Beranda » Keris » Keris Sinom Sekar Kacang Nggelung Wayang
click image to preview activate zoom

Keris Sinom Sekar Kacang Nggelung Wayang

Rp 2.500.000
KodeP186
Stok Tersedia (1)
Kategori Keris, Sinom
Jenis : Keris Lurus
Dhapur Sinom
Pamor Kulit Semangka
Tangguh Madiun
Warangka : Gayaman Surakarta, Bahan Kayu Kemuning
Deder/Handle : Yudawinatan, Bahan Kayu Sono
Mendak : Parijata Bahan Kuningan
Pendok : Blewah Bahan Kuningan Motif Lung-lungan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Bagikan ke

Keris Sinom Sekar Kacang Nggelung Wayang

Dhapur Sinom

Sinom adalah salah satu dhapur keris lurus dengan ricikan antara lain sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, pejetan, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng.

Sinom, dalam arti harfiah, merujuk pada daun pohon asem yang masih muda atau pada rambut halus di dahi—bathuk dalam bahasa Jawa—yang lembut dan tipis. Dari sifat alamiahnya, sinom melambangkan kelembutan, kesopanan, dan keteduhan. Ia mencitrakan karakter yang enom, muda, dan segar, layaknya seorang anak yang baru mulai mengenal dunia dan belajar menempatkan diri.

Dalam konteks sosial, nilai sinom mengajarkan bahwa dalam berinteraksi dengan sesama, seseorang idealnya menjaga intonasi suara yang lembut, ramah, murah senyum, dan menghargai lawan bicara. Tidak hanya fasih bertutur kata, tetapi juga mampu mendengarkan dengan empati. Sikap demikian membuat kehadiran seseorang terasa nyaman dan menyejukkan, hingga orang yang diajak berinteraksi dapat merasa kesengsem—terkesima oleh kelembutan dan budi pekertinya.

Lebih jauh, sinom juga menjadi simbol jiwa muda: semangat yang segar, optimis, terbuka, dan penuh rasa ingin tahu. Ia menggambarkan energi yang memancar dari seseorang yang tetap berpikiran hangat dan mudah beradaptasi, apa pun usia biologisnya. Jiwa muda bukan hanya soal umur, tetapi tentang kemampuan menjaga hati tetap ringan, pikiran tetap lentur, dan sikap tetap bersahaja dalam menjalani hidup.

Dengan demikian, sinom mencerminkan perpaduan antara kelembutan budi, kesantunan dalam bertutur, serta semangat muda yang memberi warna pada perjalanan hidup manusia.

Sekar Kacang Nggelung Wayang

Sekar Kacang model Nggelung Wayang dinamai demikian karena bentuk ricikannya menyerupai gelung wayang. Gelung wayang sendiri merupakan bagian dari pengetahuan seni kriya Wayang—baik Wayang Kulit Purwa, Wayang Orang, Wayang Golek Purwa, maupun beberapa jenis wayang lainnya—yang meniru bentuk stilir dari gelung rambut, konde, atau sanggul.

Dalam dunia seni kriya wayang, terdapat sekitar sepuluh macam gelung wayang, masing-masing memiliki karakteristik dan makna tersendiri. Motif Nggelung Wayang pada sekar kacang keris meniru lengkungan halus dan memutar dari gelung tersebut, sehingga setiap ukiran seolah bergerak hidup mengikuti ritme estetika wayang. Keanggunan motif ini tidak sekadar memperindah bilah, tetapi juga memancarkan filosofi: ketelitian, kesabaran, keharmonisan, dan keseimbangan—nilai-nilai yang sama pentingnya dalam laku batin maupun dalam seni pertunjukan wayang.

Dengan demikian, ricikan Sekar Kacang Nggelung Wayang menjadi simbol keanggunan spiritual, ketepatan, dan keharmonisan, sekaligus pengingat akan keterkaitan pusaka dengan tradisi seni dan budaya Jawa yang kaya makna.

Pamor Ngulit Semangka

Disebut pamor ngulit semangka, karena pamor yang dibuat oleh sang Empu mirip sekali dengan corak pada kulit buah semangka. Dalam filosofi budaya Jawa, Keris dengan Pamor Ngulit Semangka ini dipercaya mempunyai tuah yakni mendatangkan rejeki yang berlimpah, membuat pemilik Keris dengan Pamor Ngulit Semangka ini menjadi orang yang lebih percaya diri (optimis), bijaksana dalam memutuskan suatu permasalahan (dinamis), dan pandai dalam pergaulan untuk menyesuaikan dengan segala keadaan (flexible).

Tangguh Madiun

Madiun tak bisa dipisahkan dari sejarah tosan aji. Hampir setiap peristiwa penting di daerah ini selalu berkaitan dengan keris, bahkan lambang kotanya memakai ikon keris di tengah. Setelah runtuhnya Pajang, Madiun yang enggan tunduk pada Mataram memperkuat diri dengan membuat banyak senjata, termasuk keris dan tombak. Karena dibuat di masa perang, keris Madiun lebih menonjolkan kekuatan ketimbang keindahan.

Bentuknya sering dianggap wagu dan sederhana, namun memiliki aura yang kuat dan angker. Dikenal pula bahwa Madiun pernah dua kali menggagalkan serangan Panembahan Senopati berkat pusaka Kanjeng Kiai Kala Gumarang. Akhirnya, lewat siasat pura-pura takluk, Mataram berhasil menguasai wilayah ini yang kemudian dikenal sebagai Madiun sejak 16 November 1950.

Namun anggapan bahwa semua keris Madiun berwujud sederhana dibantah oleh para empu lokal. Pada abad ke-19, Desa Sewulan di Madiun Selatan dikenal menghasilkan keris-keris berkualitas tinggi. Desa ini diyakini sebagai tanah perdikan peninggalan Majapahit dan tempat tinggal Empu Suro dari Demak, leluhur para pembuat keris Madiun. Masa keemasan Empu Sewulan terjadi di era Bupati Kusnodiningrat (1900–1929), ketika setiap lurah di Madiun mendapat hadiah sebilah keris. Sayangnya, sejak 1970-an, tradisi itu memudar dan para keturunan empu beralih menjadi pande besi.

P186

Keris Sinom Sekar Kacang Nggelung Wayang

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 67 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Produk Terkait