidup jangan hanya sekadar hidup, tetapi hidup yang memberi kehidupan bagi orang lain.
Pusaka Sepokal luk 7 ini berpamor Kulit Semangka, salah satu jenis pamor yang sering ditemui, baik pada bilah keris maupun tombak. Pola pamor ini menyerupai kulit buah semangka, dengan garis-garis abstrak yang mengalir di sepanjang bilah, menghadirkan kesan keluwesan dan keseimbangan, seolah bilah itu bernafas bersama pemiliknya. Secara simbolis, pamor Kulit Semangka mengajarkan tentang keluwesan dalam kehidupan sosial: menempatkan diri dalam pergaulan, menjaga hubungan dengan sesama, dan menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitas. Garis-garis abstrak ini juga dapat diartikan sebagai aliran energi, menuntun pemilik keris agar selaras dalam tindakan dan perkataan, sehingga bilah menjadi cermin budi dan laku manusia.
Meski tampak sederhana, pusaka ini memancarkan aura tegas, galak, dan berwibawa, bahkan bagi sebagian orang tampak angker, menuntut rasa hormat dari siapa pun yang mendekatinya. Hal ini juga dapat dipahami sebagai refleksi kondisi politik Mataram pada abad ke-17, ketika Amangkurat I dan II memimpin kerajaan. Mataram saat itu berlandaskan prinsip keislaman dengan pengaruh budaya dan administrasi dari Timur Tengah. Masa kepemimpinan Amangkurat diwarnai berbagai tantangan, termasuk konflik internal seperti pemberontakan Trunajaya (1674–1677), serta tekanan Belanda melalui VOC.
Amangkurat, keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan, mewarisi struktur pemerintahan sejak awal berdirinya Mataram, termasuk sistem administrasi, jaringan diplomasi, dan struktur militer. Di bawah pemerintahannya, Mataram berupaya memperluas wilayah melalui kombinasi diplomasi dan intervensi militer, sekaligus mempertahankan stabilitas internal meski menghadapi tekanan eksternal. Pusaka Sepokal, dengan aura tegasnya, dapat dipahami sebagai simbol karakter kepemimpinan Amangkurat: tegas dan berhati-hati menghadapi tantangan politik dan sosial, namun tetap sarat filosofi kehidupan dan ajaran luhur bagi manusia.
P129
Keris Sepokal Luk 7 Mataram Amangkurat
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 2.924 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Brojol Pamor Udan Mas Sepuh Sebilah keris lurus berdhapur Brojol ini menghadirkan kesederhanaan bentuk yang menyimpan kedalaman makna. Keistimewaannya terletak pada pamor Udan Mas, pamor klasik yang sejak lama dipandang sebagai salah satu simbol kemakmuran paling luhur dalam tradisi perkerisan Nusantara. Pamor Udan Mas kerap disalahpahami sebagai pamor yang menjanjikan kekayaan secara instan. Padahal,… selengkapnya
Rp 15.000.000Keris Kyai Bagong Astrajingga Kamardikan Kontemporer Keris ini bukan termasuk Pusaka sepuh, ia adalah Pusaka Kamardikan dengan gaya kontemporer. Kami pesan khusus kepada salah seorang Empu dengan ornamen yang berupa sosok Bagong. Bagong adalah tokoh punakawan dalam cerita pewayangan. Ia melambangkan kritik sosial dan kecerdasan yang dibalut kepolosan. Ornamen Bagong pada keris mengajarkan bahwa kebenaran… selengkapnya
Rp 7.200.000Keris Kelap Lintah Pamor Singkir Dhapur Kelap Lintah merupakan salah satu dhapur keris lurus yang dikenal dengan sosok bilahnya yang ramping, luwes, dan berkesan hidup. Nama kelap dan lintah sendiri mengandung makna kelincahan serta daya lekat—melambangkan kemampuan beradaptasi, ketahanan dalam menghadapi tekanan, dan kecerdikan dalam menyiasati keadaan. Dhapur ini kerap dimaknai sebagai pusaka yang bekerja… selengkapnya
Rp 2.000.000Dhapur Singa Sangu Tumpeng Singa Sangu Tumpeng merupakan salah satu dhapur keris yang cukup langka. Ia termasuk jenis dhapur ganan yang banyak dicari oleh para pecinta tosan aji. Secara ricikan, dhapur Singa Sangu Tumpeng itu memiliki ciri khas yang sangat mudah ditengarai yakni ornaman singa lar atau singa bersayap pada gandiknya, lalu untuk ricikan lainnya… selengkapnya
Rp 65.000.000Keris Naga Penganten Kinatah Emas Naga Penganten secara harfiah berarti sepasang pengantin naga. Naga kembar pada sor-soran ibarat pasangan mempelai pria dan wanita. Di Indonesia, salah satu daerah yang punya prosesi pernikahan panjang adalah Jawa. Pengantin dalam pandangan orang Jawa adalah Raja dan Ratu sehari. Kelengkapann busana raja pada motif naga pengantin dapat diintrepetasikan bahwa… selengkapnya
Rp 50.000.000Keris Sinom Robyong Kinatah Emas Keris Sinom Robyong adalah salah satu pusaka yang sarat makna, terutama dalam kaitannya dengan harapan, pertumbuhan, dan keseimbangan hidup. Nama sinom berasal dari kata “enom” atau “muda,” yang melambangkan semangat baru, kesegaran, dan permulaan yang dipenuhi harapan. Sementara itu, robyong berarti “berkembang,” “menyebar,” atau “memenuhi ruang,” layaknya tunas muda yang… selengkapnya
Rp 45.900.000Keris Paksi Naga Liman Kinatah Emas Secara prejengan-nya, pusaka ini tampil dengan kemegahan yang sulit diabaikan. Indah, anggun, dan seolah memancarkan kesempurnaan dari setiap sisinya. Mulai dari material besi dan pamornya yang luar biasa, pasikutannya yang gagah, hingga ornamen tinatah emas yang menegaskan kewibawaannya. Motif pamor Uler Lulut yang menjalar di sepanjang bilah tampak hidup… selengkapnya
Rp 100.000.000Keris Murma Malela Mataram Amangkurat Nama Murma Malela sendiri berasal dari dua kata Jawa kuno: murma yang berarti tenang, sabar, dan pasrah, serta malela yang berarti berani, teguh, dan tidak gentar. Maka, filosofi dari Murma Malela adalah keteguhan dalam ketenangan — keberanian yang tidak lahir dari amarah, melainkan dari keyakinan. Ia menjadi simbol pribadi yang… selengkapnya
Rp 3.700.000
















Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.